Membedah Hipnosis: Ilmu Penyembuhan yang Sering Disalahpahami Sebagai Black Magic
I Putu Suyatra• Jumat, 21 Maret 2025 | 17:05 WIB
Guru Mangku Hipno
BALIEXPRESS.ID - Di Bali, istilah black magic kerap dikaitkan dengan berbagai kejadian misterius, termasuk penyakit yang tak kunjung sembuh meski sudah diperiksa dengan teknologi medis tercanggih.
Namun, menurut seorang ahli hipnosis, Ketut Gede Suatma Yasa atau yang lebih dikenal dengan panggilan Guru Mangku Hipno, banyak dari kasus tersebut sebenarnya bukanlah hasil sihir hitam, melainkan penyakit yang berasal dari pikiran dan perasaan.
“Jika seseorang mengalami sakit dan sudah diperiksa dengan alat medis secanggih apapun tetapi tidak ditemukan penyebabnya, itu berarti penyakit perasaan,” jelas pria asal Singaraja ini.
Ia menegaskan bahwa di Bali, banyak orang terlalu cepat mengaitkan kondisi ini dengan black magic, padahal dalam ilmu metafisika, konsep sihir hitam lebih berkaitan dengan cara seseorang mengelola pikiran, tindakan, dan perasaannya.
“Kesalahan dalam mengelola ketiga hal ini bisa menyebabkan penderitaan seperti sakit, kegagalan, atau bahkan kemiskinan,” tegasnya.
Hipnosis: Ilmu Ilmiah, Bukan Ritual Gaib
Berbeda dengan anggapan banyak orang, hipnosis bukanlah praktik mistis, melainkan ilmu ilmiah yang memiliki prosedur dan metode yang dapat diuji secara nyata.
Guru Mangku Hipno menjelaskan bahwa di beberapa negara, hipnosis bahkan sudah dimasukkan dalam kurikulum pendidikan.
“Di Amerika, 90% penyakit yang diderita manusia modern berasal dari gangguan pikiran dan perasaan. Berdasarkan penelitian, kondisi ini hanya bisa diatasi dengan pendekatan psikologi, salah satunya melalui hipnosis,” ungkapnya.
Menurutnya, hipnosis bekerja dengan membawa seseorang ke tingkat kesadaran tertentu.
Ia menguraikan bahwa manusia memiliki tiga tingkat kesadaran utama:
Beta – Kesadaran penuh (dalam kondisi normal).
Alpha – Kesadaran mulai menurun, tetapi masih bisa berpikir logis.
Teta – Alam bawah sadar mulai aktif, sering dikaitkan dengan kondisi trance atau kesurupan.
Delta – Kesadaran sangat dalam, sering disebut deep trance yang berkaitan dengan proses penyembuhan.
“Saat seseorang mencapai tahap trance, ia sudah masuk ke dalam alam pikiran yang beroperasi dengan gelombang lebih rendah. Secara ilmiah, ini bisa dibuktikan dengan alat ECG (Electrocardiogram),” paparnya.
Hipnoterapi: Metode Penyembuhan yang Mulai Dilirik Dunia
Guru Mangku Hipno mengaku menerima 5-10 pasien setiap hari, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, termasuk dari Eropa dan Amerika.
Ia menjelaskan bahwa keberhasilan terapi sangat bergantung pada dua hal:
Siapa pasiennya – Seberapa baik pasien dapat menerima, memahami, dan meresapi sugesti yang diberikan.
Siapa hipnotisnya – Kekuatan energi hipnotis dari sang terapis sangat menentukan hasil terapi.
Menariknya, ia mengungkapkan bahwa hipnosis modern yang sering ditampilkan di televisi tidak memiliki efek permanen.
Sebagai contoh, seseorang yang takut ular bisa menjadi berani setelah terapi, tetapi setelah beberapa jam, rasa takutnya bisa kembali muncul.
“Namun, ketika hipnosis dikombinasikan dengan prana atau kekuatan batin, sugesti yang diberikan akan bertahan lebih lama. Ini adalah hipnosis ala Hindu yang disebut Jagra Supta,” jelasnya.
Dengan pemahaman yang benar, hipnosis dapat menjadi solusi bagi berbagai masalah kesehatan mental dan emosional.
Jadi, apakah hipnosis masih terdengar menyeramkan atau justru semakin menarik untuk dipelajari? ***