BALIEXPRESS.ID - Dalam tradisi Hindu Bali, kematian seseorang tidak hanya berakhir pada prosesi penguburan atau kremasi. Konon, Atman atau roh dari seseorang yang meninggal dunia masih berada di lokasi tempat ia menghembuskan napas terakhirnya.
Hal ini memunculkan pertanyaan besar, terutama jika kematian terjadi secara mendadak seperti kecelakaan, pembunuhan, atau bunuh diri: bagaimana nasib Sang Atman?
Atman yang Terjebak di Lokasi Kematian
Menurut kepercayaan Hindu Bali, Atman yang meninggal secara tiba-tiba cenderung tetap berada di tempat kejadian, baik itu di rumah, jalan raya, laut, rumah sakit, atau lokasi lainnya.
Untuk mengantar Sang Atman kembali ke rumah dan melanjutkan tahapan prosesi Pitra Yadnya, masyarakat Bali melaksanakan upacara Ngulapin.
“Upacara Ngulapin adalah upacara pra-Pitra Yadnya yang bertujuan agar roh yang meninggal tidak bergentayangan,” jelas Ida Pandita Mpu Nabe Jaya Acharya Nanda saat ditemui di Denpasar, kemarin.
Upacara untuk Roh yang Meninggal Mendadak
Sulinggih yang juga seorang dosen di IHDN Denpasar ini menambahkan bahwa roh yang meninggal mendadak, seperti akibat kecelakaan, sering kali tetap berada di lokasi kejadian meski jenazah sudah dibawa pulang oleh keluarga.
“Oleh sebab itu, penting bagi keluarga korban untuk melaksanakan upacara Ngulapin sebelum mengurus Pitra Yadnya,” ungkapnya.
Namun, ia menegaskan bahwa Ngulapin hanyalah langkah awal.
“Setelah Sang Atman diajak pulang, keluarga masih perlu melaksanakan upacara Ngaben atau kremasi untuk menuntaskan prosesi Pitra Yadnya,” terangnya.
Ritual dan Sarana Upacara Ngulapin
Upacara Ngulapin biasanya dipimpin oleh pemangku atau pinandita.
Sarana yang digunakan mencakup banten Pangresikan yang terdiri dari Byakaon, Durmenggala, Prayascita, dan Pangulapan.
Selain itu, terdapat banten Ayaban Tumpeng Lima yang dilengkapi dengan Sanggah Urip sebagai tempat stana Sang Atman.
“Sanggah Urip ini nantinya juga akan digunakan dalam prosesi Ngaben. Fungsinya sebagai tempat stana Atman agar tetap berada di dekat jenazah selama prosesi berlangsung,” jelas Ida Pandita.
Dampak Jika Upacara Ngulapin Tidak Dilakukan
Apa yang terjadi jika upacara Ngulapin tidak dilakukan? Menurut Ida Pandita, secara skala (dunia nyata), tidak ada dampak langsung.
Namun, secara niskala (spiritual), Atman yang tidak diajak pulang akan gentayangan.
“Walaupun jenazah sudah diupacarai, tanpa Ngulapin, Pitra Yadnya dianggap kurang sempurna karena tujuannya adalah untuk Sang Atman, bukan hanya tubuh kasarnya,” tegasnya.
Makna Penting dan Kesederhanaan Upacara Ngulapin
Upacara Ngulapin memang sederhana, baik dari segi pelaksanaan maupun biaya. Namun, fungsinya sangat vital dalam menuntun Sang Atman.
“Tidak mahal kok, bantennya sederhana. Tapi, dampaknya besar bagi Sang Atman,” ujar Ida Pandita.
Bagi keluarga yang ditinggalkan, ritual ini menjadi langkah penting untuk memastikan roh orang yang meninggal mendapatkan perjalanan spiritual yang layak.
Terutama bagi mereka yang meninggal secara mendadak, Ngulapin menjadi cara untuk menjaga harmoni antara dunia nyata dan dunia niskala.
Maka dari itu, masyarakat Bali sangat dianjurkan untuk melaksanakan ritual ini agar Sang Atman tidak gentayangan dan dapat melanjutkan perjalanan menuju alam selanjutnya dengan damai. ***
Editor : I Putu Suyatra