Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Labuhan Aji Desa Temukus, Diyakini erat dengan Perjanan Dang Hyang Nirartha, Ada Ritual Bhatara Rawuh

I Putu Mardika • Rabu, 15 Januari 2025 | 05:11 WIB

 

Pura Labuhan Aji di Desa Temukus, Kecamatan Banjar, Buleleng yang menjadi bukti persinggahan Dang Hyang Nirartha saat melaksanakan perjalanan spiritual
Pura Labuhan Aji di Desa Temukus, Kecamatan Banjar, Buleleng yang menjadi bukti persinggahan Dang Hyang Nirartha saat melaksanakan perjalanan spiritual
BALIEXPRESS.ID-Pura Labuhan Aji, terletak di Desa Temukus, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, merupakan salah satu pura kahyangan jagat di Buleleng.

Pura ini memiliki hubungan erat dengan perjalanan Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh agama yang dihormati dalam tradisi Hindu Bali.

Bendesa Temukus, Made Sukertha, menjelaskan pura ini menjadi saksi sejarah penyebaran ajaran agama di Bali.

Pada masa lalu, Dang Hyang Nirartha, yang dikenal juga sebagai Ida Pandita Sakti Wawu Rawuh, melakukan perjalanan dari Pulaki ke Lempuyang.

Saat melewati hutan belantara yang kini dikenal sebagai Desa Temukus, beliau memutuskan untuk beristirahat atau mesandekan.

Tempat istirahat inilah yang kemudian dinamakan Labuhan Aji, dengan makna tempat turunnya ilmu pengetahuan. Di lokasi ini, Dang Hyang Nirartha juga memberikan pengajaran ajaran agama kepada sisianya.

Untuk mengenang jasa beliau, masyarakat membangun Pura Labuhan Aji. Nama Temukus sendiri diambil dari kata temu dan kukus, yang mengacu pada tempat bersejarah tersebut.

“Awalnya, pura ini hanya berupa batu karang yang tidak beraturan. Namun, pada 1950-an, dilakukan rekonstruksi oleh Ida Pengawa Merdu, yang membangun padmasana berbahan batu karang sebagai simbol umat Hindu,” kata Made Sukertha.

Pura Labuhan Aji kini disungsung oleh dua desa adat, yakni Desa Adat Temukus dan Desa Adat Cempaga.

Kedua desa ini turut serta dalam menjaga kelestarian pura, baik dari segi fisik maupun spiritual. Selain itu, subak Temukus juga memiliki peran penting dalam pemujaan di pura ini, terutama untuk memohon kesuburan lahan pertanian.

Setiap Pagerwesi, krama subak Temukus melaksanakan persembahyangan bersama di pura. Mereka juga melakukan ngayah, seperti membawa air dari Pura Taman untuk pembuatan tirta, yang digunakan sebagai sarana penyucian.

Ritual-ritual ini menunjukkan kedekatan antara masyarakat dan Pura Labuhan Aji.

Pura Labuhan Aji juga menjadi tempat penting bagi masyarakat di luar Desa Adat Temukus. Setiap purnama, pura ini ramai dikunjungi oleh umat yang ingin melakukan pengelukatan, yaitu pembersihan spiritual.

Selain itu, pura ini menjadi lokasi melasti, sebuah upacara penyucian sebelum pelaksanaan upacara besar.

Salah satu acara besar yang melibatkan Pura Labuhan Aji adalah Bhatara Rawuh, yang dilaksanakan setiap empat tahun sekali.

Ritual ini melibatkan perjalanan dari Pura Dalem Tamblingan ke Pura Labuhan Aji, yang diikuti oleh masyarakat dari berbagai desa.

“Jalur perjalanan pemedek dipenuhi suguhan makanan dan minuman gratis sebagai bentuk penghormatan kepada para pengiring Ida Bhatara,” ungkapnya.

Dalam upacara Bhatara Rawuh, masyarakat Desa Temukus bersatu padu mempersiapkan tempat pemujaan sementara.

Kehadiran umat dari luar desa yang memadati pura menciptakan sistem antrean berbasis kartu berwarna, yang memperlancar jalannya persembahyangan.

Sistem ini menjadi simbol keharmonisan yang tercipta di Pura Labuhan Aji.

Ia menambahkan, masyarakat Catur Desa turut serta dalam upacara dengan membawa banten dan pratima sebagai simbol penyucian. Kehadiran mereka menambah kesakralan ritual yang dilaksanakan.

Odalan Pura Labuhan Aji jatuh pada Purnama Kapat, di mana masyarakat melaksanakan mekemit hingga matahari terbit.

Kegiatan ini bertujuan untuk memohon ketenteraman secara sekala dan niskala.

Selain itu, Tilem Sasih Kapat ditandai dengan melasti ke Segara Agung, sebagai bagian dari Pujawali Madyaning Karya.

Puncak pujawali, yang disebut Pujawali Pengayu-Ayu, dilaksanakan pada Purnama Sasih Kalima. Ritual ini bertujuan menjaga kesejahteraan dan kemakmuran alam sekitar.

Salah satu momen menarik dalam ritual ini adalah iring-iringan Ida Bhatara Penghulu dari Pura Dalem menuju Pura Labuhan Aji, yang disambut dengan mapag Bhatara.

“Mapag Bhatara ini tradisi menyambut Ida Bhatara dengan penghormatan dan suguhan makanan. Masyarakat percaya bahwa perjalanan ini membawa berkah kesejahteraan. Oleh karena itu, masyarakat selalu antusias memberikan persembahan sebagai wujud bakti sepanjang jalan yang dilalui,” paparnya.

Pura Labuhan Aji dibagi atas tiga mandala. Mandala pertama mencakup padmasana, Pelinggih Bhatara Sakti, dan pelinggih lainnya. Madya Mandala terdiri dari Beji, Bale Jempana, dan bangunan lainnya. Sedangkan Nista Mandala mencakup area parkir dan pelinggih penyawangan. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#bali #labuhan #Dang Hyang Nirartha #Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh #Temukus #Banjar #pura #AJI #buleleng