Topeng Sumenep, Ceritakan Gatot Kaca Palsu dan Mimpi dari Pulau Garam
Putu Agus Adegrantika• Sabtu, 28 Juni 2025 | 14:27 WIB
TOPENG : Topeng Sumenep pentas di PKB
BALIEXPRESS.ID - Kalangan Ratna Kanda di Taman Budaya Bali tampak berbeda. Gema gamelan Madura menyusup ke telinga, sementara panggung diisi warna-warni dari tanah seberang: Sumenep, Bumi Sumekar, Kota Keris dari ujung timur Pulau Madura.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah keikutsertaan mereka di Pesta Kesenian Bali (PKB), tim kesenian dari Kabupaten Sumenep tampil percaya diri. Mereka mengusung Tari Topeng lakon “Gatot Kaca Kembar”, pementasan berdurasi nyaris satu jam yang sarat intrik, aksi, dan nilai moral.
Dalang Bertutur, Topeng Menari, diiringi irama klenengan khas Madura, 32 seniman—penari dan pengrawit—tampil memukau. Tari Topeng Sumenep bukan sekadar tarian; ia menyatukan teater, narasi, hingga pertunjukan wayang orang. Dalang bertutur dalam bahasa Madura, menceritakan kisah yang rumit namun penuh makna: Raja Brojo Dento yang ingin merebut Subodro dengan menyamar jadi Gatot Kaca.
Drama pun memuncak. Gatot Kaca palsu membawa Subodro kabur, Srikandi mengejar, para ksatria Pandawa pun berkumpul. Ketegangan pecah di medan Pringgondani, hingga akhirnya kebenaran terungkap dan Raja Brojo Dento dihukum.
Anak-anak yang menonton dari awal duduk di rerumputan Kalangan tampak terpukau. Beberapa bahkan menirukan gerak tari para penari topeng yang berpakaian megah. "Tariannya mirip sendratari Bali, tapi bahasanya beda. Unik!" celetuk seorang penonton cilik.
Mohamad Iksan, Kepala Dinas Kebudayaan Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Sumenep, menyebut penampilan ini bukan hanya untuk memperkenalkan budaya Sumenep, tapi juga sebagai langkah belajar dari Bali.
“Kami ingin meniru jejak Bali. Di sini, seni hidup di tengah masyarakat. Penonton datang tanpa disuruh, mereka sudah cinta budaya. Ini yang ingin kami pelajari dan bawa pulang ke Madura,” ujarnya.
Bali bagi mereka bukan sekadar panggung, tapi cermin dan inspirasi. Iksan berharap ke depan Sumenep bisa mengembangkan ruang seni yang terorganisasi seperti Taman Budaya Bali.
“Kalau ini bisa kami tiru, pasti akan berpengaruh besar pada pariwisata Sumenep,” bebernya.
Meski berbeda bahasa, pentas ini membuktikan bahwa seni mampu menjembatani dua budaya: Bali dan Madura. Cerita pewayangan yang disampaikan dalam format Madura diterima hangat oleh publik Bali, bahkan anak-anak sekalipun.
Tari Topeng Sumenep bukan hanya tentang Gatot Kaca dan konflik saudara, melainkan tentang misi budaya, mimpi besar dari tanah yang masih haus pengakuan. Dengan penuh semangat dan suara gamelan yang menggema, mereka menari bukan sekadar untuk tampil—tapi untuk diingat. Dan malam itu, Topeng dari Sumenep berhasil meninggalkan jejak di hati Bali. *