Tokoh masyarakat Kelurahan Banyuning, Nyoman Suardika, S.Ag. M.Fil.H, permaianan tradisional ini dilaksanakan saat Piodalan Agung Pura Gede Pemayun, Desa Pakraman Banyuning yang jatuh tiap Buda Kliwon Ugu atau setiap setahun sekali.
Permainan pun dilaksanakan di areal Pura Gede Pemayun. Bahkan tradisi ini merupakan wujud syukur karena telah labda karya.
Majaran-jaranan menurut Komang Suar asal mulanya yaitu “Jaran”.Jaran atau kuda merupakan salah satu binatang sebagai simbol “Indria”.
Baca Juga: Penasaran! Begini Karakteristik Kelahiran Berdasarkan Gabungan Tri Wara dan Sad Wara
“Kalau makna secara filosofis permainan Majaran-jaranan merupakan simbol pengendalian indria yang harus dimulai dan dibiasakan dari diri sendiri dan sejak dini dalam bentuk permainan,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group)
Permaianan ini memiliki sejarah tersendiri. Dikatakan Suardika, diceritakan pada jaman Raja Bedahulu telah kehilangan seekor kuda yang bernama Once Srawana.
Sehingga sang raja bersabda kepada rakyatnya untuk mencari kudanya yang hilang tersebut. “Agar ditemukan baik dalam keadaan hidup maupun mati, dan barang siapa yang menemukannya akan diberikan hadiah,” imbuhnya.
Rakyat segera melaksanakan titah raja dan segera berangkat secara berkelompok, ada yang ke arah timur dan ke barat.
Kelompok yang berangkat ke arah timur berhasil menemukan kuda tersebut. Pada saat itu juga untuk mengenang kejadian ini dibuatkanlah permainan Majaran-Jaranan di Desa Banyuning.
Permainan Majaran-jaranan ini diikuti dengan Makering Endut atau bermandi lumpur. Permainan ini juga sebagai rangkaian Pujawali di Pura Gede Pemayun.
Dimana permainan ini dilakukan di jaba pura yang diikuti oleh anak-anak maupun remaja Desa Banyuning.
“Teknis dari permaianan ini yaitu dibuat 2 kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 10 orang,” bebernya.
Masing-masing kelompok bersiap-siap membuat formasi permaian, dan terdapat satu pemain yang diangkat dari masing-masing kelompok tersebut, disanalah mereka bergulat mengadu kekuatannya, bagi salah satu kelompok yang jatuh dianggap kalah dan yang masih tetap bertahan dinyatakan menang.
Iringan Lagu Permaianan majaran-jaranan ini disertai dengan iringan lagu yang dinyanyikan oleh para pemain selama permainan berlangsung.
Dikatakan Suardika ada lirik lagu yang khsusu diucapkan saat mejaran-jaranan.
Jalan-jalan jani majaran-jaranan Yening tusing numbrag bakat pecut kai Lamon legin tusing maan upah Yening jemet kasayang kai Penunggangne menek jaranne manungging Melaib jaranne pada ngalih musuh Yen suba pada mengalahang musuh Sinah melah ne kaucap
Sementara itu permainan makering-keringan atau colek-colekan endut menjadi salah satu hiburan masyarakat yang tentunya sangat ditunggu-tunggu.
Mengingat permainan ini bukanlah kegiatan bersifat umum, lantaran hanya diadakan setahun sekali.
Terbilang sakral, karena makering-keringandan colek-colekan endut masih merupakan rangkaian acara pujawali.
Tradisi ini dipelopori oleh remaja lokal, puluhan remaja dengan wajah serta badan contrang-contreng penuh lumpur berjejer di Balai Masyarakat Lingkungan Tengah, Kelurahan Banyuning.
Mereka memang sengaja melumuri wajah dengan lumpur sambil menunggu kedatangan rekan-rekan lainnya yang notebene masih warga setempat untuk diajak ngayah dalam permainan makering-keringan dan colek-colekan endut.
Baca Juga: Pernikahan Anak di Jawa Timur: Fenomena Ribuan Janda Usia Sekolah dan Penurunan Dispensasi Nikah
“Yang ikut sampai puluhan anak-anak yang tubuhnya penuh coretan lumpur bertempur saling serang dalam sebuah kubangan yang sebelumnya sudah disiapkan,” jelasnya.
Selama permainan berlangsung, mereka tidak lagi peduli akan penampilan, wajah hingga badan coreng moreng dengan lumpur.
Bahkan beberapa orang bertindak lebih jauh dengan berdandan bagai makhluk rawa.
Tubuh berlumur lumpur, lengkap dengan balutan kain dikepala.
Selesai melaksanakan permainan makering-keringan ini seluruh warga berbondong-bondong untuk ke sungai Candi Kuning yaitu untuk membersihkan dirinya dari lumpur dan arang.
Permainan tradisional majaran-jaranan dan makering endut tergolong sakral. Pasalnya, sebelum tradisi ini dimulai.
Seluruh pemuda yang akan mengikuti permainan tradisional ini dikumpulkan pada utamaning mandala Pura Gede Pemayun untuk melakukan ritual persembahyangan yang dipimpin oleh pemangku pura.
“Para pemuda diajarkan untuk senantiasa menghaturkan puja kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa/ Tuhan Yang Maha Esa dengan mengucapkan rasa syukur dan memohon kekuatan agar selama prosesi majaran-jaranan dan makering endut diberikan kelancaran,” ungkapnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika