Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Keajaiban Tempat Suci Hindu Bali, Pura Beji Utama Sari: Tempat Melukat Sakral yang Dijaga Makhluk Gaib

I Putu Suyatra • Rabu, 19 Maret 2025 | 18:38 WIB

Pura Beji Utama Sari, yang dahulu dikenal sebagai Pura Beji Gerobogan, bukan sekadar tempat penyucian bagi Ida Bhatara di Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Gulingan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung.
Pura Beji Utama Sari, yang dahulu dikenal sebagai Pura Beji Gerobogan, bukan sekadar tempat penyucian bagi Ida Bhatara di Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Gulingan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung.

BALIEXPRESS.ID - Pura Beji Utama Sari, yang dahulu dikenal sebagai Pura Beji Gerobogan atau Pancoran Taman Sari, bukan sekadar tempat penyucian bagi Ida Bhatara di Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Gulingan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Lebih dari itu, tempat suci Hindu Bali yang terletak di Banjar Lebah Sari, ini juga menjadi lokasi melukat yang dipercaya menyimpan energi mistis dan perlindungan makhluk gaib.

Jejak Ida Pedanda Sakti Ender dan Sejarah Sakral Pura

Menurut Jro Mangku Made Sarya, pemangku Pura Beji Utama Sari, pura ini memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan spiritual Ida Pedanda Sakti Telaga atau lebih dikenal sebagai Ida Pedanda Sakti Ender.

Sosok suci ini dikisahkan pernah mengembara dari Gelgel menuju Desa Gulingan pada masa pemerintahan Tjokorda Pugangga, Raja Mengwi.

Dalam perjalanan suci tersebut, Ida Pedanda Sakti Ender sempat singgah dan mengajar banyak murid di Gulingan.

Perjalanan beliau dimulai dari arah timur, lalu ke selatan hingga tiba di Banjar Batulumbung, dan akhirnya beristirahat di Pancoran Utama Sari.

Saat beristirahat, beliau melakukan Puja Samadi di pancoran tersebut yang dikenal memiliki suasana sangat tenang. Namun, saat mandi di pancoran tersebut, kejadian aneh pun terjadi.

Gangguan Makhluk Gaib di Pancoran Suci

Mangku Sarya mengisahkan bahwa ketika Ida Pedanda Sakti Ender mandi, ia diganggu oleh makhluk gaib yang disebut Wong Peri.

Merasa terganggu, Ida Pedanda pun menggunakan kesaktiannya untuk menemukan makhluk tersebut. Setelah ketahuan, para Wong Peri akhirnya mengakui kehebatan Ida Pedanda dan meminta maaf.

Sebagai hukuman, Ida Pedanda memberikan tugas kepada Wong Peri untuk menjaga pancoran tersebut selamanya.

Selain itu, Wong Peri juga diberi kuasa untuk mengganggu siapa saja yang mandi di pancoran ini pada waktu tertentu, yakni saat matahari tepat di atas kepala (tengai tepet) dan saat Sandikala.

Tak hanya itu, siapa pun yang berbicara tidak sopan di area Pura Beji Gerobogan akan mengalami gangguan dari makhluk-makhluk gaib tersebut.

Hingga kini, masyarakat masih percaya bahwa larangan tersebut harus dipatuhi jika tidak ingin mengalami hal-hal ganjil saat berkunjung ke Pancoran Utama Sari.

Air Suci dengan Beragam Manfaat, Termasuk Mengobati Sakit Mata

Selain sebagai tempat melukat, air di Pura Beji Utama Sari juga diyakini memiliki khasiat khusus, salah satunya adalah menyembuhkan sakit mata.

Mangku Sarya mengungkapkan bahwa sejak zaman dahulu, masyarakat sekitar sudah memanfaatkan air pancoran ini sebagai obat alami untuk penyakit mata yang disebabkan oleh virus.

“Banyak masyarakat yang datang mengambil air di sini saat ada wabah sakit mata. Mereka percaya air dari pancoran ini memiliki energi penyembuhan,” ujarnya.

Tak hanya itu, banyak orang dari berbagai daerah di Bali yang datang melukat ke tempat ini setelah mendapatkan petunjuk dari orang pintar.

Ritual pengelukatan dilakukan dengan upakara dan sarana khusus sesuai anjuran spiritual.

Selain digunakan untuk kepentingan spiritual dan pengobatan, air Pancoran Utama Sari juga dimanfaatkan untuk mengairi persawahan di lingkungan Subak Batan Badung Munduk Bukti Tuh.

Air suci ini pun digunakan dalam ritual penyucian bagi Ida Bhatara di Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Gulingan dan dalam upacara atma wedana.

Piodalan dan Peran 48 Pekarangan Rumah

Pura Beji Utama Sari menggelar piodalan setiap Purnama Kedasa. Ritual ini diemong oleh 48 pekarangan rumah dari beberapa banjar di Desa Adat Gulingan yang bertanggung jawab atas perawatan dan pelaksanaan upacara di pura ini.

Dalam piodalan tersebut, berbagai undakan seperti barong dan rangda dari beberapa banjar hadir untuk turut meramaikan prosesi.

Ritual ini dilakukan dengan banten Taman Pulegembal yang meskipun sederhana, tetap memiliki tingkatan utama dalam tradisi keagamaan Bali.

Mitos, Kepercayaan, dan Larangan di Beji Utama Sari

Keberadaan Wong Peri sebagai penjaga Pancoran Utama Sari telah menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat setempat.

Larangan untuk mandi saat tengai tepet dan Sandikala, serta berbicara kasar di area beji, masih dipegang teguh hingga saat ini.

Masyarakat percaya bahwa siapapun yang melanggar aturan ini akan mengalami gangguan gaib, seperti suara-suara aneh, kehilangan keseimbangan saat mandi, atau bahkan mengalami peristiwa mistis lainnya.

Dengan sejarah yang kaya, nuansa mistis, dan manfaat air sucinya, Pura Beji Utama Sari tetap menjadi salah satu destinasi spiritual yang menarik bagi umat Hindu Bali dan sekitarnya. ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

MENYIMAK: Santri putri mendengarkan materi yang disampaikan guru Ponpes At-Taufiqiyah Desa Aengbaja Raja, Kecamatan Bluto, Sumenep. (PONPES AT-TAUFIQIYAH UNTUK JPRM)
MENYIMAK: Santri putri mendengarkan materi yang disampaikan guru Ponpes At-Taufiqiyah Desa Aengbaja Raja, Kecamatan Bluto, Sumenep. (PONPES AT-TAUFIQIYAH UNTUK JPRM)
Editor : I Putu Suyatra
#tempat melukat #Pura Beji Utama Sari #Kabupaten Badung #hindu bali #makhluk gaib #gulingan #Ida Pedanda Sakti Ender #Kecamatan Mengwi