Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Banjar Paketan Bangkitkan Kembali Tari Sang Hyang Memedi Melalui Lomba Ogoh-Ogoh

I Putu Mardika • Jumat, 28 Maret 2025 | 03:16 WIB

Ogoh-Ogoh  dengan membangkitkan Tari Sang Hyang Memedi oleh Sekaa Teruna Hita Mandala Banjar Paketan, Singaraja yang akan diarak saat Pengrupukan
Ogoh-Ogoh dengan membangkitkan Tari Sang Hyang Memedi oleh Sekaa Teruna Hita Mandala Banjar Paketan, Singaraja yang akan diarak saat Pengrupukan
BALIEXPRESS.ID-Sekaa Teruna Hita Mandala Banjar Paketan siap berpartisipasi dalam Lomba Ogoh-Ogoh serangkaian Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1947.

Perlombaan yang akan digelar pada Hari Pengrupukan, Jumat (28/3), di Catus Pata Singaraja ini menjadi langkah awal dalam upaya rekonstruksi Tari Sang Hyang Memedi, sebuah tarian sakral dari Banjar Paketan yang telah punah.

Dalam lomba ogoh-ogoh tersebut, Sekaa Teruna Hita Mandala Banjar Paketan akan mengangkat ogoh-ogoh dan fragmen tari berjudul Sang Hyang Memedi.

Tarian Sakral ini nyatanya memang diketahui pernah ada di Banjar Paketan puluhan tahun silam, namun kini sudah punah.

Gede Arya Septiawan, salah satu tokoh pemuda Banjar Paketan, menjelaskan bahwa pemilihan tema ini bermula dari diskusi bersama anggota Sekaa Teruna.

Awalnya, mereka merancang sketsa ogoh-ogoh bertema Kala Samar.

Namun, dalam pencarian referensi, mereka menemukan informasi mengenai Tari Sang Hyang Memedi yang pernah ada di Banjar Paketan.

Dalam buku yang berjudul Beberapa Tari Upacara dalam Masyarakat Bali, yang diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan tahun 1981/1982, mencatat bahwa Tari Sang Hyang Memedi dulunya dikenal di Banjar Paketan, Singaraja. Namun, seiring berjalannya waktu, tarian ini menghilang dari tradisi masyarakat.

Dalam buku disebutkan bahwa Tarian ini memiliki keunikan tersendiri, di mana para penarinya mengenakan pakaian dari daun merang atau pohon padi kering yang menyerupai memedi, makhluk halus dalam kepercayaan Bali yang dikenal berpakaian kotor dan tinggal di semak-semak.

Ritual ini juga dilakukan dalam kondisi trance setelah diasapi dengan kemenyan yang dibakar di atas piring tanah (pasepan).

"Dari buku itu, kami mengetahui bahwa salah satu tujuan Tari Sang Hyang Memedi adalah nyomya Bhuta Kala, mengharmoniskan hubungan antara manusia (pawongan) dan alam (palemahan), serta berfungsi sebagai penolak bala. Hal itu yang membuat kami semakin mantap mengangkat kembali kisah ini dalam lomba ogoh-ogoh," ujar Arya Septiawan.

Tarian ini sebenarnya pernah dipentaskan dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun 2015 oleh Sanggar Catur Suara Rupa.

Namun, karena minimnya referensi saat itu, pementasan dilakukan dengan keterbatasan sumber.

"Kami mencari lirik lagu di Museum Gedong Kirtya, lalu mencoba mencari nada dengan bertanya kepada beberapa desa yang masih memiliki tradisi tari Sang Hyang seperti di Pemaron dan Tukadmungga. Bahkan, beberapa tetua di Banjar Paketan sendiri meragukan bahwa tarian ini pernah ada di sini," tambahnya.

Kini, dengan adanya sumber yang lebih lengkap, Banjar Paketan berupaya merekonstruksi kembali Tari Sang Hyang Memedi agar tidak sekadar menjadi sejarah dalam buku.

Upaya ini juga mendapat dukungan dari Klian Desa Adat Buleleng, Nyoman Sutrisna, yang berharap agar tarian ini dapat kembali hidup sebagai bagian dari warisan budaya.

“Lomba ogoh-ogoh tahun ini menjadi langkah awal bagi kami untuk memperkenalkan kembali Tari Sang Hyang Memedi kepada masyarakat luas. Makanya kami mengawali dengan menampilkan fragmen tari dalam pertunjukan nanti sebagai bentuk apresiasi dan pelestarian warisan para terdahulu kami,” tutup Arya Septiawan. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#ogoh ogoh #Saka 1947 #nyepi #pengrupukan #Banjar Paketan #singaraja