Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengapa Ada Prosesi Memutar Jenazah Umat Hindu Bali di Catus Pata? Berikut Penjelasannya

I Putu Suyatra • Kamis, 12 Desember 2024 | 00:33 WIB
Catus Pata memiliki makna khusus bagi umat Hindu Bali
Catus Pata memiliki makna khusus bagi umat Hindu Bali

BALIEXPRESS.ID - Catus Pata, perempatan jalan yang kerap dijumpai di setiap wilayah di Bali, mulai dari titik nol provinsi, kabupaten, kecamatan, desa, hingga pekarangan rumah, menyimpan nilai sakral yang tak tergantikan bagi umat Hindu.

Lebih dari sekadar konsep tata ruang pemukiman, Catus Pata memiliki dimensi spiritual yang mendalam bagi umat Hindu Bali.

Di lokasi ini, berbagai upacara penting digelar, menandai perannya sebagai pusat niskala yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat Hindu Bali.

Salah satu tradisi menarik adalah prosesi memutar jenazah melawan arah jarum jam di Catus Pata sebelum menuju setra. Tradisi ini disebut sebagai "prasawya" dan memiliki makna mendalam.

Menurut Jero Dalang I Made Tragia, tokoh adat Desa Sayan, Ubud, prosesi ini melambangkan kembalinya roh ke titik nol atau asal mula kehidupan.

"Jika prosesi ini tidak dilakukan, roh bisa saja linglung, tidak menemukan jalannya, dan keluarga yang ditinggalkan berpotensi menghadapi berbagai hambatan," jelasnya saat diwawancarai.

Catus Pata juga dipandang sebagai pusat spiritual yang dikuasai oleh empat Sang Kala, yaitu Sang Kala Katung (dewa pasar di utara), Sang Kala Moha (tukang hemat di timur), Sang Kala Wisaya (bobotoh di selatan), dan Sang Kala Ngadang (penguasa jalan di barat).

Keempatnya merepresentasikan dinamika kehidupan manusia yang mengharuskan kembalinya sang atma ke titik nol setelah meninggal dunia.

Tradisi dan Ritual di Catus Pata Desa Sayan

Bendesa Adat Sayan, dr. Tjok Gde Ardana, mengungkapkan bahwa Catus Pata di desanya kini telah diupacarai secara resmi.

"Kami telah melaksanakan Pemarisuda Bumi Taur Wraspati Kalpa di perempatan jalan depan Balai Banjar Pande, Desa Sayan, Ubud. Meski pelinggihnya baru 70 persen rampung, upacara di titik nol desa tetap berjalan sesuai tradisi," jelasnya.

Sebelum memiliki Catus Pata resmi, masyarakat Desa Sayan biasa melakukan upacara di depan Bale Agung, Pura Puseh, dan Pura Desa.

Kini, hampir setiap banjar di desa tersebut memiliki Catus Pata masing-masing, menegaskan pentingnya perempatan jalan sebagai pusat kegiatan adat dan spiritual.

Makna Mendalam "Ngider Bhuwana"

Prosesi memutar di Catus Pata dikenal sebagai "ngider bhuwana," yang terbagi menjadi dua: Purwa Daksina, yaitu putaran ke kanan untuk simbol penciptaan, dan Prasawya, putaran ke kiri yang melambangkan peleburan atau pengembalian ke titik nol.

Tradisi ini bukan sekadar ritual, tetapi juga refleksi perjalanan kehidupan manusia dalam lingkaran karma dan reinkarnasi.

Rangkaian tradisi dan makna di balik Catus Pata menunjukkan betapa sakralnya lokasi ini dalam kehidupan masyarakat Bali.

Sebagai titik nol niskala, Catus Pata menjadi tempat di mana berbagai dimensi kehidupan bertemu, menjadikannya pusat spiritual yang tak tergantikan di tengah dinamika budaya Bali.

Apakah Anda pernah menyaksikan langsung prosesi unik ini di Catus Pata? *** 

 

Editor : I Putu Suyatra
#bali #Perempatan #hindu #tradisi #Catus Pata #jenazah