Mantra Puja Trisandya Umat Hindu Bali Lengkap dengan Artinya: Mendekatkan Diri pada Tuhan, Wajibkah Tiga Kali Sehari
I Putu Suyatra• Jumat, 25 April 2025 | 02:53 WIB
Ilustrasi
BALIEXPRESS.ID - Umat Hindu Bali familiar dengan Puja Trisandya, ritual persembahyangan yang dilaksanakan pada tiga waktu utama dalam sehari: pagi, siang, dan sore.
Praktik ini diyakini sebagai salah satu cara yang indah dan khusyuk untuk mendekatkan diri kepada Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Namun, pertanyaan yang sering muncul adalah, apakah pelaksanaan Trisandhya wajib dilakukan tiga kali dalam sehari?
Ida Pandita Mpu Jaya Ashita Santi Yoga, seorang tokoh agama Hindu Bali dari Griya Natar Agung, Denpasar, memberikan pencerahan terkait hal ini.
Beliau mengutip sloka penting dari kitab Sarasamuscaya 1.4 yang menekankan betapa utamanya kelahiran sebagai manusia.
Sloka tersebut menyatakan bahwa manusia memiliki keistimewaan untuk menolong dirinya sendiri dari siklus kelahiran kembali (punarbhawa) melalui perbuatan baik.
Lebih lanjut, Ida Pandita Mpu Jaya Ashita Santi Yoga menjelaskan bahwa meskipun manusia dianugerahi kemampuan berpikir, mereka tetap tidak terlepas dari pengaruh Tri Guna: Sattwam (kebajikan), Rajas (nafsu/keaktifan), dan Tamas (kemalasan/kegelapan).
"Dalam keseharian, pikiran dan tindakan kita seringkali dipengaruhi oleh ketiga Guna ini," ujar Ida Pandita.
"Melalui Puja Trisandya, kita berupaya untuk menyeimbangkan diri dan memfokuskan pikiran kepada hal-hal yang suci, terutama di saat-saat pergantian hari yang memiliki energi tersendiri."
Lantas, mengenai kewajiban melaksanakan Trisandhya tiga kali sehari, pandangan dari berbagai sumber dan tradisi bisa beragam.
Meskipun idealnya Puja Trisandya dilakukan pada pagi, siang, dan sore hari sebagai representasi dari pengendalian diri di setiap tahapan aktivitas, dalam praktiknya, fleksibilitas seringkali diakomodasi sesuai dengan kondisi dan kemampuan masing-masing individu.
Berikut mantra Puja Trisandya lengkap dengan artinya:
Bait I: Om bhùr bhvah svah tat savitur varenyam bhargo devasya dhimahi dhiyo yo nah pracodayàt.
Artinya: Tuhan adalah bhùr, bhvah, svah. Kita memusatkan pikiran pada kecemerlangan dan kemuliaan Hyang Widhi. Semoga Ia memberikan semangat pikiran kita.
Bait II: Om Nàràyana evedam sarvam yad bhùtam yac ca bhavyam niskalanko nirañjano nirvikalpo niràkhyàtah suddo deva eko Nàràyano na dvitìyo’sti kascit.
Artinya: Ya Tuhan, Nàràyana adalah semua ini, apa yang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari noda, bebas dari kotoran, bebas dari perubahan, tak dapat digambarkan, sucilah dewa Nàràyana, Ia hanya satu, tidak ada yang kedua.
Artinya: Ya Tuhan, hamba ini papa, perbuatan hamba papa, diri hamba ini papa, kelahiran hamba papa. Lindungilah hamba, Hyang Widhi, sucikanlah jiwa dan raga hamba.
Artinya: Ya Tuhan, ampunilah hamba, Hyang Widhi, yang memberikan keselamatan kepada semua makhluk. Bebaskanlah hamba dari segala dosa, lindungilah hamba, oh Hyang Widhi.
Bait VI: Om ksàntavyah kàyiko dosah ksàntavyo vàciko mama ksàntavyo mànaso dosah tat pramàdàt ksamasva màm.
Artinya: Ya Tuhan, ampunilah dosa anggota badan hamba, ampunilah dosa ucapan hamba, ampunilah dosa pikiran hamba. Ampunilah hamba dari kelalaian hamba.
Om sàntih, sàntih, sàntih, Om (Ya Tuhan, semoga damai, damai, damai selamanya). ***