Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Rahasia Tirtha Panglukatan Bali: Lebih dari Sekadar Air Suci, Ini Kekuatan Pembersihan Jiwa yang Tersembunyi!

I Putu Suyatra • Jumat, 25 April 2025 | 01:33 WIB

Malukat
Malukat

BALIEXPRESS.ID - Bagi umat Hindu Bali, mendengar kata "panglukatan" atau malukat bagaikan mendengar melodi sakral yang tak terpisahkan dari air.

Namun, tahukah Anda bahwa ritual penyucian ini menyimpan makna dan kekuatan yang jauh lebih dalam dari sekadar membasuh diri?

Mengapa air menjadi elemen sentral? Apa saja jenis dan waktu terbaik untuk melakukan panglukatan? Serta, rahasia sarana bungkak nyuh gading yang penuh misteri?

Baca Juga: Sosok Dermawan dari Karangasem: Jro Galon, Pengusaha Tambang yang Rutin Bagikan Puluhan Ekor Babi Saat Hari Raya Galungan!

Menjaga kebersihan dan kesucian bukan hanya kewajiban, melainkan fondasi sraddha (keyakinan) dan bhakti (pengabdian) dalam agama Hindu Bali.

Dengan jiwa dan raga yang bersih, umat Hindu Bali diyakini memiliki energi prima untuk menjalankan aktivitas keagamaan dan kehidupan sehari-hari.

Panglukatan hadir sebagai salah satu jalan spiritual untuk mencapai kondisi tersebut.

Air yang telah melalui proses sakral ngarga tirtha menjelma menjadi tirtha panglukatan, sebuah media penyucian yang ampuh.

Jika Anda pernah bersembahyang ke pura di Bali, tentu tak asing dengan sangku berisi tirtha di pintu masuk.

Percikan air suci ini bukan sekadar formalitas, melainkan simbol penyucian diri sebelum memasuki area suci.

Baca Juga: Rakor Dengan KPK, Bupati Kembang Minta Jajaran Pemkab Jembrana Berkomitmen Cegah Tindak Korupsi

Namun, apa sebenarnya esensi dari panglukatan?

Menurut Ketut Gede Suatma Yasa, atau yang lebih dikenal sebagai Guru Mangku Hipno, seorang praktisi spiritual terkemuka di Bali, panglukatan adalah proses penyucian pikiran, hati, dan tubuh.

Beliau mengungkapkan adanya dua jenis panglukatan dengan fungsi berbeda: pembersihan dan penyucian.

"Panglukatan yang sifatnya pembersihan menggunakan sarana alam seperti mandi di campuhan (pertemuan dua sungai), beji (sumber air suci), atau pantai. Sedangkan penyucian memohonkan kekuatan Tuhan untuk menurunkan energi penyucian melalui sarana yang lebih spesifik," jelas Guru Mangku Hipno.

Mengapa malukat (melakukan panglukatan) begitu penting? Guru Mangku Hipno memaparkan bahwa hampir 78 persen pikiran, perasaan, dan tindakan manusia sehari-hari cenderung mengandung energi negatif.

"Penyucian adalah cara untuk membersihkan diri dan lingkungan dari vibrasi negatif tersebut," tegasnya.

Lebih dalam lagi, Guru Mangku Hipno membeberkan rahasia metafisika di balik tempat pelaksanaan panglukatan.

Campuhan, dengan pertemuan dua aliran sungai yang dipercaya mengalirkan energi positif, menjadi lokasi ideal untuk pembersihan.

Baca Juga: Fenomena Penampakan Payung Terbang di Tempat Suci Hindu Bali, Pura Luhur Hyang Api Tabanan: Benarkah Angker dan Berkhasiat Menyembuhkan?

Sementara untuk penyucian yang lebih mendalam, beliau menyarankan malukat ring surya (menghadap matahari) di sanggah surya yang berada di kamulan (pelinggih leluhur).

"Saat malukat ring surya, kita memohon penyucian dari Akasa (langit)," ungkapnya.

Meskipun seringkali disamakan, Guru Mangku Hipno menekankan perbedaan antara pembersihan (sekala) dan penyucian (niskala).

Pembersihan bertujuan mengatasi penyakit jasmani akibat pola hidup yang salah, sedangkan penyucian fokus pada penyembuhan penyakit rohani yang bersumber dari pikiran dan perasaan.

Baca Juga: Dua Wanita Jadi Korban Tabrak Lari di Bypass Dharma Giri Gianyar, Kijang 905 Beri Respon Cepat

Lantas, kapan waktu yang paling tepat untuk malukat? Guru Mangku Hipno menyarankan untuk memilih hari purnama (bulan purnama) atau tilem (bulan mati), karena pada saat tersebut energi alam sedang berada pada puncaknya.

Waktu terbaik adalah pagi hari sebelum matahari terbit untuk memohon anugerah Dewa Surya, atau malam hari setelah matahari terbenam untuk memohon anugerah Sang Hyang Candra Lintang Trenggana (bulan bintang).

Beliau juga menganjurkan untuk melakukan panglukatan secara rutin, setidaknya setiap 15 atau 30 hari sekali, untuk mencegah akumulasi vibrasi negatif dari nafsu, ambisi, dan emosi yang tak terkendali.

Terakhir, Guru Mangku Hipno membocorkan rahasia sarana penting dalam panglukatan.

Untuk pembersihan, energi alam menjadi andalan utama. Namun, untuk penyucian, bungkak nyuh gading (kelapa gading muda) memegang peranan sentral, dilengkapi dengan bunga lima warna dan pejati (persembahan) sebagai simbol kesungguhan dalam memohon.

Menariknya, jika malukat dilakukan oleh anggota keluarga, pejati cukup satu, namun jumlah bungkak harus sesuai dengan jumlah orang yang melukat.

Panglukatan bukan sekadar tradisi, melainkan "makanan rohani" yang esensial bagi keseimbangan hidup.

Semakin sering "makanan rohani" ini diasup, semakin baik pula kualitas spiritual dan mental seseorang. ***

Baca Juga: Prahara Umanis Galungan! Warung Bakso di Kaba-Kaba Tabanan Ludes Terbakar: Diduga Dipicu Selang Regulator Bocor

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#Guru Mangku Hipno #hindu bali #malukat