Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna dan Tujuan Mapepada dalam Upacara Umat Hindu Bali: Lengkap dengan Rangkaian Prosesinya

I Putu Suyatra • Senin, 23 September 2024 | 13:26 WIB
Ritual Mapepada yang dilaksanakan umat Hindu Bali
Ritual Mapepada yang dilaksanakan umat Hindu Bali

BALIEXPRESS.ID - Dalam setiap upacara besar di Bali, umat Hindu tidak hanya menggunakan banten yang terbuat dari janur dan bahan alami lainnya sebagai sarana upakara.

Ada satu elemen penting yang sering luput dari perhatian: penggunaan hewan atau wewalungan.

Namun, apa yang membuat penggunaan hewan ini berbeda dari praktik lain?

Di balik setiap upacara, ada proses sakral yang disebut Mapepada, sebuah ritual penyucian hewan sebelum dijadikan persembahan.

Lantas, apa yang sebenarnya terjadi dalam upacara ini?

Rahasia di Balik Mapepada: Melampaui Ahimsa

Meskipun membunuh hewan sering dikaitkan dengan konsep Ahimsa Karma, yang berarti tidak menyakiti makhluk hidup, dalam konteks upacara yadnya, penggunaan hewan memiliki aturan tersendiri.

Sebelum hewan tersebut dikorbankan, mereka harus melalui upacara Mapepada, sebuah proses penyucian yang bertujuan untuk "mengangkat" arwah hewan tersebut agar tidak terlahir kembali sebagai hewan di kehidupan berikutnya.

Menurut Budayawan Kesiman, I Gede Anom Ranuara, "Dengan Mapepada, diharapkan roh hewan dapat naik ke tingkat yang lebih tinggi."

Makna di Balik Nama Mapepada

Mapepada berasal dari kata "pada", yang memiliki dua arti, yaitu "sama" dan "kaki".

Dalam pengertian "sama", Mapepada adalah penyamaan atau penyucian terhadap roh hewan yang akan digunakan dalam upacara.

Sementara dalam arti "kaki", Mapepada merujuk pada penggunaan hewan berkaki dua dan empat, seperti ayam, kambing, kerbau, hingga anjing belang bungkem, yang dipilih sesuai dengan besarnya upakara yang akan digelar.

Rangkaian Upacara Mapepada

Upacara Mapepada merupakan bagian dari Bhuta Yadnya, terutama pada upacara besar seperti Tawur Agung.

Upacara ini menggunakan Sanggar Tawang sebagai media persembahan, yang diyakini sebagai simbol Tri Purusa: Siwa, Sadha Siwa, dan Parama Siwa.

Selain itu, Ida Bhatara Rare Angon dipercaya bertugas mengantarkan arwah hewan menuju tingkat spiritual yang lebih tinggi.

Proses Mapepada dilaksanakan beberapa hari sebelum pemotongan hewan.

Pada hari itu, hewan-hewan yang akan dikorbankan diarak mengelilingi tempat upacara sebanyak tiga kali, dalam ritual yang disebut Murwa Daksina.

Ini melambangkan pergerakan menuju tingkat yang lebih tinggi, baik bagi hewan maupun mereka yang terlibat dalam upacara.

Mengapa Harus Hewan Berkaki Dua dan Empat?

Penggunaan hewan dalam Mapepada diatur dalam beberapa literatur kuno, seperti Lontar Tutur Widi Sastra Tapeni, Lontar Aji Swamandala, dan Lontar Tatwa Rare Angon.

Hewan yang dipilih pun beragam, mulai dari hewan berkaki dua seperti ayam, hingga berkaki empat seperti kambing dan kerbau.

Ada juga hewan yang hidup di darat, air, serta hewan yang dapat terbang. Pemilihan hewan ini bergantung pada besar kecilnya upakara yang akan dilaksanakan.

Peran Sulinggih dalam Mapepada

Upacara Mapepada dipimpin oleh seorang sulinggih, yang dalam ajaran Hindu, dianggap sebagai perwujudan Dewa Siwa di dunia nyata.

Dengan doa-doanya, sulinggih memohon agar hewan yang dikorbankan mendapatkan pembersihan spiritual dan mencapai derajat yang lebih tinggi setelah kematiannya.

Setelah upacara Mapepada selesai, hewan-hewan yang telah disucikan ini akan dipotong beberapa hari kemudian sebagai bagian dari kelengkapan upacara.

Penutup

Penggunaan hewan dalam upacara di Bali bukanlah tindakan sembarangan, tetapi sebuah proses panjang yang melibatkan penyucian spiritual melalui upacara Mapepada.

Ritual ini tidak hanya menghormati roh hewan, tetapi juga memastikan bahwa mereka mendapatkan kehidupan yang lebih baik di alam berikutnya.

Upacara Mapepada mengungkapkan harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas yang mendalam, menjadikannya salah satu bagian paling misterius dan menarik dalam tradisi Hindu di Bali. Penasaran ingin menyaksikannya? *** 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #Lontar Tutur Widi Sastra Tapeni #tawur agung #sulinggih #Lontar Tatwa Rare Angon #hindu #mapepada #Lontar Aji Swamandala #Bhuta Yadnya