Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Misteri Patung Bayi di Jalan Raya Sakah, Gianyar: Tempat Suci Hindu Bali dengan Kekuatan Spiritual untuk Memohon Keturunan

Putu Agus Adegrantika • Kamis, 29 Agustus 2024 | 23:44 WIB

Patung Bayi di Jalan Raya Sakah, Gianyar, Bali.
Patung Bayi di Jalan Raya Sakah, Gianyar, Bali.

BALIEXPRESS.ID -  Di tengah hiruk-pikuk Jalan Raya Sakah, Desa Batuan Kaler, Gianyar, Bali, berdiri sebuah patung besar yang dikenal sebagai Palinggih Brahmana Lelara atau lebih populer disebut Patung Bayi.

Keberadaan patung ini bukan sekadar hiasan jalan, melainkan memiliki makna spiritual Hindu Bali mendalam dan diyakini memiliki kekuatan khusus.

Lantas, apa rahasia di balik patung ini?

Jero Mangku Ketut Widiantara, pemangku pertama di Palinggih Brahmana Lelara, berbagi kisah bagaimana ia dipilih secara sekala dan niskala untuk menjalankan tugas suci di tempat ini.

“Saya merupakan pemangku pertama yang ditugaskan untuk ngayah di sini, setelah melalui proses pemilihan spiritual. Sebelumnya, hanya pemangku kahyangan tiga yang memimpin upacara di sini,” ungkapnya.

Fungsi utama dari patung ini bukan hanya sebagai tempat persembahyangan biasa.

Menurut Jero Mangku Widiantara, banyak orang datang untuk "nunas ica," memohon keturunan setelah lama menanti buah hati.

Namun, ia menegaskan bahwa segala permohonan tetap bergantung pada kehendak Tuhan dan ketulusan hati saat berdoa di sana.

“Saya hanya perantara yang malinggih di sini, untuk memuput segala persembahan yang dihaturkan. Selain memohon keturunan, tempat ini juga dipercaya untuk menjaga keseimbangan jagat, agar terhindar dari mara bahaya,” jelasnya.

Menariknya, tak sedikit orang yang berhasil mendapatkan apa yang mereka mohonkan setelah berdoa di sini.

Sarana untuk memohon di Palinggih Brahmana Lelara ternyata sederhana.

“Cukup menghaturkan pejati, karena pejati sudah mencakup semua unsur alam yang diperlukan dalam persembahyangan,” tambah Jero Mangku Widiantara.

Pada saat yang sama, Jero Mangku Istri Ni Made Sutini sibuk mempersiapkan piodalan yang akan berlangsung di Patung Bayi pada Anggara Kasih Medangsia.

Ia mengaku kesulitan mengatur waktu, karena piodalan di Palinggih ini bertepatan dengan piodalan di Pamerajannya.

Menariknya, Jero Mangku Istri Sutini menceritakan bahwa dirinya dan suaminya terpilih menjadi pemangku melalui tradisi "nyatri," semacam arisan spiritual.

“Kami dipilih dengan mengambil kwangen, yang diikuti oleh seluruh krama banjar, kecuali duda, janda, dan mereka yang sakit fisik. Saat suami saya mendapatkan kwangen yang berisi tulisan tersebut, kami merasa sudah ditunjuk oleh dunia sekala dan niskala, sehingga tidak bisa menolak,” paparnya.

Patung Bayi di Jalan Raya Sakah ini bukan sekadar simbol, melainkan menyimpan kekuatan spiritual yang diyakini masyarakat setempat.

Bagi yang ingin memahami lebih dalam atau bahkan memohon sesuatu, tempat ini menjadi salah satu destinasi spiritual yang menarik untuk dikunjungi. *** 

 
Editor : I Putu Suyatra
#Patung Bayi #bali #gianyar #keturunan #hindu #Palinggih