Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Begini Makna Ornamen Bedawangnala, Termuat dalam Kisah Adi Parwa, Digunakan hiasan dari Meru hingga Bade

I Putu Mardika • Rabu, 28 Agustus 2024 | 04:39 WIB

 

Meru menggunakan ornamen Badawangnala sebagai simbol Pertiwi
Meru menggunakan ornamen Badawangnala sebagai simbol Pertiwi
BALIEXPRESS.ID-Bangunan suci umat Hindu umumnya disertai hiasan dalam berbagai wujudnya di antaranya berbentuk tumbuh-tumbuhan, binatang, dan makhluk-makhluk keramat. Salah satu hiasan adalah ornament berbentuk kura-kura yang dililit naga.

Hiasan ini disebut bedawangnala. Ornamen ini selalu ditempatkan di bagian dasar sebuah palinggih, namun tidak semua bangunan suci umat Hindu diisi ornamen bedawangnala. Lalu palinggih apa saja yang boleh diisi hiasan bedawangnala.

Kata bedawangnala dalam bahasa Jawa Kuno maupun bahasa Sanskerta terdiri dari badawang dan nala atau anala. Badawang artinya kura-kura sedangkan nala artinya tangkai atau batang berongga, juga berarti api.

Jadi bedawangnala dapat diartikan sebagai kura-kura api disebut juga kurmagni. Bedawangnala juga berarti sebagai kura-kura yang dililit tangkai berongga, maksudnya kura-kura dililit ular atau naga.

Cendikiawan Hindu, Dr. I Ketut Rupawan, M.Si, menjelaskan di Bali ornamen bedawangnala diwujudnyatakan sebagai kura-kura raksasa bermoncong api dililit naga. Naga yang melilit berjumlah satu atau dua ekor. Jika naganya hanya satu ia adalah naga Basuki, jika dua maka Naga Basuki dan Naga Anantaboga.

Tampak depannya memperlihatkan kepala kura-kura diapit dua naga, badan kura-kura dibelit naga. Punggungnya mengusung palinggih sedangkan ketiga ekor binatang suci ini berada di bagian belakang bangunan.

Palinggih yang diberi ornamen bedawangnala selalu bangunan yang merupakan simbol bhuana, alam semesta misalnya padmasana, meru, palinggih dasar, lebuh, jempana, bade, dan dangsil.

“Meru simbol bumi atau jagat raya. Itu pelinggih yang ada di sebuah pura,” paparnya.

Baca Juga: Sejarah Desa Kerta dam Kaitannya dengan Pura Alas Angker: Berawal dari Sebuah Wabah

Cerita suci yang umum dikenal umat Hindu adalah mitos pemutaran gunung Mandara atas kerja-sama para Dewa dan Raksasa untuk memperoleh tirta amerta.

Dalam kitab Adi Parwa atau kitab pertama dari delapanbelas parwa dijelaskan bedawang diyakini sebagai Awatara II Dewa Wisnu turun ke dunia untuk menyelamatkan dunia. Adiparwa menceriterakan “para sura (dewa) dan para asura (raksasa) berunding untuk mendapatkan tirta amerta.

“Mereka sepakat bekerja sama lalu dicabutlah gunung Mandara oleh Naga Anantaboga. Gunung dengan segala isinya ini digunakan sebagai tongkat pengaduknya. Kura-kura raksasa (kurmaraja) jelmaan Dewa Wisnu sebagai penyangga gunung agar tidak tenggelam,” paparnya.

Naga Basuki melilit lereng gunung dan Sanghyang Indra duduk di puncaknya agar gunung tidak melambung. Para sura memegang ekor Naga Basuki sedangkan kelompok asura memegang kepalanya.

Pekerjaan dimulai dengan menarik ekor dan kepala naga secara bergantian sehingga gunung Mandara berputar mengaduk lautan susu, yang pada akhirnya muncullah Dhanwantari (tabib sorga) membawa çwetakamandalu berisi tirta amerta.

Çwetakamandalu lalu dipungut asura. Oleh karena amerta sudah didapatkan maka pekerjaan dihentikan. Amerta ini menjadi perebutan para sura dan asura karena kasiatnya yang sakti, yaitu bagi yang minum amerta bisa hidup abadi.

Berdasarkan gambaran ceritera suci itu dikaitkan dengan bentuk dan fungsi palinggihnya, ternyata palinggih yang dasarnya diisi ornament bedawangnala merupakan palinggih yang menyimbolkan bhuana agung (alam semesta).

Baca Juga: Pura Dalem Pasung Grigis: Patung Mahapatih dan Ritual Hindu Bali yang Mengundang Penasaran

Maknanya bahwa hidup ini dinamika dari kerja-sama antara kebaikan dan keburukan. Manusia tak boleh pasif, sepanjang kesehatannya memungkinkan mereka patut selalu beraktivitas guna mengisi kehidupan ini.

“Makna tersembunyi tuntunan etos kerja, di Bali diejawantahkan dengan slogan ganggangang sipaha apang pelengane makebetan” imbuhnya.

Artinya angkatlah tangan agar ketiak kelihatan sehingga pelipis bergerak, maknanya rajin-rajinlah bekerja sehingga mendapat hasil berupa makanan lalu dikunyah untuk menyambung hidup agar tidak mati (amerta).

Etos kerja agar rajin bekerja itu juga disarikan dalam kalimat yang sangat populer “Tong ngelah karang sawah karang awake tandurin” sebagaimana dinyatakan oleh Ida Padanda Made Sidemen, Sanur.

“Tidak usah terlalu berpikir harta benda yang disimpan, tetapi pengetahuan,” sebutnya.

Ia menyatakan, dalam lontar Tattwa Jnana struktur bhuana agung terdiri atas tiga bagian yaitu Sapta Loka di bagian atas, Sapta Patala di bagian bawah, dan di bawahnya lagi terdapat Balagardhabha Mahã-naraka yaitu alam neraka dengan api berkobar-kobar 100.000 yojana nyalanya.

Di Bali alam Mahã-naraka ini digambarkan dengan kura-kura api (kurmagni) ditempatkan di dasar palinggih, simbol bhuana agung misalnya bangunan suci padmasana, meru, palinggih dasar, jempana, dangsil, dan bade.

Dengan demikian bedawangnala dengan moncong api itu merupakan simbol alam terbawah dari struktur bhuana agung yakni alam Maha-naraka sesuai struktur palinggih dengan papalihan 7 atau paling tidak papalihan 5; tetapi jika menggunakan pepalihan 3 tidak berisi ornamen bedawangnala atau bebaturan. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #Naga Anantaboga #naga basuki #Bedawangnala #hindu bali #hindu #adi parwa #kura kura