Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Jadi Tititk Ngerebeg hingga Tawur, Catus Phata Dianggap Sebagai Sumber Energi

I Putu Mardika • Sabtu, 30 November 2024 | 04:21 WIB

Mecaru di Catus Phata Agung Kota Singaraja yang diyakini sebagai simpul energi
Mecaru di Catus Phata Agung Kota Singaraja yang diyakini sebagai simpul energi
BALIEXPRESS.ID-Jalan pempatan terdiri dari empat ruas jalan yang saling memotong tegak lurus, terkadang disebut sebagai margi nyatur desa. Pempatan Agung atau Catus Patha, adalah pempatan yang lebih besar yang terletak di lokasi Puri.

Nyoman Ariyoga mengatakan, Pempatan Agung atau Catus Patha adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan pusat wilayah yang terdiri dari fungsi-fungsi tersebut di atas.

“Catus Patha menjadi titik yang menyatukan sumbu Kaja-Kelod sebagai representasi alam (Gunung-Laut, atau Hulu-Teben), dan KanginKauh sebagai representasi edar matahari, yang diartikan sebagai terbit "lahir" dan terbenam "mati",” katanya.

Sebagian orang percaya bahwa titik Catus Patha ditetapkan berdasarkan saat edar dan posisi matahari terhadap bumi setiap bulan.

Catus Patha dianggap sebagai sumber energi ruang wilayah yang bekerja sama dengan budaya. Dan dipakai untuk hal-hal upacara yang berbentuk ngider bhuwana, Purwa Daksina maupun Prasawya, selalu ada di setiap areal Catus Patha.

Ini memiliki elemen Puri (Istana), Wantilan (ruang terbuka publik), alun-alun (ruang terbuka hijau), dan Peken (pasar) dulunya. Konsep religius ini dianggap sebagai tempat bersemayamnya Dewa Brahma (catur wajah).

Baca Juga: Sering Jadi Pusat Ritual Khusus, Ini Alasan Catus Phata Agung sangat disakralkan

Akibat pergeseran-pergeseran tatanan bisnis tidak menghilangkan makna tata ruang yang masih diyakini memiliki nilai magis dan menjadi pusat upacara-upacara besar dalam pemerintahan.

“Bukan hanya dalam ranah tata ruang akan tetapi dalam ranah sosial juga sangat identik dilakukan di Catus Patha Agung,” katanya.

Ada Sejumlah ritual yang pelaksanannya difokuskan di Catus Patha Agung. Sebut saja Tawur Kesanga, yang dilaksanakan sehari sebelum Hari Raya Nyepi.

Pada ritual ini, catus patha dipilih sebagai tempat untuk melakukan pecaruan, yakni persembahan kepada Bhuta Kala, kekuatan alam yang bersifat negatif

Selain Tawur Kesanga, upacara Ngerebeg juga sering dilaksanakan di catus patha.

Ritual ini merupakan tradisi menetralisir kekuatan jahat dari lingkungan desa dengan melibatkan iring-iringan masyarakat yang membawa simbol magis, seperti ogoh-ogoh atau topeng sakral.

Ngerebeg mencerminkan filosofi menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan kekuatan tak terlihat, sekaligus menegaskan peran catus patha sebagai titik pertemuan energi kosmis.

Upacara Pecaruan atau Bhuta Yadnya juga sering diadakan di catus patha sebagai bagian dari piodalan desa atau acara adat lainnya.

Baca Juga: Balian Perempuan di Buleleng Dibacok Seorang Laki-laki

Pecaruan bertujuan untuk menciptakan harmoni antara kekuatan positif dan negatif yang berkumpul di simpang empat, yang diyakini sebagai pertemuan energi alam.

Persembahan berupa banten, seperti tumpeng robyong dan daksina, dipersembahkan di catus patha untuk menenangkan Bhuta Kala.

“Dengan pelaksanaan upacara-upacara ini, catus patha tidak hanya menjadi tempat simbolik dalam kehidupan adat, tetapi juga berfungsi sebagai penghubung spiritual antara manusia, leluhur, dan alam semesta,” tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#pecaruan #Perempatan #sumber energi #Ngerebeg #Catus Phata Agung