Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Aborsi atau Keguguran dalam Pandangan Hindu Bali: Dampak Niskala dan Solusi melalui Upacara Warak Keruron

I Putu Suyatra • Minggu, 1 Desember 2024 | 17:10 WIB

Warak Keruron
Warak Keruron

BALIEXPRESS.ID - Pernahkah Anda mendengar tentang dampak aborsi yang tak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga secara niskala? Dalam ajaran agama Hindu Bali, aborsi dianggap sebagai tindakan yang memiliki konsekuensi besar baik di dunia nyata maupun di alam spiritual.

Tidak hanya ibu, tetapi juga ayah calon janin disebut akan menanggung dampaknya seumur hidup.

Apa yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana cara untuk mengurangi beban tersebut?

Aborsi dalam Perspektif Hindu

Menurut Ida Mpu Yogi Swara dari Griya Uma Jati, aborsi dalam agama Hindu disebut Dhanda Bharunana, sedangkan keguguran yang tidak disengaja disebut Warak Keruron. Meskipun penyebabnya berbeda, dampak yang ditimbulkan memiliki kesamaan.

“Aborsi atau keguguran tidak hanya memengaruhi kesehatan mental dan fisik, tetapi juga membawa dampak niskala yang berat bagi pasangan,” jelasnya.

Dampak yang sering dialami antara lain adalah perasaan gelisah, kesulitan dalam mencari rezeki, hingga kecelakaan yang terjadi berulang kali.

Hal ini disebabkan karena Atman janin yang diaborsi belum kembali ke alam Suarga dan terus mengikuti orang tuanya di dunia.

Upacara Warak Keruron: Solusi Spiritual

Untuk menangani dampak niskala akibat aborsi, Ida Mpu Yogi Swara menekankan pentingnya melaksanakan Upacara Warak Keruron atau Pangepah Ayu.

Prosesi ini bertujuan untuk mengantarkan Atman janin ke alam Suarga sehingga dapat bereinkarnasi kembali.

Warak Keruron bukan hanya untuk janin yang diaborsi, tetapi juga bagi janin yang gugur secara tidak disengaja,” ungkapnya.

Upacara ini melibatkan beberapa tahapan, mulai dari ritual di rumah (Sanggah Kemulan), hingga prosesi puncak di laut menggunakan Segehan Rare, simbol janin yang dihanyutkan.

Tahapan Ritual Warak Keruron

  1. Guru Piduka di Sanggah Kemulan
    Ritual awal ini dilakukan untuk meminta maaf dan pengampunan. Persiapannya sederhana, cukup dengan Pajati, Tipat, dan Sasayut Guru Piduka.

  2. Macaru Sapuh Awu
    Tahapan ini dilakukan di tempat aborsi atau keguguran terjadi, dengan tujuan membersihkan energi negatif.

  3. Prosesi Puncak di Laut
    Diakhiri dengan menghanyutkan Segehan Rare yang berbentuk janin, melibatkan kelapa yang dibungkus kasa sebagai simbol Atman.

Bukan untuk Membenarkan Aborsi

Ida Mpu Yogi Swara menegaskan bahwa ritual ini bukan pembenaran untuk praktik aborsi ilegal.

“Aborsi tetaplah salah. Agama apapun tidak pernah membenarkan pembunuhan, apalagi terhadap darah daging sendiri. Upacara ini hanya untuk membantu mereka yang ingin memperbaiki kesalahan di masa lalu,” tandasnya.

Pesan Penting

Aborsi tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik dan mental, tetapi juga meninggalkan beban spiritual yang berat.

Jika Anda atau orang di sekitar Anda pernah menghadapi situasi serupa, Upacara Warak Keruron dapat menjadi langkah untuk membersihkan diri secara niskala.

Jangan ragu untuk mencari bantuan dari pemangku adat atau tokoh spiritual untuk menjalani proses ini.

Aborsi adalah keputusan yang membawa konsekuensi besar, namun setiap kesalahan bisa ditebus dengan langkah yang tepat. *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #warak keruron #keguguran #aborsi #hindu