Salah satunya adalah Pura Puncak Mundi. Pura ini terletak di Dusun Rata, Desa Batukandik, Nusa Penida, sekitar 30 menit dari daerah Sampalan. Pura ini berada di tempat tertinggi di dataran Nusa Penida.
Bangunan pura Puncak Mundi memang sangat indah. Dikelilingi pemandangan hijau dan birunya laut.
Tentu hal ini membuat umat nyaman nangkil ke pura ini. Ditambah kondisi cuaca yang sejuk dan cenderung dingin.
Pemandangan kera liar juga ditemukan di areal pura ini. Meski demikian, kera liar ini tidak terlalu agresif.
Pura Puncak Mundi ini diyakini stana dari Ida Bhatara Lingsir. Pemangku Pura Puncak Mundi, Jro Mangku Dana menjelaskan, pura ini sebagai stana Ida Bhatara Lingsir peragan Ida Bhatara Siwa yang disebut juga Ida Dukuh Jumpungan.
Dalam Babad Nusa disebutkan jika pura di Pulau Nusa Penida memang diilhami dari kisah pertemuan antara Batara Guru dan Dewi Uma.
Dari pertemuan itu, lahirlah seorang putra yang diberi nama Batara Kumara.
Namun, kelahiran Batara Kumara ternyata juga menjadi awal perpecahan antara Batara Guru dan Dewi Uma.
Soalnya, Batara Kumara lebih diasuh ayahnya, dan hanya sesekali menghampiri ibunya ketika ingin disusui.
Baca Juga: Bhisama Pura Luhur Giri Kusuma Blahkiuh, Berani Lupa Hidup Bisa Sengsara
Karena kesal, Dewi Uma menganiaya Batara Kumara saat menyusui. Saking marahnya, kedua bola matanya memerah dan taringnya juga keluar.
Batara Kumara pun dibanting sampai kepalanya pecah dan darahnya diminum Dewi Uma.
Ternyata, perlakuan itu diketahui Batara Guru. Menyaksikan perilaku sang istri seperti kala, Batara Guru pun marah. Beliau mengutuk Dewi Uma agar menjelma ke dunia menjadi manusia.
Selama menjalani kutukan, Dewi Uma diceritakan sempat tiba di tengah hutan. Di tempat sunyi itu, ada sebatang pohon beringin tinggi besar.
Di sanalah beliau menangis, air susunya merembes keluar sampai ke tanah.
Di tempat itu kemudian tumbuh pohon pisang raja (gedangsaba). Itulah sebabnya pisang tersebut sangat baik untuk makanan bayi.
Setelah lama menyesali perbuatannya, timbul keinginan beliau untuk membangun keraton yang tidak berbeda dengan swargaloka. Dewi Uma membangun sebuah asrama di puncak Bukit Mundi dan mendapat gelar Batari Rohini.
Di asrama itulah, Batari Rohini melaksanakan yoga samadhi. Singkatnya, Batara Guru juga tidak tahan mengasuh putranya sendirian.
Sebab, Batara Kumara terus meminta disusui ibunya. Batara Kumara lantas didudukkan di plangkiran untuk menjaga para bayi.
Seketika, Batara Guru kembali teringat dengan Dewi Uma yang sebelumnya dikutuk dan kini berstana di puncak Bukit Mundi.
Baca Juga: Sakralnya Bale Pawedan di Pura Luhur Giri Kusuma Blahkiuh, Pedanda tak Berani Memada-Mada
Batara Guru akhirnya memutuskan juga turun ke dunia, tepatnya ke tempat Dewi Uma melaksanakan yoga samadhi di puncak Bukit Mundi.
Batara Guru menjelma menjadi seorang dukuh atau pandita (rohaniwan) bernama Dukuh Jumpungan dan bertemu dengan Dewi Uma. Daerah ini kemudian diberi nama Nusa Penida yang berasal dari arti Manusa Pandhita.
Demikian juga Dewi Uma kemudian menjelma menjadi seorang wanita yang bernama Ni Puri sebagai istri Dukuh Jumpungan di dunia dan menetap di Gunung Kila, Pucak Bukit Mundi.
Pangempon Pura Puncak Mundi menyebut keduanya dengan nama Ida Batara Lingsir
Jro Mangku Dana mengatakan, Pujawali di Pura Puncak Mundi juga dilaksanakan pada Buda Umanis Prangbakat.
Pura ini bertalian dengan Ida Bhatara Toh Langkir di Besakih dan Pura Dalem Puri di Besakih.
“Jadi kalau di Pura Puncak Mundi berkaitan dengan Ida Bhatara Toh Langkir di Besakih, maka pura Dalem Kerangkeng di Nusa Penida juga dikaitkan dengan Pura Dalem Puri di Besakih. Karena sebelum nangkil di Pura Puncak Mundi, pemedek juga nangkil di Pura Dalem Kerangkeng,” paparnya.
Pangempon Pura Puncak Mundi tersebar di sebelas banjar adat.
Di antaranya Banjar Baledan Duur, Banjar Baledan Beten, Banjar Klumpu Kauh, Banjar Klumpu Kangin, Banjar Angas, Banjar Mentaki, Banjar Rata, Banjar Tiagan, Banjar Bila, Banjar Cubang dan Banjar Iseh. (dik)
Editor : I Putu Mardika