Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Ritual Bayuh Oton Upaya Mendayuhkan Kelahiran, Diruwat dengan 16 Jenis Air

I Putu Mardika • Selasa, 26 November 2024 | 00:21 WIB

 

Bayuh Oton dilaksanakan sebagai upaya untuk meneduhkan hari kelahiran
Bayuh Oton dilaksanakan sebagai upaya untuk meneduhkan hari kelahiran
BALIEXPRESS.ID-Bayuh oton menjadi ritual penting sebagai penyucian bagi umat Hindu. Ritual ini sebagai implementasi dari konsep Panca Sradha, tepatnya Karmaphala dan Punarbhawa atau kelahiran berulang-ulang.

Secara leksikal kata bayuh oton terdiri dari dua kata yaitu  kata bayuh sejenis dengan kata dengan ayuh atau dayuh. Dayuh dalam bahasa bali artinya sejuk atau menyegarkan.

Bayuh dimaksudkan menyejukan manusia dari hal-hal yang bersifat keras atau panas dari bawaan kelahirannya.

Sedangkan kata oton dalam bahasa jawa kunonya wotu yang artinya lahir. Dengan demikian bayuh oton mengarah pada arti panyucian dan pebersihan. Baya oton ataupun bayuh oton muncul dalam budaya bali dan bersumber dari lontar pawatekan, Wewatekan artinya watak dan tabiat.

Jadi pewatekan artinya usaha manusia untuk mengidentifikasi watak atau tabiat manusia. Jadi makna dari makna baya oton atau bayuh oton adalah bentuk ritual yang berfungsi meruwat bahaya (baya) kelahiran dan nasib malang.

Baca Juga: Ngeri! Sopir Bus Kurang Konsentrasi, Dua Motor Diseruduk hingga Masuk Kolong Bus: Begini Nasib para Pemotor

Sedangkan oton adalah jangka waktu enam bulan bali (210 hari), dipakai untuk menghitung umur anak kecil. Maotonan artinya merayakan hari lairnya. Ngotonin bermakna merayakan hari lahir anaknya.

Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Gianyar, Ida Bagus Putu Wiadnyana Manuaba, S.Ag, M.Sos menjelaskan otonan berarti hari kelahiran manusia dalam hitungan wewaran dan wuku dalam system wariga bali, yang mana perhitungan harinya dating setiap 210 hari sekali.

“Tidak jarang upacara bayuh oton dilakukan dalam kondisi tertentu seperti gangguan jiwa, penyakit kronis, atau sering mengalami kesialan atau kecelakaan. Jadi Bayuh oton ini sarat makna untuk mendayuhkan segala kesialan” jelasnya.

Dijelaskan Ida Bagus Wiadnyana, tradisi bayuh oton untuk memberikan kesegaran spiritual bagi manusia, membantu menetralkan beban bawaan yang keras atau panas dari saat lahir serta bertujuan untuk menyejukkan diri dari hal-hal negatif dan menetralisir karma buruk.

Bayuh oton dianggap sebagai momen penting untuk menetralkan penderitaan bawaan sejak lahir serta untuk membersihkan seseorang dari dampak buruk tanggal lahir dan karma yang merugikan. Bahwa bayuh oton memiliki potensi untuk memperbaiki karakter anak-anak.

Baca Juga: Bupati Giri Prasta Sampaikan Jawaban Pemerintah terhadap Ranperda APBD Kabupaten Badung Tahun 2025

Bahwa masyarakat Hindu Bali percaya bahwa karakter seseorang bisa terbentuk sejak lahir, dan jika ada utang atau beban saat lahir, akan mempengaruhi karakter mereka saat dewasa. Faktor-faktor ini ditentukan berdasarkan perhitungan astrologis seperti pancawara, saptawara, dan pawukon.

Ini menunjukkan bahwa tradisi ini tidak hanya merupakan warisan budaya, tetapi juga memiliki kedalaman spiritual dan kesesuaian dengan kebutuhan individu. Bayuh oton dilaksanakan untuk menetralisir derita bawaan sejak lahir.

Selain itu juga untuk mengurangi pengaruh Sad Ripu (sifat-sifat keraksasaan); menghilangkan kesakitan dan kesialan; memperbaiki karakter anak; dan menyelamatkan manusia dari akibat keburukan hari lahir dan karma phala. Bayoh oton biasanya dilakukan pada kondisi tertentu, seperti kelainan jiwa, sakit berkepanjangan, sering dirundung kesialan atau kecelakaan.

Menurut besar kecilnya upakara, bayoh oton dapat dibedakan atas tingkatan Nista dengan melaksanakan japa mantra secara rutin dan terus menerus, sesuai dengan kelahiran seseorang yaitu japa gemana kelahiran sesuai dengan petunjuk lontar janma prawrtti.

Sedangkan dari tingkatan Madya dengan melaksanakan atau melakukan tirtayatra sesuai dengan tenung atau lontar pewatekan. Namun, dengan memperhitungkan urip dari kelahiran seseorang, pastinya dengan menghaturkan sesaji atau banten sebagai upasaksi untuk melakukan pangelukatan.

Tingkatan Utama dengan melakukan pelaksanaan yadnyanya dan gabungan dari japa mantra, tirtayatra dan yadnyanya atau upakaranya. Dalam Lontar Wraspati Kalpa bahwa lokasi pelaksanaan mebayuh bervariasi tergantung pada perhitungan pancawara, saptawara, dan pawukon.

Baca Juga: Pimpin Apel Kesiapsiagaan Pilkada 2024, Bupati Tamba Apresiasi Peran Aktif Satpol PP Jaga Keamanan di Jembrana

Sebagai contoh, seseorang yang lahir pada hari Redite (Minggu) dikenai pengaruh Dewa Sang Hyang Indra. Di Paibon, soroh 5 (lima), dengan Sesayut Kusumajati, Air 16 warna, dan Puja Marga gamana menjadi bagian dari upacara Bebayuhan yang wajib dilakukan.

Menurut Wraspati Kalpa dan lare mijil, tempat-tempat untuk melakukan pemayuhan termasuk di kandang sapi, pohon jeruk, sungai, campuhan, dan pantai, kreteg, pateluan, perempatan agung.

“Jika mebayuh oton dilakukan di dapur, ini menandakan pengaruh Bhatara Brahma. Sementara jika dilakukan di laut, pengaruhnya adalah Dewa Baruna,” paparnya.

Lokasi pemayuhan selalu disesuaikan dengan hari kelahiran seseorang. bahwa mebayuh oton adalah kewajiban bagi setiap individu, dan dapat dilakukan sebanyak tiga hingga lima kali selama hidupnya.

"Intinya, seseorang dapat mebayuh setelah mencapai usia yang memungkinkan untuk melakukan nunas tirta. Sumber air suci juga bervariasi, termasuk danau, campuhan, kelebutan, sungai, pancoran, dan segara,” tutupnya. (dik)

Keterangan foto

Editor : I Putu Mardika
#hari lahir #Panca Sradha #Otonan #bayuh oton #hindu