Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Luhur Muncaksari Tabanan, Jadi Tempat Memohon Kemakmuran, Seblum Bercocok Tanam Petani kerap Nangkil

I Putu Mardika • Kamis, 18 Juli 2024 | 01:42 WIB

Pura Luhur Muncaksari di Desa Sangketan, Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali sebagai simbol kemakmuran.
Pura Luhur Muncaksari di Desa Sangketan, Kecamatan Penebel, Tabanan, Bali sebagai simbol kemakmuran.
BALIEXPRESS.ID-Pura Luhur Muncaksari adalah Pura Khayangan Jagat yang terletak di Banjar Anyar, Desa Sangketan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali. Pura yang berada di lereng selatan Gunung Batukau ini, tergolong sebagai salah satu cagar budaya di Kabupaten Tabanan.

Pura Luhur Muncakasari, banyak memberikan pengaruh bagi kehidupan agama dan kebudayaan baik bagi masyarakat Pangempon, masyarakat Desa Sangketan, begitu juga umat Hindu secara umum.

Keberadaan pura ini erat dengan simbol kemakmuran, karena pemedek yang nangkil sebagian besar petani untuk memohon kesuburan hasil pertanian.

Belum ditemukan secara tertulis tentang asal usul berdirinya Pura Luhur Muncaksari.

Selama ini keberadaan pura diketahui berdasarkan penuturan tokoh masyarakat dan legenda secara turun temurun.

Menurut ceritan, pura ini ditemukan oleh leluhur mangku gede. Saat beliau melakukan perjalanan, beliau menemukan tumpukan batu atau bebaturan yang merupakan cikal bakal Pura Muncaksari sekarang.

Mangku Gede Pura Muncak Sari I Wayan Sudarma di Pura ini terdapat pelinggih Bhatara Pasedahan Agung.

Baca Juga: Pura Pengubengan Besakih, Stana Sang Hyang Taksaka, Jadi tempat Ngubeng saat pujawali

Ida Bhatara Pasedahan Agung diyakini memiliki kekuatan untuk memberikan perlindungan kondisi fisik alam dan lahan pertanian, kesuburan alam, serta hasil bumi yang melimpah bagi masyarakat.

“Petani atau Subak yang hendak memulai aktivitas pertanian, selalu memohon perlindungan dan tuntunan kehadapan Ida Bhatara Pasedahan Agung di Pura Luhur Muncaksari. Pemujaan Ida Bhatara Pasedahan Agung sering disamakan dengan pemujaan Sang Hyang Sri,” paparnya.

Petani atau kelompok Subak yang hendak memulai bercocok tanam selalu menjadikan Ida Bhatara Pasedahan Agung sebagai pemujaan.

Kelompok Subak melakukan permohonan ke Ida Bhatara Pasedahan Agung ketika Pujawali di Pura Luhur Muncaksari berlangsung.

Bahkan, ada pula kelompok Subak yang melakukan permohonan atau persembahyangan secara khusus di luar pelaksanaan Pujawali.

Uniknya, Pura Luhur Muncaksari juga mementaskan  Tetangunan Sri Tumpuk sebagai tarian sakral.

Tetangunan Sri Tumpuk di Pura Luhur Muncaksari dipandang telah ada sejak lampau dan menjadi bagian dari ritual di Pura Luhur Muncaksari.

Pementasan Tetangunan Sri Tumpuk ini terletak pada penari yang bertumpuk diakhir sesi.

Sri Tumpuk dilaksanakan (Katangun) pasca Pangempon menghaturkan Rsi Bojana dalam rangkaian Pujawali.

Pelaksanaan Sri Tumpuk cenderung berlangsung pada waktu subuh antara pukul 03:00 atau 04:00 Wita.

Baca Juga: Pancer Jagat berupa Tiang ditancapkan Mpu Kuturan di Pura Agung Kentel Gumi, Ada Kutukan Pemimpin tak Boleh Lupa

Tanda dimulainya Sri Tumpuk adalah terjadinya kondisi Trance pada satu orang dan melakukan tarian-tarian khusus.

Terkadang orang yang mengalami Trance tersebut memanggil orang lain (tanpa menyebut nama) untuk ikut serta Mesolah (menari).

Panggilan tersebut menyebabkan banyak orang mengalami kesurupan dan mengeluarkan tarian (Sesolahan) khusus bernuansa magis.

Seluruh penari baik pria maupun wanita, yang mengalami Trance kemudian menari secara makmur di Madya Mandala Pura Luhur Muncaksari.

Tetangunan Sri Tumpuk diringi alunan Gambelan Palegongan, yang sering diperuntukan bagi pelaksanaan Sri Tumpuk itu sendiri.

Pelaksanaan Sri Tumpuk juga mempergunakan sarana ritual dan perangkat tertentu (seperti kain kafan putih kuning, Tikeh Plasa) yang kerap dipergunakan dalam setiap Tetangunan Sri Tumpuk

“Tetangunan Sri Tumpuk memiliki makna kemakmuran yang bersumber dari kesuburan alam pertanian. Kata “Sri” memiliki arti bagus, makmur, dan sering dipautkan dengan Dewi Sri (sakti Dewa Wisnu) yang disimbolkan dengan padi,” paparnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Pura Luhur Muncaksari #bali #hindu bali #hindu #pura #penebel #Subak #tabanan