Pada 8 April, berlangsung Anggar Kasih Julungwangi yang juga dikenal sebagai Anggar Kasih Penguduhan.
Hari ini memiliki makna penting sebagai awal pembersihan di Parhyangan dalam rangka menyambut Hari Raya Galungan. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan menyucikan tempat suci sebelum hari besar tiba.
Purnama yang jatuh pada 12 April menjadi momen bagi umat Hindu untuk melaksanakan berbagai ritual suci.
Hari ini memiliki energi spiritual yang kuat dan kerap dimanfaatkan untuk meditasi serta pemujaan kepada Sang Hyang Widi.
Lima hari berselang, pada 17 April, tiba perayaan Sugihan Jawa atau Parerebon. Pada hari ini diyakini bahwa para Bhatara turun ke dunia.
Umat Hindu pun melaksanakan upacara pengeresikan dan menghaturkan canang raka di merajan atau paibon.
Ritual ini dilanjutkan keesokan harinya, 18 April, dengan Sugihan Bali, yang difokuskan pada pembersihan diri secara lahir dan batin.
Pada 20 April, umat Hindu memasuki tahapan Penyekeban, yaitu hari di mana mereka harus meningkatkan kewaspadaan agar tidak terpengaruh oleh Bhuta Galungan. Pengendalian diri menjadi kunci dalam menjalani hari ini.
Kemudian, pada 21 April, berlangsung Penyajaan Galungan, di mana umat diingatkan untuk tetap mawas diri dari pengaruh Bhuta Dunggulan.
Sehari sebelum Galungan, yakni 22 April, adalah Penampahan Galungan. Hari ini ditandai dengan ritual mabiakala yang dilakukan setelah matahari terbenam untuk menolak pengaruh negatif.
Selain itu, umat Hindu memasang penjor di depan rumah sebagai simbol penghormatan kepada Bhatara Mahadewa yang bersemayam di Gunung Agung.
Puncak dari seluruh rangkaian upacara ini adalah Hari Raya Galungan pada 23 April. Hari besar ini memperingati kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (kejahatan).
Umat Hindu melakukan persembahan kepada Sang Hyang Widi dan berbagai manifestasinya sebagai bentuk syukur atas anugerah kehidupan.
Pada 24 April, umat Hindu merayakan Manis Galungan dengan melakukan upacara nganyarin atau penyucian di merajan dan sanggah kemulan, yang ditujukan kepada leluhur dan Hyang Kawitan.
Selanjutnya, pada 26 April, dilakukan upacara Pemaridan Guru, yang menandai kembalinya para Dewa ke Sunyaloka sambil memberikan berkah kepada umat manusia.
Perjalanan spiritual ini berlanjut dengan peringatan Ulihan pada 27 April, di mana umat Hindu menghaturkan canang raka kepada para Bhatara yang kembali ke Kahyangan.
Hari yang sama juga bertepatan dengan Tilem, yang menjadi waktu ideal untuk introspeksi diri. Pada 28 April, peringatan Pemacekan Agung menutup rangkaian ritual ini. (dik)
Editor : I Putu Mardika