Di Bali, Ritual Nyapuleger bagi kelahiran Wuku Wayang membutuhkan biaya yang tidak sedikit, karena wajib diruwat dengan Wayang Sapuleger.
Namun, tidak usah khawatir, sebab umat Hindu yang lahir di Wuku Wayang bisa menjalani ritual nyapuleger yang disesuaikan dengan hari kelahiran pada Wuku Wayang.
Baik itu lahir pada Redite (Minggu) hingga Saniscara (Sabtu) Wuku Wayang.
Proses Nyapuleger ini bisa dilakukan di Pura Pemaksan Siwa Manik Dalang. Pura ini berlokasi di Desa Pemaron, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, Bali.
Setiap Wuku Wayang, pemedek yang hendak ikut ritual nyapuleger bisa mengikutinya dengan khusyuk di Pura Siwa Manik Dalang.
Bahkan, pemedek yang tangkil bukan hanya melaksanakan upacara Nyapuleger.
Tetapi juga ada yang melaksanakan upacara melukat di depan paduraksa yang merupakan batas antara Utama Mandala dengan Madya Mandala.
Usianya pun beragam. Mulai dari anak-anak balita hingga para lansia.
Sekertaris Pura Pemaksan Siwa Manik Dalang, Nyoman Sudiarta menjelaskan Pura Pemaksan Siwa Manik Dalang hanya satu-satunya ada di Bali.
Ada empat pelinggih di areal Jeroan atau Utama Mandala.
Yakni Pelinggih Dewa Bagus Manik Dalang, Dewa Ayu Manik Mas Anglayang, Pelinggih Taksu Agung atau Taksu Gede/Taksu Bagus Semar untuk memohon seni Pedalangan dan Pelinggih Padmasana.
Sedangkan di areal jaba (nista mandala) hanya ada Pelinggih Penglurah Patih Agung.
Bila ditelisik, di Pelinggih Dewa Bagus Manik Dalang ini terdapat wayang kulit yakni Tualen (Ismaya) dan Bhatara Guru (Siwa). Wayang Kulit yang dipajang itu merupakan persembahan dari Jro Dalang.
Pria asal Mengwi, Badung ini menyebut pemedek yang nangkil memang tidak hanya bertujuan untuk sembahyang.
Tetapi juga untuk melukat bagi yang terlahir di Wuku Wayang. Namun, ada pula yang bertujuan menggelar ritual Nyapu Leger, khususnya bagi pemedek yang usianya sudah menginjak 13 tahun ke atas.
Khusus yang berminat Nyapu Leger, mereka memang wajib usia minimal 13 tahun. Karena pertimbangannya juga sudah beranjak remaja atau akil balig.
Aturan usia ini berlaku baik bagi pria dan wanita.
“Kalau lebih (di atas usia 13 tahun, Red) boleh. Mereka itu datang dari berbagai wilayah di Bali,” katanya.
Selain mengatur soal usia minimal, pemedek yang hendak mengikuti ritual Nyapu Leger harus medaftar terlebih dahulu.
Minimal enam bulan sebelum dilaksanakan. Bahkan, bisa mendaftar langsung saat Pujawali pada Wuku Wayang. Kemudian Nyapu Leger akan dilaksanakan enam bulan kedepan.
“Nanti masalah pelaksanaannya sesuai dengan harinya. Kalau hari minggu lahirnya, maka pelaksanannya Nyapu Leger hari Minggu. Begitu juga kalau lahir hari Senin hingga sabtu, maka dilaksanakan berdasarkan atas hari kelahirannya,” sebutnya.
Jumlah pemedek yang mengikuti upacara Nyapu Leger pun tidak tentu.
Kadang-kadang pada hari Minggu bisa dua orang, Senin tiga orang, begitu seterusnya sampai Sabtu. Tentu biaya yang dikeluarkan bisa beragam. Bergantung jumlah pemedek.
Dikatakan Sudiarta, setiap sekali Nyapu Leger bisa membutuhkan biaya Rp 15 juta.
Prajuru pun melakukan subdisi silang dalam pelaksanaannya ini. Sehingga bisa meringankan pemedek dalam melakukan upacara Nyapu Leger.
“Semisal, kalau Rp 15 juta dikali 7 hari atau awuku Wayang. Setelah dikalkulasi, barulah biaya total dibagi jumlah peserta yang Nyapu Leger selama 7 hari di wuku Wayang. Makanya biayanya per orang bisa mencapai Rp 6 jutaan. Nah kalaupun satu hari hanya satu orang pesertanya, maka sudah pasti akan tetap berjalan. Karena memang sudah berlaku subsidi silang,” paparnya.
Ia menyebutkan, kelahiran di Wuku Wayang dalam berbagai sastra seperti Kala Purana, Puja Kala Tattwa disarankan untuk meruwat dengan upacara Nyapu Leger.
Sehingga orang yang terlahir pada wuku wayang mendapatkan kehidupan yang lebih baik, dari sisi kesehatan, rejeki, hingga usia.
“Biasanya orang menggelar Nyapu Leger secara mandiri, hanya saja biayanya memang lumayan besar. Tetapi, kami sudah memberikan solusi, untuk menekan biaya itu, lewat upacara di Pura Pemaksan Siwa Manik Dalang,” sebutnya. (dik)