Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sejarah Bokat Sakti: Sisa-sisa Senjata Perang Puputan Badung, Warisan Jro Gede Genteh yang tak Terbakar Api

Nyoman Suarna • Sabtu, 3 Agustus 2024 | 00:19 WIB
BOKAT SAKTI: Senjata pemimpin pasukan elit Poleng Kesiman yang kini diserahkan kepada ahli warisnya, keluarga keturunan Jro Gede Genteh.
BOKAT SAKTI: Senjata pemimpin pasukan elit Poleng Kesiman yang kini diserahkan kepada ahli warisnya, keluarga keturunan Jro Gede Genteh.

BALIEXPRESS.ID - Sebuah pusaka sakti yang hingga kini masih disimpan salah satu keluarga prajurit Kerajaan Kesiman adalah sebuah tombak bertangkai pendek yang disebut bokat.

Senjata ini merupakan pusaka pimpinan pasukan elit Poleng Kesiman bernama Jro Gede Genteh.

Sejarah kemasyuran Kerajaan Kesiman tak dapat dipisahkan dari prajurit andal yang dimiliki.

Satuan prajurit khusus yang dimiliki Kerajaan Kesiman yang siap mati demi kerajaan diberi nama Poleng Kesiman.

Pasukan ini dibentuk pada pertengahan tahun 1800, untuk menjaga perbatasan wilayah Kerajaan Kesiman di bagian timur.

Pada masa itu, pasukan setingkat Garnisun yang dibekali senjata tombak dan keris berpatroli di sepanjang perbatasan untuk menghindari serangan dari sisi timur yang berbatasan dengan Kerajaan Gianyar.

Pasukan ini dikomandoi oleh keluarga Mekel Sentaka secara turun-temurun.

Seorang tokoh ternama era Perang Puputan Badung yang menjabat sebagai pimpinan Pasukan Poleng Kesiman adalah Gede Genteh yang lebih dikenal dengan nama Jro Gede Genteh.

Sebagai pimpinan pasukan elit kerajaan, Gede Genteh dibekali sebuah senjata bokat, yaitu sebuah tombak bertangkai pendek milik kerajaan yang sudah diwarisi secara turun-temurun.

Senjata yang dibawa Gede Genteh berhasil mengalahkan musuh-musuhnya saat perang Kerajaan Badung melawan Mengwi.

Senjata ini pula yang dibawa Gede Genteh dalam perang Puputan Badung melawan Belanda.

Namun sayang, Gede Genteh tertembak Belanda, tetapi nyawanya masih selamat meski peluru bersarang di tubuhnya hingga ajal menjemputnya tahun 1956 karena usianya sudah tua.

Sebelum meninggal, Gede Genteh sempat berpesan kepada sanak keluarganya agar senjata bokat yang dipakai dalam perang melawan Mengwi dan Puputan Badung ikut dibakar sebagai bekal.

Pesan itu ditepati, tetapi sejarah berkata lain, bokat tidak ikut terbakar.

Oleh seorang sastrawan Kesiman bernama Dewa Made Oka alias Dewa Kade, bokat tersebut diambil kemudian dibuatkan tangkai serta dirawat layaknya sebuah pusaka.

Tahun 1980-an, bokat itu hendak dikembalikan kepada keturunan Gede Genteh, tetapi ditolak karena menganggap bokat itu sudah dijadikan bekal untuk almarhum Gede Genteh menuju alam baka.

Tahun 1990-an bokat tersebut diminta oleh seorang tokoh sepak bola dari Kesiman, Bagus Raka, untuk dijadikan simbol  klubnya yang memakai nama Poleng Kesiman.

Namun tahun 2000-an, Dewa Kade melaporkan kepada penglingsir  (tetua adat)  Puri Kesiman, I Gusti Ngurah Gede Kusuma Wardana bahwa bokat tersebut kini dipegang oleh Bagus Raka, kemudian pusaka kebesaran pasukan Kesiman itu dibawa ke Puri Kesiman.

Selama 55 tahun dalam pengembaraan, pada tanggal 21 Juni 2011 dalam prosesi sakral Ngadegang Pemangku Pemerajan Puri Kesiman, bokat tersebut dikembalikan kepada yang berhak yaitu keturunan Gede Genteh.

Menurut I Gusti Ngurah Gede Kusuma Wardana, pengembalian pusaka tersebut bertujuan memuliakan kembali sejarah orang-orang yang berjasa bagi Puri Kesiman.

Editor : Nyoman Suarna
#Puputan badung #kesiman #gede genteh #Senjata #sejarah #kerajaan #poleng kesiman #perang