Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

TERUNGKAP! Sejarah Ratu Gede Mecaling Ada Dua Versi: Antara Penugrahan Kanda Sanga dan Tokoh Aji Ugig dari Desa Batuan

Nyoman Suarna • Selasa, 10 September 2024 | 00:15 WIB
SOSOK: (Ilustrasi) Ratu Gede Mecaling diyakini sosok hitam, tinggi besar dan bertaring sebagai dewa dari balian, wong samar dan bebhutan.
SOSOK: (Ilustrasi) Ratu Gede Mecaling diyakini sosok hitam, tinggi besar dan bertaring sebagai dewa dari balian, wong samar dan bebhutan.

BALIEXPRESS.ID - Keberadaan Pura Dalem Peed di Nusa Penida, Klungkung tak terlepas dari tokoh legendaris Ratu Gede Mecaling.

Sejarah tentang Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling telah menjadi cerita yang terus diperbincangkan, khususnya bagi masyarakat Bali.

Salah satu sejarah menyebut Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling adalah dewan balian.

Sejarah dimulai dengan cerita seorang pangeran bernama Jumpungan yang memilih hidup sebagai seorang pendeta dan kemudian diberi gelar Dukuh.

Dengan keahliannya dalam pembuatan perahu, ia membawa peradaban ke Nusa Penida dan Ceningan.

Salah satu keturunannya adalah Pangeran I Gede Mecaling.

Sejak kecil Pangeran I Gede Mecaling menunjukkan dedikasinya kepada kehidupan spiritual dengan melakukan tapa brata yoga semadhi di Ped.

Dalam meditasinya ia menyerahkan penghormatannya kepada Ida Bhatara Ciwa, yang kemudian memberinya anugerah kesaktian berupa Kanda Sanga.

Kesaktiannya yang terfokus pada taringnya yang panjang dan kesaktian Catur Sakti, membuatnya dihormati namun juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan para Dewa.

Hal ini membuat  Bhatara Ciwa turun ke bumi untuk memotong taring I Gede Mecaling, guna menenangkan jagad raya.

Namun, Gede Mecaling tidak kehilangan keistimewaannya, karena Ida Bhatara Rudra memberinya anugerah panca taksu, yang membuatnya menjadi pemimpin bagi wong Samar dan Babhutan di bumi.

Gede Mecaling juga diberi wewenang oleh Ida Bhatari Durga Dewi untuk mencabut nyawa manusia di bumi, serta diangkat sebagai penguasa samudra.

Ratu Gede Mecaling dan istrinya, Sang Ayu Mas Rajeg Bumi, diyakini sebagai penguasa di Nusa Penida, dengan mandat sebagai penguasa kematian.

Dengan kekuatannya yang luar biasa, Ida Ratu Gede Mas Mecaling menjadi objek pemujaan bagi umat Hindu yang menginginkan keberuntungan, kesejahteraan, dan perlindungan dari bahaya.

Berbagai ritual dan penghormatan dilakukan untuk memperoleh berkah dan menjaga kedamaian di Nusa Penida.

Kekuatan dan kebijaksanaan I Gede Mecaling telah membuatnya menjadi ikon yang dihormati dari generasi ke generasi.

Namun di Desa Adat Pekraman Batuan, sejarah Gede Mecaling berbeda.

Diceritakan di Desa Batuaran (Batuan) diperintah oleh Dewa Agung Anom Jaya Tanu atas kehendak dari restu Raja Klungkung.

Dalam menjalankan roda pemerintahan Anak Agung Anom Jaya Tanu mengalami kendala diakibatkan oleh sepek terjang anak buahnya Balian Batur, bernama I Gede Mecaling yang bermukin di Banjar Jungut.

Gede Mecaling kerap menebar wabah penyakit sehingga  menyebabkan Anak Agung Anom Jaya Tanu risau.

Merasa tidak mampu menghadapi problema tersebut, Anak Agung Anom Jaya Tanu mengirim utusan ke Kerajaan Mengwi untuk meminta bantuan.

Setelah menerima pesan tersebut, Raja Mengwi kemudian mengutus I Dewa Meranggi dan I Dewa Babi untuk menumpas I Gede Mecaling.

Kedua utusan tersebut kemudian menyelidiki sepak terjang dari IGede Mecaling dan melihat penduduk Desa Batuan terserang wabah penyakit mematikan.

Akhirnya ditantanglah I Gede Mecaling oleh I Dewa Babi dan I Dewa Meranggi untuk berperang.

Dalam perang tersebut kedua utusan itu menggunakan babi sebagai media taruhan.

Kaki babi tersebut masing-masing diikat dengan benang dan tali kupas (serat batang pisang).

I Gede Mecaling memilih ikatan yang menggunakan benang, kemudian I Dewa Babi dan Dewa Meranggi memilih tali kupas.

Kemudian I Dewa Babi dan I Dewa Meranggi meminta petunjuk di Setra Alas Harum/Dalem Jungut agar dapat memenangkan taruhan tersebut.

Mengingat taruhan tersebut amat berat, karena yang kalah dalam perang harus pergi dari Desa Batuan.

Dalam adu kesaktian tersebut, tali benang yang dipilih Gede Mecaling putus.

Sesuai perjanjian, Gede Mecaling pun pergi dari Desa Batuan.

Dia mengungsi ke arah tengara hingga sampai di daerah agak tinggi yang kini disebut Desa Peninjoan. Dari tempat ini Gede Mecaling meninjau arah yang akan dituju.

Dengan susah payah dan hati sidih Gede Mecaling meninggalkan tabah kelahirannya hingga tiba di Nusa Penida.

Nusa artinya pulau, dan Nida artinya kapur, lantaran tempat tersebut merupakan daerah batu kapur.

Untuk mengenang desa kelahirannya di Desa Jungut, Batuan, Gianyar maka tempat tinggal yang baru tersebut diberi nama Jungut Batu.

Menurut Babad Batuan, Gede Macaling adalah salah satu murid Ki Balian Batur, tokoh leak dari Desa Karang Kedangkan, Teledu Nginyah yang memporak porandakan Kerajaan Mengwi dengan ilmu leaknya.

Kerena ketekunannya, ia berhasil menguasai ilmu leak seperti gurunya Ki Balian Batur. Hanya saja ilmu itu dipraktikkan untuk tujuan tidak baik.

Ia menebar berbagai penyakit dengan teluh, tuju, desti dan terangjana yang membuat rakyat Desa Batuan banyak yang mati.

Editor : Nyoman Suarna
#gede mecaling #Versi #kanda sanga #sejarah #ratu #Batuan