Di pura ini terdapat dua keyakinan yakni Hindu dan Budha yang berdampingan. Tak berlebihan, kedua keyakinan inipun disebut-sebut sebagai sinkretisme (perpaduan) antara Hindu-Budha.
I Wayan Leder selaku pengempon Pura Tirtha Harum menceritakan jika keberadaan pura ini memiliki sejarah panjang.
Ia menyebutkan, dahulu terdapat dua orang raja yang diutus dari candi Prambanan untuk menyelamatkan tepi sirang (pesisir pantai selatan) yang berada di hutan dari sebuah bencana.
Namun ternyata di tengah hutan ini terdapat seorang yang sakti dan tidak tertandingi yang disebut bernama Nyi Roro Kidul.
Kedua raja ini tidak mampu menghadapi serangan tersebut. Pada saat berperang mereka mengalami kekalahan dan akhirnya beliau lari menuju tepi pantai.
Ketika sedang berada di tepi pantai beliau melihat perahu yang jumlahnya sangat banyak dengan pasukan yang berasal dari Cina.
Pasukan ini adalah utusan dari Budha untuk menyelamatkan bencana pesisir pantai, dengan visi dan misi yang sama dari kedua utusan tersebut akhirnya raja ini bergabung dengan pasukan Cina dan pergi berlayar ke Bali hingga sampai di laut Serangan.
Baca Juga: Klenteng Ling Gwang Kiong Siap dikunjungi, Jemaat Persembahyangan digeser ke Aula
“Maka dari itu pada tahun 1952 dibangunlah sebuah Pura dan Konco yang merupakan perpaduan antara dua kebudayaan yaitu Hindu (Siwa) dan Budha,” katanya.
Setelah dibangunnya Pura ini, I Wayan Leder menemukan sebuah keanehan pada tahun 2007.
Ia bersama masyarakat lainnya menemukan sebuah batu yang mengapung di dekat hutan bakau yang beratnya sekitar 40 kg.
Kemudian untuk memindahkan batu tersebut dibutuhkan 10 orang untuk memindahkan batu itu ke sebuah tepi.
Namun pada saat sore menjelang malam (sandikala) dari tempat ditemukannya batu tersebut.
Masyarakat tiba-tiba melihat percikan mata air yang keluar dengan bau yang sangat harum dan tidak lama kemudian mata air tersebut berhenti dengan sendirinya.
“Dari kejadian inilah akhirnya telaga yang berada di dekat Pura Tirtha Harum digunakan sebagai alternatif untuk sarana pengobatan,” sebutnya.
Selain itu perpaduan atau sinkritisme dari budaya Hindu dan Budha ini masih tetap terjalin dengan baik sampai saat ini mengingat adanya persamaan misi dari leluhur nenek moyang.
Walaupun kedua budaya ini dipadukan namun masyarakat pengempon pura tidak melupakan adat dari masing-masing agama dengan diadakannya perayaan hari suci pada kedua tempat suci ini.
Misalnya saja pada Pura Tirtha Harum piodalannya jatuh pada Anggarakasih Prangbakat dengan menggunakan sarana upakara berupa bebantenan.
Sedangkan pada Konco biasanya dirayakan pada hari raya Imlek yang jatuh pada bulan februari dengan sarana persembahyangan berupa buah – buahan, uang kertas dan dupa.
“Pangempon dan pamedek yang saling menghormati dari kedua budaya tersebut hingga sampai saat ini harus tetap mampu untuk dilestarikan keberadaannya,” paparnya.
Ada sejumlah pelinggih yang terdapat pada utama mandala (jeroan). Diantaranya Palinggih Puncak Giri yang merupakan palinggih utama yang terdapat pada Pura Tirtha Harum.
Pada palinggih ini yang bersthana adalah Dewa Siwa beserta dua Bidadari penjaga telaga yang terdapat di sebelah barat.
Kemudian, Palinggih Gedong Sari adalah tempat bersthananya Sang Hyang Rambut Sedana. Palinggih ini biasanya sebagai tempat pemujaan oleh masyarakat untuk memohon kemakmuran.
