BALIEXPRESS.ID- Kata dharma telah menjadi hal lumrah dalam kehidupan beragama Hindu. Umat Hindu tidak merasa asing, ketika mendengar kalimat dharma itu sendiri.
Hal ini mengacu pada tekstual kitab suci universal dari Hindu, yang selalu menitik beratkan eksistensi dharma.
Penggunaan kata dharma banyak muncul ketika umat Hindu membahas tentang agamanya.
Kata tersebut juga sering dipakai sebagai akhir dari pembicaraan, sebagai wujud tujuan dari agama Hindu, baik dalam konteks berpikir, berbicara, maupun berbuat.
Penyuluh Agama Hindu, Kantor Kemenag Kabupaten Tabanan, I Made Danu Tirta, menyampaikan, ketika membicarakan tentang Tuhan dalam Hindu, juga tersirat narasi dharma sebagai nama lain dari Tuhan itu sendiri.
“Kondisi sebagaimana disebutkan di atas, memberikan indikasi bahwa kata dharma dalam kehidupan beragama Hindu menyasar pada berbagai hal mulai dari tujuan hidup beragama Hindu, etika hidup, bahkan menyentuh sisi teologi Hindu,” jelasnya.
Baca Juga: Pemuda asal Malang Ditangkap Curi Motor di Tegallalang: Begini Caranya Beraksi
Setidaknya hal ini akan memberikan penguatan terhadap dharma yang dalam hal ini tidak saja sebagai narasi agama, namun berkedudukan pula menjadi hal sakral dan suci dalam Hindu.
Namun, esensi dharma sebagai pikiran masyarakat cenderung tertuju pada sebuah kata bernuansa agama.
Terkait dengan nilai sakral dharma, maka dapat disimak melalui ulasan Sarasamuccaya Sloka 49. Bahwa nilai sakral mengenai dharma tertuju pada sisi teologis (ketuhanan).
Tuhan juga sering disebut dengan nama lain yakni Sang Hyang Dharma.
"Masyarakat Hindu meyakini bahwa Sang Hyang Dharma (Tuhan) berada dimana-mana, karena meresap dalam setiap ciptaannya, serta menjadi jiwa penggerak dari makhluk yang diciptakanNya," pungkas Danu.
***
Editor : Putu Agus Adegrantika