Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tak pernah Absen, Persembahan Soda sebagai Suguhan, Rerasmenan Simbol Isin Gumi  

I Putu Mardika • Jumat, 15 November 2024 | 03:34 WIB

Banten Soda menjadi sarana ritual yang selalu dipersembahkan bagi umat Hindu di Bali
Banten Soda menjadi sarana ritual yang selalu dipersembahkan bagi umat Hindu di Bali
BALIEXPRESS.ID-Penggunaan Soda menjadi sarana persembahan ritual bagi umat Hindu di Bali. Bahkan, sarana Soda tidak pernah absen dalam berbagai upacara yadnya.

Dalam upakara, dikenal istilah Soda atau disebut juga dengan banten ajuman. Kata soda diartikan suguhan atau persembahan. Dilihat dari warna penek (nasi yang dibentuk), banten soda dapat dibagi menjadi dua.

Ayu Putri Suryaningrat, Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Klungkung menjelaskan Soda dimaknai sebagai persembahan. Dalam banten apapun, Soda senantiasa dipersembahkan dalam upacara yang diselenggarakan Umat Hindu.

Dijelaskan Ayu Putri, Ada banten dua jenis banten Soda. Yakni soda putih yang umumnya dikenal soda dengan penek dua sama-sama berwarna putih.

Ada juga jenis soda putih kuning menggunakan penek 1 warna putih dan 1 kuning. Banten soda seringkali dipersembahkan hari suci seperti tilem, purnama, tumpek.

“Kuning ini dimaknai sebagai arti kebahagiaan dan putih artinya kesucian. Jadi dimaknai memberikan kebahagiaan lahir dan bathin,” jelasnya.

Layaknya sebuah suguhan yang dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dapat dihaturkan kapan saja dengan tetap dilengkapi dengan canang. Banten soda ajuman ini terdiri dari beberapa unsur bagian.

Berawal dari alasnya yang dapat berupa tamas, ceper ataupun taledan. Keseluruhan alasnya ini juga masing-masing memiliki makna. Jika menggunakan ceper atau taledan berbentuk persegi empat, dan ini memiliki makna perlambang swastika.

Ayu Putri mengatakan, jika menggunakan tamas, itu lebih pada lambang lingkaran, windu. Banten soda berisi buah pisang, buah-buahan, jajan, nasi atau penek, baik itu yang berwarna putih saja maupun putih kuning.

Kemudian ditambah juga penggunaan rarasmen atau kacang-kacang dan di atasnya juga disertai dengan sampian sodaan.

Ia menambahkan, pemaknaan setiap unsur yang digunakan dalam soda tersebut; Buah-buahan, pisang menjadi salah satu buah yang sangat diharapkan ada di setiap pembuatan upakara, demikian halnya dengan banten soda. Dalam pembuatan banten soda ajuman juga wajib menggunakan pisang.

“Pisang dapat dimaknai sebagai permohonan kita yang bersifat kekal, layaknya buah pisang yang senantiasa berupaya tumbuh hingga ia menghasilkan. Demikian kiranya diandaikan harapan dan perhonan kita yang tulus melalui persembahan banten soda,” paparnya.

Selain pisang juga ditambahkan penggunaan buah-buahan lain. Buah-buahan ini dimaknai sebagai hasil bumi. Jajan, penggunaan jajan dalam banten soda/ ajuman sesungguhnya ada yang disebut unsur matah unsur lebeng.

Baca Juga: Proyek Tol Gilimanuk-Mengwi, Bali Kembali Hidup, Warga Tabanan Harap Bukan hanya Janji-janji

Hal ini menonjol pada penggunaan jaja uli dan jaja gina. Konon dulu pilihan jajan gina uli tersebut ada yang matah/ mentah dan ada yang sudah digoreng.

Matah lebeng ini sendiri dapat kita maknai dengan sebelum dan sesudah. Hal ini berkaitan erat dengan kehidupan yang mengenal dulu, sekarang dan nanti, apa yang diperbuat dulu atau sekarang sangat berpengaruh terhadap keadaan nanti/ kedepan.

Kebiasaan unik yang masih kita jumpai hingga kini dalam pembuatan upakara di bali, adalah penggunaan jaja gina uli. Seakan 2 jenis jajan ini wajib ada. Penting diketahui bahwa jajan ini pun memiliki makna kasar halus, buruk baik, suka duka.

Ini mengembalikan pada kesadaran akan hidup itu akan senantiasa bertemu hal baik dan buruk, dan itu sama-sama harus terlewati dalam kehidupan. Apakah boleh menambahkan jajan lainnya? Tentu ini juga dibolehkan.

Pada dasarnya apa yang dipersembahkan pada beliau dengan rasa tulus, dengan untaian doa, nantinya persembahan yang telah dihantarkan dengan segenap energi positif kepada Ida Sang Hyang Widhi dapat diminta (tunas) dalam bentu prasadam.

Kemudian Nasi Penek, persembahan nasi yang dibentuk bulat gepeng, atau ada juga yang membentukknya dengan janur ataupun menggunakan wadah. Nasi ini umumnya disebut dengan penek.

Dalam pembuatan banten soda, ada yang menggunakan ajengan/ nasi hanya berwarna putih, dan ada yang menggunakan nasi berwarna putih dan kuning.

Lalu, Apa berbeda makna jika ada yang mempersembahkan sodaan dengan penek dari nasi putih saja dibandingkan dengan persembahan soda menggunakan nasi putih kuning ?

Dijelaskan Ayu Putri, dari tujuannya tentu sama-sama mempersembahkan sebuah suguhan kepada beliau, namun dalam pilihan sodaan putih kuning ada unsur pemaknaan lebih yang menunjukkan keikhlasan dan ada latar belakang sebuah permohonan kebahagiaan lahir batin.

Diambil dari pemaknaan unsur putih yang dapat diartikan suci dan unsur kuning itu menunjukkan keikhlasan.

Rerasmen, juga disebut suguhan yang berupa kacang-kacang ini merupakan isin gumi (isi bumi) ada unsur yang ada di darat juga laut, dan Sampian Soda, berbentuk segitiga ini dapat dimaknai utpeti stiti pralina, hal yang senantiasa berulang.

Ia menyebut Soda sebuah persembahan sebagai ungkapan terima kasih sebagaimana tertuang dalam kitab Bhagavadgita bab.IX sloka 26, disebutkan unsure-unsur pokok persembahan yang ditujukan pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa adalah bunga, di samping daun, air dan buah-buahan sebagaimana termuat dalam Bhagawadgita.

“Kalau dilihat dalam maknanya bahwa Siapapun yang dengan kesujudan mempersembahkan kepada Tuhan daun, bunga, buah-buahan atau air, persembahan yang didasari oleh cinta dan keluar dari lubuk hati yang suci, sudah pasti akan diterima,” tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Kuning #bali #soda #Banten #hindu #putih