Palinggih Gunung Agung yaitu sebuah simbol atau pasimpangan dari dewa yang bersthana di Gunung Agung.
Selanjutnya Palinggih Tirtha di sampingnya terdapat sumur yang airnya digunakan sebagai sarana upacara yaitu tirtha. Pada palinggih ini yang bersthana adalah Dewa Wisnu.
Palinggih Taru, pada palinggih ini yang bersthana adalah Sang Hyang Taru Sakti.
Palinggih Sloka adalah tempat pemujaan terhadap Dewi Saraswati yang merupakan dewi dari ilmu pengetahuan.
Menariknya, di areal Konco terdapat beberapa patung yaitu Dua Patung Singa yang ada di depan konco ini merupakan simbol penjaga pintu masuk, yang diyakini dapat mencegah kekuatan negatif.
Tikong adalah simbol dari dewa langit untuk memohon keharmonisan alam.
Patung Ratu Mas Manik Subhandar, yang berwujud seorang pendeta yang bertubuh pendek dan dipercayai oleh masyarakat sebagai simbol dari dewanya para pedagang. Patung Dewi Kwan Im adalah patung yang berwujud seorang dewi yang memiliki sifat welas asih terhadap semua makhluk hidup.
“Ada juga Patung Dewa Bumi merupakan simbol dari dewa kesuburan. Sebuah kendi yang dijadikan tempat pembakaran uang kertas yang ditujukan kepada leluhur,” imbuhnya.
Pemedek yang nangkil ke Pura Tirta Harum di Serangan, Denpasar tidak hanya dari umat Hindu saja. Melainkan dari umat Budha juga banyak yang melaksanakan persembahyangan di pura ini.
Pemangku Pura Tirta Harum, I Made Sugita menjelaskan, hari piodalan di Pura Tirtha Harum diselenggarakan setiap 210 hari atau 6 bulan sekali tepatnya pada rahina Anggarakasih Prangbakat.
Proses upacara dipura ini paling sering menggunakan tingkatan pragembal yang dipuput oleh jero mangku sendiri.
Sedangkan pada tempat suci Budha (konco) biasanya perayaannya jatuh pada tahun baru Imlek, yang biasanya selalu dihadiri oleh masyarakat yang menganut Siwa Budha dari berbagai kalangan.
“Namun banyak juga umat Hindu yang hadir mempersembahkan sarana upacara berupa yadnya pada perayaan hari raya budha ini,” kata Mangku Sugita.
Para pamedek yang tangkil ke Pura Tirtha Harum ini tidak hanya berasal dari lingkungan Desa Pakraman Serangan saja, tetapi banyak pamedek yang berasal dari luar Desa Adat Serangan di masing - masing Kabupaten di Bali bahkan ada pula pamedek yang tangkil dari luar Bali.
Pamedek yang tangkil baik ke pura maupun konco tetap saling menghormati satu sama lain,yang ditunjukan dengan sikap toleransi yang tinggi.
“Contohnya jika pada konco berlangsung upacara seperti pada Hari Raya Imlek pamedek yang beragama Hindu ikut serta melakukan persembahyangan pada saat itu begitu pula sebaliknya dengan agama Budha itu sendiri. Pada saat piodalan mereka hadir dan ikut serta bersembahyang dengan sarana persembahyangan berupa dupa,” ungkapnya.
Mangku Sugita menambahkan, selain dijadikan sebagai tempat untuk bersembahyang, di pura ini juga acapkali digunakan sebagai tempat untuk memohon pengobatan.
Pangempon dan pamedek percaya dan yakin Dewa Siwa yang bersthana di Pura Tirtha Harum ini mampu memberikan kesembuhan dari penyakit yang bersifat sekala dan niskala.
“Sebelum melakukan penyucian diri dengan melukat, si pasien terlebih dahulu matur piuning di palinggih puncak giri dengan membawa sarana berupa pejati dan canang sari, kemudian barulah melukat,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika