Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ngusaba Sambah di Pasedahan Berlangusng Selama Lima Hari, Ada Penambahan di Hari Kedua

I Putu Mardika • Selasa, 11 Februari 2025 | 04:21 WIB

Sarana yang digunakan saat Ngusaba Sambah di Desa Pasedahan, Kecamatan Manggis, Karangasem
Sarana yang digunakan saat Ngusaba Sambah di Desa Pasedahan, Kecamatan Manggis, Karangasem
BALIEXPRESS.ID-Tradisi Ngusaba Sambah di Desa Adat Pasedahan, Kecamatan Manggis, Karangasem berlangsung selama lima hari.

Sebelum digunakan, sarana  Sang Hyang Sambah wajib dipelaspas.

Upacara mlaspas adalah pembersihan secara niskala dari segala kekotoran baik yang berasal dari pikiran, perkataan dan pembuatan dalam membuat Sang Hyang Sambah.

Sang Hyang Sambah yang telah dihias lalu dilaksanakan upacara pemlaspasan yang disertai pengurip-urip.

Dalam upacara mlaspas Sang Hyang Sambah menggunakan upakara seperti banten daksina, banten prayascita, banten pengulap (pengulapan), sesayut pengambe (pengambian), banten peras, banten caru, banten tulung, pengurip-urip

Dikatakan I Wayan Swenten  rangkaian upacara ngusabha sambah di Desa Adat Pesedahan berlangsung selama 5 hari.

Baca Juga: Sang Hyang Sambah dalam Ngusaba Sambah di Pasedahan Gunakan Pelepah Enau, Dilaskanakan Sasih Kelima  

Diantaranya penyujukan dan melasti, penampahan, pebarisan, penyulud atau pengusan dan penyimpenan.

Hari pertama dalam upacara ngusabha sambah di Desa Adat Pesedahan disebut penyujukan diikuti dengan upacara melasti ke segara.

Dengan maksud untuk menyucikan pratima-pratima dari kotoran atau male masucian ka segara.

Penampahan Pada hari kedua disebut Penampahan.

Disebut penampahan karena pada hari tersebut dilaksanakan dengan memotong beberapa ekor babi guna dipakai olah-olahan berupa sate, lawar, urab bara, urab putih, yang nantinya dipakai sebagai sarana persembahan pada Ida Bhatara-Bhatari yang disebut dengan upacara penyemeng.

Pebarisan Pada hari ketiga disebut pebarisan.

Baca Juga: DPRD Karangasem Gelar Paripurna Istimewa, Soroti Infrastruktur dan Penanganan Bencana

Pada siang hari sekitar pukul 11.00 wita krama desa berkumpul ke Pura Puseh untuk melaksanakan upacara pebarisan ke Pura Rambut Petung.

Ida Bhatara dipundut menuju Pura Rambut Petung.

Upacara ini dilaksanakan upacara sebagaimana mestinya yang diikuti acara murwa daksina yaitu mengelilingi pura sebanyak 3 kali diiringi oleh truna-truni dan dilaksanakan persembahyangan bersama. 

Setelah itu Ida Bhatara dipundut kembali menuju Pura Puseh. Di Pura Puseh juga dilaksanakan murwa daksina sebanyak 3 kali lalu Ida Bhatara dilinggihkan kembali di pelinggih masing-masing.

Pada hari keempat disebut pengusan. Pada pagi hari dilaksanakan upacara penyemeng.

Pada masing-masing pelinggih termasuk di Sang Hyang Sambah dihaturkan banten penyemeng seperti pada hari penampahan dan dilaksanakan upacara melaspas Sang Hyang Sambah seperti pada hari melasti pagi karena hiasan Sang Hyang Sambah diganti lagi dengan yang baru.

Setelah itu krama desa melaksanakan acara magibung (makan bersama).

Baca Juga: Peraih Diaspora Heroes BNI di Korsel Sukses Buka Usaha Hingga Kembangkan Warung Nusantara

Pada hari ini juga dilaksanakan upacara nyambutin bagi anak-anak yang telah berumur tiga bulan (210 hari) yang belum pernah diupacarai (nyambutin).

Adapun bantennya yakni Banten pajengan, Peras, Bu, Teenan, Tegen-tegenana atau  talaran.

“Hari kelima disebut dengan penyimpenan. Krama desa melaksanakan persembahyangan di masing-masing Pura Penyimpenan setelah penyimpenan selesai maka berakhirlah rangkaian upacara ngusabhasambah,” tutupya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Manggis #Ngusaba Sambah #Sang Hyang Sambah #karangasem #Desa Adat Pasedahan