Tokoh Adat Batuan, I Made Djabur menjelaskan Tari rejang sutri berbeda dengan tari rejang lainnya.
Baik dilihat dari fungsinya, tata rias, dan pakaiannya, serta hari pementasannya. Gerakan Tari Rejang Sutri begitu sederhana dan kontemplatif.
Tari rejang sutri memiliki gerakan yang sederhana yang terdiri dari berbagai gerakan yang diulang-ulang untuk menyesuaikan tempo gamelan yang cukup lambat. Penari memulai tarian mereka di sepanjang wantilan dari sisi barat, diiringi oleh gamelan yang dimainkan oleh orang-orang dari Desa Batuan.
Semua warga setempat bisa menarikannya tanpa harus menari tarian Bali khusus karena gerakannya yang sederhana, lembut, dan harmonis.
Tarian ini dipentaskan dari awal sasih kalima dan akhir sasih kesanga, hari ngembak geni, masyarakat setempat memainkan tarian ini.
Dikatakan I Made Djabur, masyarakat Batuan melakukan tari rejang sutri untuk menghindari kemarahan Ratu Gede Mecaling, yang telah mengusir mereka dan berjanji akan mengganggu mereka dengan menyebarkan penyakit.
Setiap sore, krama desa lanang atau laki-laki selalu berkumpul untuk menggelar gocekan atau sabung ayam sebelum mulainya tari rejang sutri.
Gocekan ini diadakan di bagian utama mandala Pura Puseh lan Desa Batuan, dan dianggap sebagai upaya untuk mengalihkan perhatian I Gede Mecaling dan pengikutnya, yang mungkin mengganggu ketentraman komunitas batuan.
Setelah upacara Nangluk Merana, yang dimulai pada pukul tujuh malam, pementasan Rejang Sutri dilakukan setiap petang.
“Sekitar tiga puluh hingga lima puluh perempuan akan menari di wantilan depan Pura Desa Batuan setiap malam mulai pukul 19.00 WITA setiap kali ada pertunjukan,” katanya.
Ia menambahkan, asalkan tidak dalam kondisi cuntaka, tarian ini ditarikan oleh perempuan dari setiap banjar di Desa Batuan secara bergiliran.
Tidak ada batasan umur. Kamen, kebaya, dan selendang adalah pakaian adat madya yang dikenakan oleh penari.
Namun, para penari akan menggunakan pakaian dan tata rias yang lebih kompleks pada hari-hari suci agama Hindu, seperti purnama, kajeng kliwon, dan harihari suci lainnya.
Rentetan upacara saat Rejang Sutri diawali dengan melaksanakan upacara Dewa Yadnya yaitu melaksanakan upacara persembahyangan di Pura Desa dan Puseh, Ratu Ngurah Agung, Ratu Saung, Ratu Pase Leb yang diantar oleh pemangku desa Batuan dengan sarana upakara pejati jangkep, canang sari, petabuh dan sebagainya.
Sedangkan untuk masing-masing keluarga menghaturkan upakara pejati jangkep ke Pura Desa/ Puseh selanjutnya di upacarai oleh pemangku selanjutnya dibawa pulang untuk di tempatkan di pura keluarga (sanggah,merajan) di sanggah kemulan. Setiap harinya menghaturkan upakara canang dan di lebar saat Rejang Sutri usai (nyineb).
Selanjutnya, melaksanakan upacara mecaru yang dilaksanakan di Pura Desa dan Puseh pada siang hari sebelum nanti malamnya dilaksanakan Rejang Sutri.
Prosesi mecaru di tapal batas Desa Batuan yaitu di ujung banjar Dentiyis batas utara, di ujung banjar Jeleka batas barat, di ujung banjar Puaya simbul batas selatan, di ujung banjar Peninjoan sebagai simbul batas timur.
Mecaru di masing-masing tapal batas desa Batuan diantaranya menggunakan sarana boki diisi tapak dara, wastra poleng, kayu sakti jeroan babi sebagai symbol pengamer-amer.
Dilanjutkan mecaru di masing-masing banjar, kemudian di muka rumah masing-masing anggota masyarakat atau depan pintu masuk (angkul-angkul) saat senja (sandikala), dan pada malam harinya di laksanakan tari Rejang Sutri.
Namun, terlebih dahulu diawali dengan menghaturkan sesajen berupa Pejati yang dihaturkan di Pura Desa dan di tempat pertunjukan.
Pejati yang di haturkan di tempat pertunjukan yaitu di Sanggar Tawang wantilan Pura Desa di sudut timur laut (Ersanya) yang dilakukan oleh Pemangku Desa.
Sanggar Tawang tersebut merupakan tempat upakara sesaji/ banten, untuk setiap harinya sudah ada yang bertugas menghaturkan upacara, tempat berstananya Widyadara-widyadari, BetharaBethari, tempat pemujaan masyarakat Batuan saat Rejang Sutri dilaksanakan
Pada Sanggar Tawang tersebut masyarakat menghaturkan sesajen berupa jajan/ kue (jaje kukus), buah-buahan atau apa saja yang di haturkan oleh masyarakat Batuan, ditaruh juga di lantaran (sejenis meja) saat Rejang Sutri berias.
Bahkan ada beberapa orang dari luar desa Batuan kadang-kadang menghaturkan sesuatu, yang kemungkinan orang tersebut membayar kaul setelah keinginannya terpenuhi atas karunia/ berkah dari sasuhunan desa Batuan.
Jajan atau buah-buahan tersebut akan dibagikan kepada penari dan penabuh bahkan sampai pada masyarakat yang masih menonton saat Rejang Sutri masih berlangsung.
“Tetapi sekarang ada pemberian sebuah buku tulis terhadap anak-anak sekolah dasar dan sekolah menengah pertama setelah mereka selesai menari Rejang Sutri,” paparnya.
Dengan adanya pemberian jajan (jaje kukus) dan buku tersebut anak-anak kecil khususnya di desa Batuan jadi antusias untuk setiap kali ada acara pementasan Rejang Sutri pasti banyak yang menari (ngayah mesolah).
Saat melaksanakan tabuh rah perang kelapa 2 buah, perang tipat gandu dan perang telur ayam atau bebek, dan melaksanakan gocekan (sabungan ayam kecil-kecil) mulai pukul 15:00 sampai pukul 18:00 Wita.
“Rejang Sutri dipertunjukan dalam rangka upacara besar di Pura Desa dan Puseh Batuan dalam rentetan kegiatan upacara keagamaan sehingga masuk kedalam fungsi tari Wali atau Bebali,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika