Seperti kita ketahui, pelangkiran mudah ditemukan di kamar-kamar rumah yang ditempati. Posisinya terkadang ditempel di tembok kamar.
Selain itu, pelangkiran bisa juga ditemukan di areal dapur, hingga sumur. Namun memiliki fungsi yang berbeda-beda.
Penekun Lontar, Ida Bagus Made Baskara, dari Geriya Gunung Kawi Manuaba, Tampak Siring Gianyar mengatakan, jika berbicara tentang pelangkiran ada banyak rujukan teks yang bisa dijadikan sebagai refrensi.
Secara etimologi, kata pelangkiran berasal dari kata Langkir. Ada yang memaknai kata langkir itu sebagai gunung.
Sehingga ada istilah Toh Langkir. “Kata pelangkiran juga dikaitkan dengan berbagai proses pemujaan. Terutama digunakan sebagai pelinggihan daksina,” ungkapnya.
Pelangkiran dapat digunakan fungsinya menjadi dua. Pertama difungsikan seagai pelinggihan. Kedua sebagai penyawangan. Dari dua fungsi inilah harus dipastika dimana sepatutnya pelangkiran distanakan. Apakah sebagai penyawangan atau pelinggihan.
“Ini bedanya. Kalau difungsikan sebagai pelinggihan maka disesuaikan dengan Ista Dewata yang dipuja,” paparnya.
Baca Juga: Ini Rangkaian Upacara dan Hari Suci di Bali Sepanjang Februari 2025
Jika pelangkiran dipasang di dalam kamar, lalu siapa dewa yang dipuja? Jika ditempatkan di kamar itu manifestainya sebagai Hyang Semara Reka atau Huyang kama Reka.
Ini adalah manifestasi Ida Sang Hyang Widhi yang memberikan kepuasan duniawi, sehingga diposisikan di kamar, terutama yang sudah menikah.
Disininlah Hyang Semara Jaya dan Semara Ratih yang dipuja.
Pemujaan terhadap Sang Hyang Semara Ratih dan Semara Jaya ini bertalian erat dengan akitfitas intim suami istri agar menghasilkan generasi suputra. sehingga pantas Pelangkiran dipuja di kamar.
Selanjutnya Ketika pasangan suami istri sudah dikaurniai anak, maka sang anak dibuatkan kamar khusus. Nah, di kamar sang anak wajib hukumnya untuk dibuatkan pelangkiran. Dimana, yang dipuja adalah Dewaning Rare.
“Sebelum menek bajang, maka yang dipuja di pelangkiran kamar anak-anak adalah Hyang Kumara-Kumari. Beliau Ini adalah manifestasi Hyang Bhatara Guru yang sebelumnya menjadi Ida Semara Reka kemudian bertransformasi menjadi Hyang Kumara-Kumari,” katanya.
Menurutnya dalam konteks tersebut, tentu sangat wajar pelangkiran ditempatkan di kamar. Karena fungsinya berbeda-beda, walaupun sumber yang dipuja sama, yaitu Ida Bhatara Guru, namun yang dipuja sesuai dengan manifestasinya.
Berbeda lagi kalau pelangkiran difungsikan sebagai fungsi Penyawangan.
Biasanya justru bersifat lebih temporer. Misal ada seorang pedagang yang nyawang (ngayat) untuk Pelinggih Ratu Ayu Melanting.
Begitu juga agar bisa memuja ke pura lain, sehingga bisa nyawang dari rumah.
Hanya saja kondisinya akan berbeda Kalau ada yang berkaitan dengan tapakan ida Bhatara, maka harus hati-hati sekali menyikapi. Kenapa? Karena kalau ingin ngelinggihang Ida Batara, itu jelas aturan sastranya.
Dikatakan Ida Bagus Baskara, ada lontar bernama Indik Pralingganing Ibu Pertiwi atau Prasasti Gumi. Dalam lontar ini menyebutkan, ketika ingin membuat penyawangan, jangan hanya menggunakan daksina linggih saja untuk nuntun bhatara.
“Ada aturannya. Ada yang meruntutan kebo, mas mirak, sarwa gong tetabuhan. Jadi pada saat nuntun itu harus ada kerbau, tidak bisa dilinggihkan di pelangkiran begitu saja.
Jadi, ada aturan baku ketika menstanakan atau membuat penyawangan pura. Dan ini tidak bisa diubah-ubah. Karena menyangkut sesana manut linggih,” jelasnya.
Ia mencontohkan bila ingin membuat penyawangan Pura Besakih, maka tidak boleh di rumah. Daksina pelinggih tidak boleh ditempatkan begitu saja.
Harus ada tempat kosong. Hal Itu terungkap dalam Lontar Indik Prasastining Gumi.
“Sekarang banyak masyarakat yang euphoria, dan menempatkan penyimpangan pura di kamar misalnya. Itu sebenanrnya menyalahi aturan. Kalau ingin berkomunikasi secara niskala dengan dewa-dewi yang berstana di pura, maka disarankan menstanakan tirtanya di pelangkiran atau di merajan,” paparnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika