Sarati Banten, Jro Ketut Utara menjelaskan, untuk tingkat Provinsi bernama Tawur Agung dilengkapi dengan Sesayut Prayascitagumi dan Sesayut Dirgayusa Gumi, beserta perlengkapannya. Pelaksanaannya bertempat di Catuspata/persimpangan.
Kemudian di tingkat Kabupaten dinamai Panca Kelud yaitu mempergunakan lima ekor ayam/limawarna pengideran ditambah itik belang kalung satu ekor, asu belang bungkem satu ekor beserta perlengkapannya bertempat di Catuspata persimpangan.
Tingkat Kecamatan bernama Upacara Panca Sanak yaitu mempergunakan lima ekor ayam/lima warna sesuai nama pengideran ditambah satu ekor itik belang kalung beserta perlengkepanya. Pelaksaaannnya bertempat di Catuspata/persimpangan.
Tingkat Desa maka tawurnya disebut Panca Sata yaitu mempergunakan lima ekor ayam sesuai dengan nama pengideran beserta perlengkapanya. Pelaksanaannya bertempat di jaba depan Pura Bale Agung atau Pure Desa.
Tingkat Banjar maka jenis tawur disebut Ekasata yaitu seekor ayam berumbun diolah menjadi 33 tanding (33 urip bhuana) genap dengan perlengkapannya. Tempat pelaksaaannya di depan Balai Banjar.
“Di rumah umat masing-masing, terutama di Merajan menghaturkn peras ajuman, daksina, ketupat kelanan, canang lengewangi, burat wangi, nunas tirtha, dan bija beras kuning” katanya.
Sedangkan pada halaman merajan menghaturkan segehan nasi cacah 108 tanding berisi ulam jeroan mentah, segehan agung asoroh, dengan tetabuhan arak, berem, tuak, air tawar, ngayat kehadapan Sang Hyang Bhuta Kala dan Sang Kala Bela.
Di jabaan atau pintu masuk halaman rumah, mendirikan/nanceb sanggah cukcuk dan ngunggahan banten daksina, peras penyeneng, ajuman, banten danaan, tumpeng ketan, sesayut janganan, lauk pauk, kacang ranti, dan kacang panjang.
Pada sanggah cukcuk digantung ketupat kelanan, canang, dan cameng diisi tuak, arak, berem, dan air bersih, di bawah sanggar cukcuk menghaturkan segehan agung satu soroh, segehan manca warna satu tanding berisi olahan ayam berumbun dan tetabuhan arak, berem, dan air bersih.
Dihaturkan kehadapan Sang Bhuta Raja dan Sang Kala Raja pada waktu menghaturkan banten/sesajen baik di merajan, di halaman rumah maupun di muka pintu masuk pekarangan, dilegkapai dengan tirtha tawur yang diperoleh di provinsi, kabupaten, desa atau banjar.
Setelah menghaturkan upakara-upakara/sesajen, seperti tersebut di atas dilanjutkan dengan Upacara Ngerupuk yaitu berkeliling di halaman rumah membawa obor, bunyi-bunyian, disertai dengan menaburkan nasi tawur, setelah itu diharapkan para bhuta kala tidak mengganggu kehidupan manusia.
Saat prosesi mecaru di halaman rumah, maka berputar ke kiri sebanyak lima kali (kelima arah mata angin), yang berarti menuju ke bawah, mengingat derajat bhuta kala itu lebih rendah dari manusia.
Baca Juga: Kronologi Gudang Mill di Blahbatuh Dibobol Maling: Terungkap Pelakunya dari Jember
Selain itu juga fungsi tawur ini agar para bhuta kala disucikan agar bisa menyatu dengan sang hyang tunggal, maka dari itu pada mantram ngalukat bhuta disebutkan :
“Om lukat sira sang bhuta dengen masurupan sang kalika, lukat sang kalika masurupan ring bhatari durga, lukat bhatari durga masurupan ring bhatari uma, lukat bhatari uma masurupan ring bhatara guru, lukat bhatara guru masurupan ring sang hyang tunggal, lukat sang hyang tunggal masurupan ring sang hyang sangkaning paran, apan sang hyang sangkaning paran rat kabeh siddha mawali paripurna. Om siddhir astu tat astu ya namah swaha”
Setelah melaksanakan upacara, semua anggota keluarga mebyakala, meperascita, natab lara melaradan untuk penyucian diri.
Waktu pelaksaanaan upacara tawur kesanga biasanya selesai tepat tengah hari (pukul 12.00), pada sore harinya atau saat sandykala (pertemuan waktu sore dan malam) tiba.
Rangkaian Upacara Tawur Kesanga berlanjut dengan acara Pengerupukan (Ngerupuk/ngerebeg), suatu bentuk acara dan upacara yang menyimboliskan pengembalian terhadap makhluk yang dianggap suka menganggu dan mencelakakan manusia.
“Kalau pada upacara tawur kesanga, para bhuta kala itu diberi labaan caru. Pada saat pengerupukan para bhuta kala dengan segala bentuk/rupa diharapkan kembali ke alam/dunianya masing-masing dan tidak lagi menggoda, mengganggu apalagi mendatangkan musibah bagi kehidupan manusia,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika