Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Bhakti Penganyar di Pura Agung Besakih Bentuk Pengamalan Sradha dan Bhakti

Putu Agus Adegrantika • Selasa, 29 April 2025 | 13:40 WIB

 

PURA : Suasana Pura Agung Besakih.
PURA : Suasana Pura Agung Besakih.

BALIEXPRESS.ID - Bhakti  penganyar digelar oleh Pemerintah Kabupaten Gianyar di Pura Agung Besakih, Jumat (25/4) lalu.

Dalam kesempatan tersebut dihadiri langsung oleh Sekda Kabupaten Gianyar, Ketua DPRD Gianyar, serta ketua organisasi perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Gianyar.

Bhakti Penganyar adalah salah satu bentuk persembahyangan yang dilakukan oleh umat Hindu, biasanya secara kolektif atau berkelompok, sebagai wujud sradha (keyakinan) dan bhakti (pengabdian) kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta seluruh manifestasi-Nya, khususnya setelah sebuah upacara besar (karya agung) selesai dilaksanakan.

Tujuan Bhakti Penganyar adalah menghaturkan bhakti atas terselenggaranya karya (upacara) secara sukses. Termasuk memohon restu, keselamatan, dan kerahayuan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Baca Juga: Hari Bumi, Implementasi Ajaran Tri Hita Karana

Menjaga hubungan spiritual antara umat dan kahyangan (pura tempat suci), serta mengungkapkan rasa terima kasih dan solidaritas spiritual dengan pura yang telah menyelenggarakan karya.

Kepala Kementerian Agama Kabupaten Gianyar, I Gusti Ngurah Agung Wardhita, memaparkan persembahyangan bhakti penganyar tidak jauh beda dengan persembahyangan seperti biasanya.

Sebab sembahyang adalah bentuk komunikasi spiritual atau hubungan batin antara manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam ajaran Hindu disebut Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

“Dalam konteks agama Hindu di Bali, sembahyang adalah salah satu cara utama umat untuk menyatakan sradha (keyakinan) dan bhakti (pengabdian) melalui doa, mantra, dan persembahan (banten),” paparnya.

Sebab sembahyang dalam Hindu Bali sebagai wujud bhakti dan syukur, sehingga umat menghaturkan sembahyang sebagai bentuk terima kasih atas anugerah hidup, rezeki, dan keselamatan. Termasuk sebagai media memohon tuntunan dan perlindungan.

Dalam sembahyang, umat memohon agar diberi jalan terang dalam menjalani kehidupan, terhindar dari mara bahaya, dan selalu berada di jalan dharma.

Melalui sembahyang, umat membersihkan pikiran dan hati agar selaras dengan nilai-nilai spiritual dan kebaikan. Khususnya sebagai penghubung antara mikrokosmos (diri manusia) dan makrokosmos (alam semesta).

“Hal ini sebabnya sembahyang menyelaraskan hubungan manusia dengan alam, sesama, dan Tuhan,” pungkasnya. *

Editor : Putu Agus Adegrantika