Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Mengenal Piodalan bagi Umat Hindu Bali: Bukan Sekadar Ulang Tahun Pura, Ada Tiga Jenis!

I Putu Suyatra • Minggu, 25 Mei 2025 | 14:12 WIB

Piodalan di salah satu tempat suci Hindu Bali.
Piodalan di salah satu tempat suci Hindu Bali.

BALIEXPRESS.ID – Pulau Dewata memang tak ada habisnya dengan ragam upacara adat Hindu Bali. Dari sekian banyak ritual, Piodalan mungkin jadi yang paling sering terdengar, tapi tahukah Anda sejarah dan makna mendalam di baliknya?

Ternyata, Piodalan lebih dari sekadar perayaan "ulang tahun" pura!

Bali, yang dijuluki Pulau Seribu Pura, memiliki ribuan tempat suci yang terbagi menjadi Pura Kahyangan, Pura Dang Kahyangan, dan pura keluarga.

Selain menjadi pusat perayaan hari besar seperti Galungan, Kuningan, atau Nyepi, setiap pura juga memiliki hari rayanya sendiri yang dikenal sebagai Piodalan.

Baca Juga: Galian Setra Misterius Tak Hanya di Bangli, Kejadian Serupa Terjadi di Gianyar

Piodalan: Ungkapan Syukur dan Hari Lahir Spiritual Pura

Menurut Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti, Piodalan bukan hanya perayaan kelahiran pura, tapi juga bentuk rasa terima kasih umat Hindu Bali kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas segala anugerah-Nya.

Secara etimologi, Piodalan memang diartikan sebagai hari lahir atau peringatan kelahiran sebuah pura.

"Sesuai dengan beberapa sastra seperti Kitab Bhagawad Gita, disebutkan jika sebuah Pura dianggap lahir atau ada ketika sudah dilakukan upacara Ngenteg Linggih," jelas Ida Rsi.

Pada saat upacara Ngenteg Linggih inilah Ida Bhatara diyakini mulai melinggih atau berstana di pura atau palinggih tersebut.

Artinya, saat prosesi Ngenteg Linggih, pura diberikan kekuatan atau tenaga kehidupan (prana) oleh Ida Sang Hyang Widhi.

Baca Juga: Bintang Timnas Indonesia, Shayne Pattynama Diserbu Puluhan Wanita Cantik di Bali, Ada Apa?

Setelah Ngenteg Linggih, pura tidak lagi hanya sekumpulan bangunan, tetapi sudah menjadi pusat ritual dan spiritual bagi umat Hindu, serta stana bagi para Dewa yang merupakan manifestasi dari Ida Sang Hyang Widhi.

Piodalan Zaman Dulu: Dipengaruhi Musim dan Kehidupan Agraris

Ida Rsi mengungkapkan, di masa lalu, pelaksanaan Piodalan di Bali punya beberapa variasi, seperti Piodalan biasa, Piodalan Nadi, dan Piodalan Nyepen.

Faktor yang memengaruhinya tak lain adalah pola hidup agraris masyarakat Bali zaman dulu, yang sangat tergantung pada musim tanam dan panen.

Lalu, bagaimana dengan Piodalan Nyepen atau Ngempet Piodalan?

Istilah ini merujuk pada kondisi di mana Piodalan "disepikan" atau ditunda.

Di masa lalu, ini sering terjadi saat masyarakat dilanda kekeringan atau musim paceklik.

Namun, di era modern ini, Ida Rsi menjelaskan bahwa Piodalan Nyepen karena faktor agraria sudah jarang ditemui, karena pola hidup masyarakat Bali tak lagi sepenuhnya bergantung pada pertanian.

Baca Juga: Dorong Semangat Generasi Muda Lewat Sepak Bola, BRI Dukung Garuda Futsal League Series 3

Meski begitu, Ngempet Piodalan masih dilakukan jika hari H Piodalan bertepatan dengan adanya musibah kematian di keluarga yang menyelenggarakan upacara tersebut.

Jadi, makna dan sejarah Piodalan di Bali ini jauh lebih dalam daripada yang kita bayangkan, ya? ***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : I Putu Suyatra
#Piodalan #hindu bali #Bhagawad Gita