Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Kisah Kemunculan Keris Pasupati di Pura Siwa Budha dibangun, Bisa Memohon Tamba

I Putu Mardika • Jumat, 5 Juli 2024 | 12:01 WIB

Pura Siwa Budha di Desa Adat Kembang Merta, Baturiti, Tabanan yang muncul setelah ditemukannya keris pusaka Pasupati
Pura Siwa Budha di Desa Adat Kembang Merta, Baturiti, Tabanan yang muncul setelah ditemukannya keris pusaka Pasupati
BALIEXPRESS.ID-Kawasan Desa Adat Kembang Merta Kecamatan Baturiti, Tabanan, Bali tidak hanya memiliki Pura Puncak Sangkur saja.

Tetapi juga ada pura Siwa Budha di kawasan ini yang dibangun sejak Tahun 2008 silam. Uniknya, di pura ini sempat muncul pusaka Keris Pasupati.

Pura Siwa Budha terletak di Desa Adat Kembang Merta, Kecamatan Baturiti, Tabanan.

Kawasan ini sebelum dibangun pura adalah areal hutan yang masih terjaga kelestariannya.

Karena berada di areal hutan dan jauh dari permukiman warga, Pura Siwa Budha ini sangatlah tenang dan hening. Suara burung berkicau menambah kekusyukan pemedek yang nangkil.

Pura ini ditandai dengan patung Budha dan Dewi Kwan Im di bagian depan pura.

Kemudian ada tiga pelinggih seperti Pelinggih Padmasana, Pelinggih Siwa dan Pelinggih Budha. Di areal depan pura juga terdapat telaga yang berisi air jernih.

Baca Juga: Ada Tujuh Petirtan untuk Melukat, Bisa memohon Awet Muda hingga Keturunan, Begini Kisah Pura Meru Narmada di Lombok

Pemangku Pura Siwa Budha Jero Mangku Dharma mengatakan Pura Siwa Budha memang tergolong pura yang baru.

Pendirian pura ini tidak terlepas dari munculnya secara mistis pusaka berupa keris pada bulan Juli tahun 2008.

“Pusaka keris ini ditemukan langsung oleh warga kami. Nah kemudian setelah ditanyakan kepada penglingsir kami, itu merupakan pusaka keris pasupati,”kata Mangku Dharma.

Ia menambahkan, setelah ditemukan pusaka itu, masyarakat juga menemukan keberadaan patung pralingga atau Budha.

“Setelah itu ditemukan patung berbentuk Budha, kami meyakini ada hubungannya dengan Pura Pucak Sangkur. Dengan adanya pusaka dan patung budha, maka kami dirikan pura Siwa Budha,” paparnya.

Kemudian pada purnama katiga saat pujawali di Pura Puncak Sangkur, maka distanakan sementara pusaka itu di Pura Sangkur.

Baca Juga: Mistis! ada Keris Pusaka Muncul di Pura Wayah Dalem Majapahit, Ada Batu Krakah Modre

Rupanya, saat proses pujawali berlangsung, ada pemedek yang mengalami kerauhan.

“Ketika kerauhan itulah diminta agar jangan Ida distanakan disana (Pura Puncak Sangkur, Red), katanya nanti akan ada yang membuatkan peliggih,” ungkapnya.

Benar saja, setelah beberapa bulan pawisik tersebut, rupanyanmuncul orang yang mneghaturkan pelinggih untuk dibuatkan stana lengkap dengan pula palinya.

Sedangkan proses pujawalinya yang bersamaan dengan Buda Kliwon Pagerwesi.

“Di pelinggih ini akhirnya Siwa-Budha distanakan,” paparnya.

Ia menambahkan konsep Siwa Budha yang dikenal masyarakat di Bali bukanlah hal yang baru.

Makna pelinggih Siwa Budha ini adalah sebuah kemanunggalan atau penyatuan. Selain itu juga diyakini sebagai simbol keseimbangan dan kedamaian.

Di Sisi lain, di pelinggih Siwa Budha ada pawisik, agar dibuatkan kolam di depan pelinggih sebagai penangkal energi negatif. Tujuannya supaaya tidak ada energi negative dari umat yang nangkil kepada beliau.

Menariknya, sebagai pura yang melambangkan multikultur, pemedek yang nangkil bukanlah berasal dari umat Hindu saja.

Tetapi, umat non Hindu juga seringkali nangkil. Konon, banyak diantara mereka yang mendapatkan pasiwik untuk nangkil ke pura ini.

“Waktu ini ada dari jawa nangkil tidak hanya Hindu saja. Ada Budha, Kristen hingga. Katanya ada wahyu (pawisik) dan datang ke Pura ini untuk melakukan persembahyangan. Ada yang mencari ke sampai ke Lombok tapi tidak ketemu. Justru, ternyata mereka dapat informasi dari televisi kalau lokasi Pura Siwa Budha ini di Bali,” paparnya.

Selain tempat sembahyang, Pura Siwa Budha juga dijadikan tempat memohon tamba atau obat. Menurutnya, ada banyak pemedek yang sudah membuktikan dari kesembuhan itu.

“Ada banyak yang memohon pengobatan atau tamba. Hanya dasar tamba adalah abu. Saya sudah melihat secara langsung, karena memang banyak membuktikan,” tutupnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#bali #pasupati #hindu bali #budha #keris #Baturiti #hindu #pura #siwa #tabanan