Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pusuh Pisang Jadi Sarana Penting saat Tiga Bulanan Bayi, Simbol Linggan Sang Banaspati

I Putu Mardika • Rabu, 18 September 2024 | 04:45 WIB

prosesi tiga bulanan bagi bayi sebagai momentum pemberian nama
prosesi tiga bulanan bagi bayi sebagai momentum pemberian nama
BALIEXPRESS.ID-Ritual Bajang colong bagi Umat Hindu Bali menjadi momentum tuun tanah bagi bayi yang sudah berusia tiga bulan. Dalam upacara tiga bulanan ini juga menggunakan sarana pusuh atau jantung pisang yang sarat akan makna.

Lontar Dharma Kahuripan merupakan salah satu teks yang sering dijadikan acuan dalam pelaksanaan upacara manusa yadnya di Bali, termasuk upacara tigang sasih atau bajang colong. Di dalam lontar ini, dijelaskan berbagai sarana upacara serta makna yang terkandung di dalamnya.

Dosen Upakara di STAHN Mpu Kuturan, Dr. Wayan Murniti, M.Pd menjelaskan bahwa Lontar Dharma Kahuripan masih relevan di era modern.

Beberapa upacara manusa yadnya yang dibahas dalam teks ini meliputi upacara pernikahan (pawiwahan), megedong-gedongan, upacara untuk bayi berusia satu bulan tujuh hari, bajang colong atau tigang sasih, otonan, hingga menek bajang.

Namun, sarana upacara (banten) disesuaikan dengan tradisi lokal yang disebut Loka Dresta, baik dalam tingkatan alit (sederhana), madya (menengah), maupun utama (besar).

Salah satu contohnya adalah upacara bajang colong atau tigang sasih, yang bertujuan tidak hanya untuk memohon keselamatan bagi bayi dan membersihkan cuntaka (kekotoran secara spiritual), tetapi juga agar sang ibu diperbolehkan keluar rumah dan kembali beraktivitas, termasuk menjalankan ibadah atau bekerja jika diperlukan.

Berbagai sarana upacara yang digunakan termasuk banten Dapetan, penyeneng, jejanganan, suci, dandanan, canangsari, canang raka, dan canang wangi, yang semuanya ditujukan untuk memuja Dewa Kumara.

Selain itu, ada sarana lain yang digunakan dalam upacara tigang sasih, seperti banten Penyeneng, penyambutan, jejanganan, penebusan, jerimpen, kurenan, hingga sayut agung dan pulo gembal.

Upacara ini dimulai dengan Matur Piuning di Kamulan Taksu untuk memohon berkah dan pembersihan (pengelukatan) dari Brahma, Wisnu, dan Kamulan Taksu.

Rangkaian upacara meliputi persembahyangan, penyucian, dan pembersihan spiritual yang dilakukan di dapur, sumur, merajan, serta halaman rumah.

Sarana unik seperti Pusuh Pisang, yang melambangkan Papusuh linggan Sang Banaspati, serta perhiasan seperti gelang, anting-anting, dan kalung juga digunakan dalam upacara ini.

Gambar manusia yang ditoreh dengan pamor sedah, disebut Bajang Papah, melambangkan Sang Anggapati, dan dipegang oleh anak-anak.

"Anak-anak juga memegang sarana lain seperti Reregek, simbol linggan Sang Banaspati, dan ayam jantan serta betina yang mewakili Bajang Colong dan Sang Prajapati," katanya,

Upacara Tigang Sasih terus dilaksanakan dengan beberapa tahapan ritual.

Dimulai dengan memandikan bayi dan mengganti pakaiannya, kemudian dilanjutkan dengan prosesi seperti Ngayab Teenan, Ngayab Tetebus, Ngayab Sesarik, Mekekenyepan, Ngayab Peras, Nyiraman Rare, Mabajang Colong, Rare Tuwun Tanah, Puja Ngelinderin Lesung, Puja Ngelinderin Taman, hingga Ngamolihang Gelang Kalung. Upacara ini diakhiri dengan Pangelebar Bajang Colong.

Wayan Murniti menjelaskan bahwa prosesi natab banten Tigang Sasih di bale-bale dilakukan diawali dengan menyiramkan tirta, menyucikan dan memuja upakara (Teenan, Tetebus, Sesarik), Ngayaban Upakara, dan Pengulapan.

Ritual dilanjutkan dengan Pengambean, Jejanganan Agung, Sodan, Punjung serta Penek, Banten Kumara-kumari (di Plangkiran), Banten Guru Piduka (jika ada), Banten Sambutan dan Sesayut, serta Natab Linting Pengelepas Awon. Upacara ini diakhiri dengan muspa dan permohonan wangsuhpada.

Pada tahap ini, anak tidak lagi dianggap sebagai bayi, melainkan telah memiliki nama yang diberikan oleh orang tuanya. Selain itu, anak tersebut juga telah mulai terhubung dengan "dunia luar" dan kekuatan alam.

Menurut Tattwa Hindu, anak dijaga oleh empat saudara spiritualnya. "Sang Anggapati berada di mata, Sang Prajapati di hidung, Sang Banaspati di telinga, dan Sang Banaspati Raja di lidah," pungkasnya. (dik)

 

 

Editor : I Putu Mardika
#Bajang colong #bayi #hindu bali #tiga bulanan #pusuh pisang