Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Babi Guling sebagai Ulam Bebangkit dalam Ajaran Hindu Bali: Apakah Bisa Diganti dengan Bebek? Berikut Penjelasannya

I Putu Suyatra • Jumat, 23 Agustus 2024 | 20:39 WIB
Babi Guling dalam banten Bebangkit
Babi Guling dalam banten Bebangkit

BALIEXPRESS.ID - Bagi umat Hindu, Bali, pemahaman mendalam tentang makna sarana upacara adalah hal yang penting untuk memastikan manfaat maksimal dari setiap ritual yang dilaksanakan.

Salah satu komponen upacara yang sering menjadi pusat perhatian adalah Banten Bebangkit, yang erat kaitannya dengan penggunaan Ulam Bebangkit.

Banten Bebangkit dan Simbolisme Ulam Babi Guling

Banten Bebangkit sangat identik dengan penggunaan Ulam Bebangkit, yakni persembahan berupa daging, yang dalam tingkat Bebangkit seringkali berupa babi guling.

"Penggunaan babi guling ini bukan tanpa alasan. Babi guling diyakini sebagai simbol Dewi Durga yang akan memberikan anugerah kesidhian dan kharismatik kepada umat," jelas Ketua Pasraman Pasir Ukir, I Kadek Satria, S.Ag. M.Si.

Namun, belakangan ini muncul fenomena penggunaan ulam bebek dalam Banten Bebangkit.

Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai simbolisme dan kepada siapa bebek tersebut dipersembahkan.

Pentingnya Konsistensi dalam Penggunaan Simbol

Menurut Satria, simbol dalam upacara tidak boleh diubah sembarangan, karena setiap simbol memiliki makna dan tujuan khusus.

"Jika kita ingin mengikuti tattwa dengan benar dan mendapatkan manfaat maksimal, sebaiknya Banten Bebangkit tetap menggunakan ulam babi guling, bukan yang lain," sarannya.

Literatur dan Tradisi: Tetaplah pada Babi Guling

Dalam berbagai literatur yang telah dipelajari oleh Satria, penggunaan babi guling sebagai ulam dalam Banten Bebangkit adalah suatu keharusan.

Tidak ada pembahasan mengenai penggunaan bebek sebagai alternatif.

Meski demikian, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa beberapa masyarakat mulai menggunakan bebek sebagai ulam.

"Saya masih bingung, apa dasar dari penggunaan bebek ini," tambah Satria.

Alternatif Banten dengan Biaya Lebih Terjangkau

Jika permasalahan penggunaan babi guling terletak pada biaya yang tinggi, Satria mengingatkan bahwa ada banyak banten dengan tingkat yang lebih rendah dari Bebangkit, seperti Peras, Sayut Pengambeyan, Odal Kurenan, dan Pulogembal.

"Semua banten ini sesuai dengan tattwa, hanya saja tingkatannya berbeda—nista, madya, atau utama—dan semuanya bisa disesuaikan dengan kemampuan," tutup Satria.

Dengan memahami makna dan simbol dalam setiap sarana upacara, umat Hindu dapat melaksanakan ritual dengan lebih khidmat dan mendapatkan manfaat yang optimal.

Jangan biarkan tradisi tergerus oleh perubahan tanpa pemahaman yang benar, mari lestarikan budaya dengan bijaksana. ***

Editor : I Putu Suyatra
#bebangkit #babi guling #bali #hindu #bebek