Prof. Dr. Ida Bagus Gde Yudha Triguna, M.S mengatakan, setidaknya ada dua pengertian kata mawinten.
Yakni mawienten berasal dari kata enten dalam Bahasa Bali, berarti sadar. Maksudnya orang yang telah upacara mawinten, diharapkan semakin sadar akan diri dan perilakunya yang harus dilaksanakan manut swadarma.
Baca Juga: Hari Pertama Kerja, Bupati Adi Arnawa Beri Pengarahan Pegawai Badung
Mawinten ditafsirkan berasal dari kata Intan. Sebuah permata yang berharga.
Batu mulia yang memiliki nilai dan kilauan estetik demikian tinggi. Melalui proses alam yang keras, batu intan itu dibentuk.
Jadi upacara mawinten dimaknai sebagai upacara manusa yadnya, untuk menjadikan manusia menjadi mulia.
Prof Yudha mengatakan, ada tiga jenis pawintenan yang sering dikenal di Bali. Ketiganya berdasarkan jenis sarana yang digunakan, baik dari yang paling sederhana (nista) hingga sarana upakara yang sangat kompleks (utama).
Pertama mawinten dengan ayaban pawintenan Saraswati yang paling sederhana. Upacara penyucian diri dengan memuja Dewi Saraswati sebagai Saktinya Brahma yang menciptakan ilmu pengertahuan.
“Biasanya dilaksnaakan saat kita memulai belajar agama atau di sekolah-sekolah agama. Pawintenan Saraswati ini pada awal tahun ajaran baru ketika para mahasiswa memulai orientasi di sekolah,” jelasnya.
Kedua, pawintenan dengan banten ayaban Bebangkit. Sarana upacara ini masuk kategori madya. Dimana, penycian diri dengan memuja dewi sarawati dan Batara Gana yang berfungsi sebagai pelindung manusia.
“Pawintenan ini dilaksanakan oleh tukang banten, sangging, dan sebagainya,” imbuh guru besar UNHI Denpasar ini.
Ketiga, pawintenan dengan Ayaban Catur.
Baca Juga: Kisah Tragis Nenek 90 Tahun di Gianyar Tewas Jatuh ke Jurang 25 Meter: Anaknya Ungkap Alasan Ikhlas
Sarana upacara ini tergolong yang utama adalah penyucian diri dengna memuja para Dewa, Iswara, Brahma, Mahadewa, Wisnu sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Umumnya, yang melaksanakan pawintenan ini adakah Pemangku, Dalang, Pandita.
Siklus ritual upacara mawinten biasanya selalu dilakukan dengan upacara malukat, Selanjutnya dilaksanakan ipacara mabea kala, maprasaycita, mesakapan atau padudusan atau aktifitas merajah.
“Setelah itu dilaksaaka upacara mejaya-jaya dan diakhiri dengan persembahyangan. Serta wangsuhpada,” paparnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika