Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Penonton Tumpah Ruah! Ardha Candra Bergetar oleh Lomba Balaganjur PKB ke-47

Putu Agus Adegrantika • Sabtu, 28 Juni 2025 | 14:32 WIB
BALEGANJUR : Pementasan baleganjur pada PKB ke 47.
BALEGANJUR : Pementasan baleganjur pada PKB ke 47.

BALIEXPRESS.ID - Suasana Gedung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Kamis malam (26/6) mendadak mengguncang! Ribuan penonton membanjiri arena megah berkapasitas 10 ribu itu hingga penuh sesak—bahkan sebelum lomba Balaganjur dimulai. Antusiasme pecinta seni benar-benar membeludak. Ini bukan sekadar tontonan, tapi euforia budaya yang meledak!

Dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47, empat duta kabupaten/kota bertarung musikal dalam Wimbakara (lomba) Balaganjur yang sengit dan spektakuler. Ardha Candra pun bergetar oleh deru kendang, gemuruh gong, dan energi penonton yang tak tertahankan.

Mereka yang tak kebagian kursi, nekat berdiri bahkan lesehan hingga ke luar gedung. Area sekitar pintu masuk ikut dipadati, demi bisa menyaksikan aksi memukau di layar videotron. Tak peduli harus berhimpitan, penonton tetap bertahan, larut dalam aura magis dentuman Balaganjur.

Penampilan pertama dibuka duta Kota Denpasar, Sekaa Gong Jaya Semara Banjar Lumintang dengan garapan "Kincang Kincung", penuh ritme dinamis dan semangat juang. Disusul duta Badung, Komunitas Seni Gong Gembyong Desa Adat Pangsan lewat karya dahsyat "Perang Untek" yang menegangkan.

Lalu giliran Buleleng, Sanggar Seni Gelung Kumara Pemuteran, menampilkan karya epik "Paripurnaning Madewa Ayu". Tak kalah memukau, Tabanan menutup lomba lewat Sekaa Gong Abinaya dengan garapan "Pengurip Gumi", menyentuh tema keseimbangan alam.

Malam itu bukan sekadar lomba, tapi ajang unjuk gigi kekuatan musikal Bali yang mengguncang langit Ardha Candra! PKB kali ini benar-benar berhasil membakar semangat masyarakat pecinta seni tradisi. Balaganjur? Bukan hanya bunyi—tapi ledakan rasa dan energi Bali yang tak bisa dibendung.*

Editor : Putu Agus Adegrantika