Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Langkah Umat Hindu untuk Pemuliaan Danau Batur Secara Niskala

Putu Agus Adegrantika • Kamis, 10 Oktober 2024 | 04:53 WIB
DOSEN : Dosen Filsafat Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Dr. Ayu Veronika Somawati, M.Fil.H
DOSEN : Dosen Filsafat Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Dr. Ayu Veronika Somawati, M.Fil.H

BALIEXPRESS.ID - Secara niskala,  pemuliaan Danau Batur juga berdasarkan Ritus, dimana merupakan suatu bentuk pemersatu masyarakat yang mampu mencegah kerusakan tatanan sosial.

Dengan mencegah terjadinya kerusakan tatanan sosial, maka kerusakan-kerusakan lanjutan termasuk kerusakan lingkungan dapat dicegah.

Secara niskala itu dapat dilaksanakan dengan mapiuning, merupakan suatu tradisi yang sudah dilaksanakan turun temurun.

“Khususnya sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan kepada Ida Bhatari Dewi Danu sebagai penguasa wilayah,” jelas  Dosen Filsafat Hindu, STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Dr. Ayu Veronika Somawati.

Sehingga masyarakat wajib menyampaikan apabila akan melaksanakan upacara keagamaan.

Diungkapkan juga, mapiuning  dilaksanakan mengingat masyarakat membutuhkan air suci Danau Batur sebagai pelengkap pada pelaksanaan upacara keagamaan.

Selanjutnya ada prosesi mendak toya, merupakan bentuk ungkapan syukur kepada penguasa air (Tuhan).

“Upacara ini adalah bagian dari subak sebagai simbol menjemput air, sebagai sumber kehidupan agar lahan pertanian dapat tumbuh subur tanpa kekeringan,” papar Vero yang disertasinya membedah terkait Pemuliaan Danau Batur.

Ritual mendak toya memiliki pemaknaan yang sangat strategis. Selain berkaitan dengan kepercayaan masyarakat mengenai keberadaan Ida Bhatari Dewi Danu sebagai penguasa Danau Batur yang airnya mengaliri sawah dan sebagai sumber kehidupan.

“Ini berkaitan dengan usaha masyarakat untuk memohon terjaganya kuantitas serta kualitas air, juga berkaitan dengan puncak jejaring subak.” Ungkap perempuan asli Bangli ini.

Vero juga menerangkan pada siklus tahunan di Pura Ulun Danu Batur, terdapat tiga upacara besar (ngusabha).

Yakni Ngusabha Kedasa ,momentum masyarakat Bali untuk mengucapkan terima kasih kehadapan Ida Bhatara-Bhatari Sakti Batur melalui persembahan sarin tahun atau sawinih.  Yaitu persembahan berbagai macam hasil panen masyarakat Bali.

Kedua ada Ngusabha Dimel, secara filosofis, Ngusaba Dimel digelar sebagai momentum Ida Bhatara-Bhatari Batur macecingak (memantau) wilayah kekuasaannya.

Sedangkan ketiga ada Ngusabha Kalima, ritual ini secara khusus dipersembahkan kehadapan Ida I Ratu Ayu Kentel Gumi untuk menetralisir hama tanaman dan segala macam wabah.

Pemuliaan Danau Batur secara niskala juga dilakukan dengan pakelem , ini sering juga disebut dengan ritual Danu Kerthi.

Pakelem secara esensial merupakan momentum membersihkan dan menyucikan danau (mabrěsihin segara alit).

Pada dasarnya, pelaksanaan ritual pakelem di Danau Batur sendiri ada yang dilaksanakan secara periodic maupun sewaktu-waktu apabila ada kejadian yang oleh masyarakat perlu dibuatkan ritual penyucian danau.

Selain pakelem ada ritual perarungan, ritual ini dilaksanakan khususnya oleh masyarakat Desa Songan. 

Setelah selesai dilaksanakannya suatu upacara di wilayah desa, ritual dilaksanakan sebagai ungkapan terimakasih atas air suci Danau Batur. ***

Editor : Putu Agus Adegrantika
#Pura Ulun Danu Batur #Pemuliaan Danau Batur #Kintamani Bangli