Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mistis! Ada Macan Gaib yang Sering Menunjukkan Diri Pura Ulun Danu Pagubugan Negara, Dibangun karena Petani Gagal Panen

I Putu Mardika • Minggu, 24 November 2024 | 21:06 WIB

Pura Kahyangan Ulun Danu Pagubugan di kawasan Hutan Benel, Desa Berangbang, Jembrana
Pura Kahyangan Ulun Danu Pagubugan di kawasan Hutan Benel, Desa Berangbang, Jembrana
BALIEXPRESS.ID-Pura Kahyangan Ulun Danu Pagubugan di kawasan Hutan Benel, Desa Berangbang, Kecamatan Negara, Jembrana, merupakan tempa suci yang menjadi simbol pelestarian alam.

Pura ini tergolong unik, karena terletak di tengah hutan belantara (alas wayah) dan berdiri di atas batu besar pada pertemuan aliran sungai (pecampuhan), yang juga menjadi hulu mata air untuk Bendungan Benel.

Kepercayaan masyarakat sekitar menyebutkan bahwa Pura Kahyangan Ulun Danu Pagubugan dijaga oleh ancangan berupa macan (harimau) yang diyakini sebagai pelindung kawasan hutan.

Keberadaan ancangan ini menjadikan pura tidak hanya sakral secara spiritual, tetapi juga menjadi simbol perlindungan terhadap ekosistem di sekitarnya.

Akses menuju pura ini tidak mudah, mengingat lokasinya yang terpencil. Pengunjung dapat melalui jalan lurus di utara Bendungan Benel di wilayah Desa Manistutu, Kecamatan Melaya.

Jalur ini sebagian berupa jalan rabat beton dan tanah sepanjang 1,5 kilometer hingga mencapai ujung jalan yang terputus oleh sungai.

Di lokasi tersebut terdapat basecamp Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Manistutu Camping Ground (Mantu Cager), yang menjadi titik awal perjalanan lebih lanjut menuju pura.

Untuk mencapai pura, pengunjung harus menyeberangi sungai dan melanjutkan perjalanan melalui jalan tanah sepanjang 1,2 kilometer ke arah utara.

Medan yang cukup ekstrem ini hanya dapat dilalui oleh kendaraan off-road atau dengan berjalan kaki.

Perjalanan melewati hutan ini menjadi pengalaman tersendiri bagi para pengunjung sebelum mencapai pura.

Menurut salah satu tokoh pengempon pura, I Ketut Riasna, Pura Kahyangan Ulun Danu Pagubugan telah ada sejak sekitar tahun 1945, pasca masa penjajahan Jepang.

Pura ini didirikan berdasarkan petunjuk gaib yang diterima oleh para petani di Desa Kaliakah, Kecamatan Negara, saat mengalami gagal panen berkepanjangan.

“Sosok berpakaian putih yang dipercaya sebagai Ida Bhatara memberi petunjuk tentang lokasi pura di tengah hutan,” katanya.

Petunjuk tersebut mengarahkan para utusan untuk mencari sebuah batu besar di pecampuhan sungai, yang ditandai dengan keberadaan dua pohon jepun dan dua pohon durian.

Meski pencarian memakan waktu lama, para utusan akhirnya berhasil menemukan lokasi setelah mengikuti suara gong siyem, yang ternyata merupakan auman macan, hingga akhirnya mendirikan palinggih (tempat suci) tumpang tiga di lokasi tersebut.

Sejak saat itu, masyarakat sekitar percaya bahwa pura ini menjadi tempat sakral untuk memohon keselamatan pertanian.

Setelah upacara dilakukan di pura, para petani yang sebelumnya mengalami gagal panen akhirnya dapat memanen hasil dengan baik. Kepercayaan akan perlindungan Ida Bhatara dan ancangan macan di pura ini terus diwariskan hingga kini.

Macan yang diyakini sebagai ancangan Ida Bhatara di pura ini digambarkan memiliki beragam wujud, seperti berwarna putih, hitam, dan poleng (hitam-putih).

Macan tersebut sering menampakkan diri dengan ukuran yang bervariasi, mulai dari sebesar kucing hingga sebesar kuda.

“Keberadaan ancangan ini semakin memperkuat keyakinan masyarakat terhadap kesakralan pura,’ katanya

Pengempon utama Pura Kahyangan Ulun Danu Pagubugan terdiri dari para krama subak dari beberapa desa di sekitar, seperti Desa Kaliakah, Desa Baluk, dan Desa Manistutu.

Total terdapat 15 subak, yang terdiri dari subak sawah dan subak abian, yang bertanggung jawab menjaga dan melestarikan pura.

Pada tahun 2013 hingga 2018, pengempon pura berinisiatif membangun penataran di sekitar pura utama. Pembangunan ini bertujuan untuk menyucikan area pura luhur yang dianggap terlalu sempit dan rawan menjadi kotor.

Rahina odalan di Pura Kahyangan Ulun Danu Pagubugan dirayakan setiap Anggara Kasih Perangbakat. Karena akses menuju lokasi yang sulit, upacara piodalan utama hanya dilaksanakan setahun sekali. Pada periode enam bulan berikutnya, dilakukan upacara ngerahinin yang lebih sederhana.

Pura Kahyangan Ulun Danu Pagubugan tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga simbol keharmonisan manusia dengan alam.

Dengan sejarah yang kuat dan kepercayaan yang melekat, pura ini tetap menjadi pusat spiritual dan tradisi bagi masyarakat Bali. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#Ulun danu Pagubugan #macan #hindu #pura #gaib #negara #jembrana