Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Terungkap! Sakit Ternyata Bukan Sekadar Derita, Ada 'Pembayaran' Rahasia di Baliknya?

I Putu Suyatra • Senin, 12 Mei 2025 | 14:47 WIB

ilustrasi
ilustrasi

BALIEPRESS.ID - Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa sakit tak kunjung pergi meski sudah berobat? Atau justru merasa kesal dan terus mengeluh saat tubuh terasa lemah tak berdaya?

Sebuah pandangan menarik dan mendalam diungkapkan oleh seorang tokoh agama dan akademisi Hindu Bali terkemuka, Prof Dr I Wayan Suka Yasa MSi, yang membuka tabir filosofis di balik datangnya penyakit.

Menurutnya, sakit bukan hanya kondisi tidak menyenangkan, melainkan juga sebuah proses "pembayaran" yang patut disyukuri.

Benarkah demikian?

Baca Juga: Heboh! Mantan Model Majalah Dewasa Lisa Mariana Kembali Dihujat Usai Komentari Momen Bahagia Luna Maya dan Maxime Bouttier

Dalam penjelasannya kepada Bali Express (Jawa Pos Group), Prof Suka Yasa, akademisi Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, menekankan bahwa sakit adalah konsekuensi dari sebab dan akibat.

Pola hidup yang kurang baik, ketidakwaspadaan terhadap lingkungan, hingga faktor ketidaksengajaan dapat menjadi pemicunya.

Namun, di balik rasa tidak nyaman itu, tersimpan sebuah makna yang lebih dalam.

"Sakit yang dialami seseorang adalah sebuah pembayaran dosa," ungkap pria berusia 60 tahun ini.

Ia menjelaskan bahwa dalam filosofi Hindu, setiap perbuatan, baik maupun buruk (karma), akan membawa konsekuensi.

Baca Juga: Indonesia Tuan Rumah Konferensi PUIC ke-19: Perkuat Diplomasi Parlemen Dunia Islam

Sakit, dalam konteks ini, bisa menjadi cara alam semesta "membayar" karma buruk yang telah diperbuat, baik di kehidupan saat ini maupun sebelumnya.

Namun, Prof Suka Yasa mengingatkan bahwa respons kita terhadap sakit akan sangat menentukan dampaknya.

Mengeluh dan berpikiran negatif justru akan memperburuk keadaan dan bahkan menambah "dosa" baru.

Sebaliknya, menerima sakit dengan pikiran positif dan rasa syukur dapat mempercepat penyembuhan dan mengurangi beban karma buruk.

"Ketika kita sakit, sebaiknya datangkan pikiran positif, agar cepat sembuh," sarannya. Ia mengibaratkan sakit sebagai sebuah "peringatan" agar manusia lebih waspada dalam menjaga pola hidup dan kesehatan.

Seringkali, kata beliau, manusia sudah mengetahui pemicu penyakitnya, namun tetap melanggarnya karena kurangnya kesadaran dan rasa syukur atas nikmat sehat.

Lebih jauh, Prof Suka Yasa menjelaskan bahwa sakit adalah sebuah "pelajaran" berharga.

Baca Juga: Indonesia Tuan Rumah Konferensi PUIC ke-19: Perkuat Diplomasi Parlemen Dunia Islam

Melalui sakit, seseorang dapat merenungi kesalahan, belajar bersyukur atas kesehatan yang pernah dimilikinya, dan menjadi lebih bijak dalam menjalani hidup.

"Sebagai manusia harus berpikir bahwa dirinya bisa sakit karena kesalahan dirinya sendiri, bukan kesalahan orang lain. Hal ini akan menjadi proses belajar yang benar, sehingga orang tersebut makin lebih baik dalam menjalani hidup," tuturnya.

Lantas, bagaimana cara menumbuhkan rasa syukur di tengah kondisi yang tidak mengenakkan?

Prof Suka Yasa menyarankan untuk membiasakan diri bersyukur sejak usia muda (Brahmacari) dan terus melanjutkannya hingga masa berkeluarga (Grehasta) bahkan sepanjang hidup.

Baca Juga: Ini Alasan Bareskrim Beri Penangguan Mahasiswi ITB Pengunggah Meme Prabowo-Jokowi, Tak Sekadar Kooperatif!

Lebih menarik lagi, Prof Suka Yasa mengungkapkan bahwa bersyukur saat sakit dan berkurangnya karma buruk dapat membawa seseorang pada "kelahiran surga" (Surga Cyuta) di kehidupan selanjutnya.

Kondisi ini memungkinkan seseorang lahir dengan wajah rupawan, dari keluarga berada, dan cerdas. Sebaliknya, jika terus mengeluh dan menyalahkan Tuhan saat sakit, seseorang berpotensi mengalami "kelahiran neraka" (Neraka Cyuta).

Pada akhirnya, Prof Suka Yasa mengingatkan bahwa tujuan hidup dalam Hindu bukanlah kelahiran berulang (reinkarnasi), melainkan mencapai kebebasan spiritual (Moksha).

Oleh karena itu, setiap manusia hendaknya berusaha mengikis karma buruknya hingga habis dan fokus pada tujuan akhir tersebut.

Pandangan Prof Suka Yasa ini tentu membuka perspektif baru tentang makna sakit.

Bukan sekadar penderitaan, melainkan juga sebuah proses "pembersihan" dan pembelajaran yang mendalam. ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#sakit #hindu bali