Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Uniknya Tempat Suci Hindu Bali di Pura Pegulingan: Perpaduan Sakral Antara Siwa dan Buddha di Gianyar

Putu Agus Adegrantika • Kamis, 12 September 2024 | 14:45 WIB
Pura Pegulingan yang terletak di Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, bukan sekadar tempat sembahyang biasa bagi umat Hindu Bali.
Pura Pegulingan yang terletak di Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, bukan sekadar tempat sembahyang biasa bagi umat Hindu Bali.

BALIEXPRESS.ID - Pura Pegulingan yang terletak di Desa Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, bukan sekadar tempat sembahyang biasa bagi umat Hindu Bali.

Selain dikenal dengan sebutan Padma Asta Dala, pura ini diyakini sebagai Candi Buddha, sebuah perpaduan antara ajaran Hindu dan Buddha yang misterius.

Hal ini terlihat dari bentuk bangunan di jeroan pura yang mengundang rasa penasaran para pengunjung.

Menurut Jero Mangku I Wayan Weda, pemangku Pura Pegulingan, pura ini memiliki hubungan erat dengan Pura Tirta Empul dan Pura Alas Harum, yang semua ceritanya terkait dengan legenda Maya Denawa.

Namun, yang membuat Pura Pegulingan unik adalah tidak adanya sesuhunan berupa Barong atau Rangda seperti di pura-pura lain.

Sebaliknya, pura ini hanya memiliki prasasti dan arca Buddha berbahan emas yang disungsung oleh krama setempat.

Pura ini dikelola oleh 107 krama dari Banjar Basangambu, Desa Manukaya, namun pemedek yang datang untuk bersembahyang tidak hanya berasal dari desa setempat.

Menurut Jero Mangku Weda, umat dari berbagai daerah di Bali sering bersembahyang di pura ini karena kepercayaan bahwa Pura Pegulingan merupakan simbol Siwa-Buddha, ajaran yang memadukan elemen Hindu dan Buddha.

Penemuan arkeologis di Pura Pegulingan semakin menguatkan keyakinan ini.

I Nyoman Trisna Jaya, seorang warga Banjar Basangambu, mengungkapkan bahwa pura ini juga diyakini sebagai Pura Dang Kahyangan, tempat pemujaan bagi umat Hindu dan Buddha.

Salah satu temuan bersejarah yang paling mencolok adalah candi berpondasi delapan, yang disebutkan memiliki pengaruh Budhistik-Siwaistik.

"Penemuan ini menunjukkan bahwa saat berdirinya Candi Pegulingan, pengaruh ajaran Siwa-Buddha sudah ada," jelas Trisna Jaya, yang juga seorang Jero Dalang.

Setiap piodalan diadakan di Pura Pegulingan, umat Buddha sering terlihat melakukan persembahyangan.

Bahkan, saat hari suci Waisak, banyak umat Buddha yang datang untuk berdoa di pura ini. Menariknya, cara persembahyangan mereka juga berbeda.

"Mereka biasanya mengelilingi candi Pegulingan sebagai bagian dari ritual sembahyang," tambah Trisna Jaya.

Jumlah umat Buddha yang datang berdoa bervariasi, tergantung pada hari suci yang diperingati.

Keunikan dan kekayaan spiritual Pura Pegulingan, dengan perpaduan unsur Hindu dan Buddha yang sakral, menjadikan pura ini semakin menarik untuk dikunjungi.

Dengan sejarah dan cerita yang penuh misteri, Pura Pegulingan menjadi salah satu tempat yang mampu mengundang rasa penasaran banyak orang. ***

Editor : I Putu Suyatra
#bali #pura pegulingan #gianyar #buddha #hindu #tampaksiring #waisak