Pura ini terletak di Bendesa Desa Adat Kapal, Kabupaten Badung, Pura Sada adalah saksi bisu perjalanan panjang sejarah dan perkembangan spiritual di Bali.
Tokoh Adat Kapal, I Ketut Sudarsana, mengungkapkan, pura ini dibangun pada masa pemerintahan Sri Jaya Sakti sekitar tahun 1059 Saka atau 1137 Masehi, menjadikannya salah satu situs penting dalam lintasan sejarah Bali.
Pura Sada awalnya menganut kepercayaan Surya Kencana sebelum berkembang menjadi agama Siwa Budha. Sri Jaya Sakti, penguasa Bali pada abad ke-12, adalah tokoh penting di balik pembangunan pura ini.
Di masa kekuasaan raja-raja Bali berikutnya, Pura Sada mengalami berbagai restorasi, salah satunya pada tahun 1339 Masehi yang dipimpin oleh Ki Kebo Iwa Karang Buncing dari Blahbatuh.
Proses restorasi ini melibatkan lima kelompok Pasek yang terdiri dari 275 orang. Mereka diberi penghormatan khusus dalam sebuah ritual di jaba Pura Sada dan bergelar Sedan Pengutikan.
Namun, seiring waktu, hanya 27 dari mereka yang kini dikenal sebagai parekan Pura Sada.
Sudarsana menjelaskan, Pura Sada mencerminkan jejak perkembangan agama Budha di Bali, yang kemudian bertransformasi menjadi Siwa Budha.
Hal ini dibuktikan dengan adanya stupa di area pura, salah satu peninggalan khas Budha Mahayana yang juga ditemukan di berbagai situs di Bali.
Uniknya, Pura Sada tetap menarik perhatian warga keturunan Tionghoa yang kerap bersembahyang di pura ini saat perayaan Imlek.
“Ini menunjukkan bahwa Pura Sada tidak hanya sebagai pusat spiritual Hindu, tetapi juga simbol keberagaman budaya dan agama di Bali,” ujar Sudarsana.
Nama "Pura Sada" sendiri berasal dari kata "Prasada," merujuk pada candi yang menjadi bangunan utama pura.
Perubahan nama ini terjadi seiring waktu, dari Prasada menjadi Pura Sada, yang menegaskan pentingnya situs ini dalam dinasti Sri Jaya Sakti.
Baca Juga: Ribuan Calon PPPK tak Lulus Seleksi, Ketua DPRD Tabanan Bahas Anggaran: Akan Diperjuangkan
Sudarsana juga menepis anggapan bahwa candi di Pura Sada adalah makam. “Candi di Jawa digunakan untuk makam, tetapi di Bali, candi adalah tempat pemujaan kepada Siwa. Kata 'candi' sendiri berasal dari 'Candika,' yang berarti Siwa,” jelasnya.
Di bawah candi utama, terdapat sumur misterius yang kedalamannya belum diketahui hingga kini. Pada tahun 1949, percobaan mengukur lubang ini dengan tali dan pemberat tidak berhasil, menimbulkan keyakinan masyarakat bahwa lubang ini mungkin tembus hingga laut.
Pura Sada dibangun dengan konsep Tri Mandala, yang membagi kawasan pura menjadi tiga zona: Nista Mandala (Jaba Sisi), Madya Mandala (Jaba Tengah), dan Utama Mandala (Jeroan). Setiap zona memiliki pelinggih atau bangunan suci yang mewakili manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Di Nista Mandala, terdapat Pelinggih Ratu Sedahan Bingin, Pelinggih Jaran, dan lainnya. Madya Mandala mencakup Bale Gong, Gedong Parerepan, dan Bale Kulkul.
Sementara itu, Utama Mandala menjadi lokasi prasada utama dan berbagai pelinggih penting seperti Pelinggih Ratu Manik Galih dan Pelinggih Gunung Batur.
Selain fungsi religius, Pura Sada juga memiliki nilai historis sebagai simbol kekuasaan kerajaan di Bali. Keberadaan pelinggih di pura ini mencerminkan hierarki sosial dan politik pada masa lalu, dengan raja sebagai figur sentral.
Pura Sada juga menjadi pusat aktivitas budaya. Ritual-ritual di pura ini melibatkan seni tari, musik, dan drama tradisional yang memperkaya identitas budaya Bali.
“Seni di Bali adalah persembahan. Apa yang kita buat di sini adalah untuk Tuhan,” kata Sudarsana.
Sebagai situs cagar budaya, Pura Sada menarik perhatian wisatawan domestik dan mancanegara.
Para pengunjung datang untuk mempelajari sejarah, tradisi, dan keindahan arsitektur yang unik. Ini memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat setempat.
Namun, pelestarian Pura Sada menghadapi tantangan besar. Restorasi yang berkelanjutan dan pengelolaan yang baik menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga keberlanjutan situs ini.
“Kami berharap pemerintah dan masyarakat bersama-sama melindungi situs ini,” tegas Sudarsana. (dik)
Editor : I Putu Mardika