Dari berbagai sumber disebutkan jika Pura Wayah Dalem Majapahit, pura ini sudah ada sekitar tahun 1273 caka. Walaupun dulunya hanya ada satu buah bebaturan, namun bila dikaitkan dengan sebuah lontar Bali yang dimuat oleh Mpu Kuturan.
Dalam lontar itu yang menyatakan “Sira Mpu Kuturan, ingaranan Mpu Raja Kreta Mahyunta Anggawe Parahyangan Kabeh, sane kagawe wit Majapahit, kaunggullan ring Bali kabeh”.
Terjemahannya: Adalah Mpu Kuturan bergelar Mpu Raja Kreta, beliau membuat parahyangan (tempat leluhur) semua orang di Bali yang di bawanya dari Majapahit, dibangun atau diterapkan diseluruh Bali. Dari lontar tersebut kita dapat menyimak bahwa Bali adalah bagian dari Majapahit.
Dengan diangkatnya Hayam Wuruk yang bergelar Rajasanegara sebagai raja Majapahit (1350-1389), maka keadaan di Bali juga mengalami mengalami perubahan.
Atas usul Mangkubumi Majapahit, yaitu Patih Gajah Mada, maka Dalem Ketut Shri Kresna Kepakisan (putra ke-4 dari Mpu Kepakisan, guru dari Gajah Mada) diangkat menjadi Adipati di Bali.
Tujuannya adalah untuk mengisi kekosongan pemerintahan di Bali dan mampu membersatukan rakyat Bali. Dengan keratonnya di Samprangan yang kemudian melahirkan Dinasti Dalem.
Setelah Bali berhasil dtaklukkan oleh Kerajaan Majapahit di bawah pimpinan Mahapatih Gajah Mada dan Dalem Ketut Shri Kresna Kepakisan.
Baca Juga: Memohon Keturunan, Pemedek bisa Nunas Wangsuhan Batu Mekocok di Pura Watu Klotok
Setelah di angkat menjadi Adipati Majapahit di Bali, Dalem Ketut Shri Kresna Kepakisan datang ke Nusa lembongan untuk melaksanakan meditasi atau tapa yoga semedi di daerah Ceningan.
Ketika Dalem Ketut Shri Kresna Kepakisan melakukan meditasi. Dalam meditasi itu Dalem Ketut Shri Kresna Kepakisan mendapatkan wahyu dari Sang Hyang Pasupati.
Wahyu tersebut berupa perintah untuk membangun atau mendirikan kahyangan suci yang diperkirakan pembangunannya pada tahun 1273-1274 caka.
Pemangku Pura Wayah Dalem Majapahit Jro Mangku Ketut Sudiarta menjelaskan di Pura ini di puja Sang Hyang Pasupati Hyang Siwa Budha, Hyang Gana Pati.
Ada juga pelinggih Ratu Rambut Sedana, Ratu Ayu Mas Melanting, Ratu Hyang Baruna, Dewi Kwam Im, Ratu Mas Subandar, Rakyana Gajah Mada dan Bedawang Muka Geni (Naga Merah).
Gedong Siwa Budha ini sangat unik dimana merupakan tempat dari Arca Maha Patih Gajah Mada yang menggambarkan bagaimana perjalanan dari Majapahit dalam usahannya untuk menyatukan nusantara.
Sedangkan pada bagian atas atau atap dari pelinggih tersebut terdapat candi-candi kecil berupa Candi Meru.
Tata tetak dari Candi Meru ini menggunakan konsep dewata nawa sanga yang dilapisi oleh unsur-unsur Hindu-Budhanya, serta kelengkapan unsur bangunan dari pelinggih ini juga menggambarkan kesatuan konsep mandala dalam Agama Hindu.
Baca Juga: Misteri Batu Mekocok di Pura Watu Klotok, Ada Penyu Muncul Seratus Tahun Sekali
Selain itu juga terdapat Pelinggih Budha dan Dewi Kwan Im yang merupakan tempat penyimpanan dari patung Dewi Kwan Im dan dipercaya sebagai dewi welas asih.
Namun dalam pembangunan kahyangan suci tersebut hanya terdapat satu buah bebaturan (Pelinggih) yang dulunya masyarakat setempat menyebutnya dengan nama Sanggah Karang.
Setiap masyarakat setempat pun nunas bawos atau menerawang pada dukun atau bahasa Balinya Balian, dan selalu disebutkan bahwa pura ini adalah Dalem Majapahit.
“Sehingga, setelah kami gabung dengan sebutan sebelumnya oleh krama setempat, yakni Pelinggih Karang atau Pura Wayah maka kini menjadi Pura Wayah Dalem Majapahit,” paparnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika