Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Parade Gong Kebyar Dewasa, Duta Kabupaten Badung Garap Pementaskan "Gema Giri Kusuma"

Putu Agus Adegrantika • Senin, 14 Juli 2025 | 00:21 WIB
PARADE : Utsawa (Parade) Gong Kebyar Dewasa Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47.
PARADE : Utsawa (Parade) Gong Kebyar Dewasa Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47.

BALIEXPRESS. ID - Langit  malam di panggung terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, Jumat (11/7), seakan ikut bergetar saat Sekaa Gong Kebyar Dewasa Wira Agra Kusuma dari Desa Blahkiuh, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung tampil memukau dalam ajang Utsawa (Parade) Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47. Dalam balutan busana sesaputan yang anggun, mereka menyuguhkan tiga garapan unggulan yang lahir dari rahim kearifan lokal: Tabuh Lelambatan “Giri Kusuma”, Tari Kreasi Kekebyaran “Kakundur”, dan Fragmentari “Sabda Prawara”.

Ribuan pasang mata terpaku pada penampilan energik yang penuh estetika ini. Tak hanya warga umum, hadir pula Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa beserta istri, para tokoh adat, dan masyarakat Blahkiuh yang datang memberi dukungan pada jagoan desanya.

Penampilan Sekaa Gong Wira Agra Kusuma malam itu terasa istimewa karena tampil mabarung bersama Duta Kabupaten Buleleng, Sanggar Seni Anglocita Suara dari Banjar Adat Penarungan. Kedua duta kabupaten ini saling menghidupkan panggung, namun Wira Agra Kusuma tampil dengan identitas yang kuat, sarat makna spiritual.

Koordinator Parade Gong Kebyar Dewasa Duta Badung, I Wayan Sandiasa menjelaskan, semua garapan mereka lahir dari filosofi Pura Luhur Giri Kusuma yang menjadi sumber spiritual masyarakat Blahkiuh. Tabuh Nem “Giri Kusuma” digarap oleh I Wayan Gede Arnawa, S.Sn., sebagai ekspresi syukur atas anugerah alam dan harmoni kehidupan.

“Tabuh ini bercerita tentang alam yang subur, masyarakat yang makmur, dan kesadaran akan hubungan sakral manusia dengan semesta,” ungkap Sandiasa.

Dalam narasinya, "Giri" berarti gunung dan "Kusuma" berarti bunga. Pura Luhur Giri Kusuma berdiri megah di ketinggian, menjadi pusat spirit religius masyarakat desa. Lewat tabuh ini, Wira Agra Kusuma menggambarkan semangat lokal sebagai pilar Jagat Kerthi — tema besar PKB tahun ini.

Tari Kreasi Kekebyaran “Kakundur” menjadi karya yang mencuri perhatian. Ditata oleh tim koreografer dan komposer yang dikomandoi Dr. I Gusti Made Darma Putra, tari ini memvisualkan permata budaya Blahkiuh, yang berpijak pada warisan leluhur Hyang Ratu Panji. Dengan irama cak yang menghentak dan gerak yang khas, “Kakundur” menyulap panggung menjadi ruang sakral, tempat memori dan identitas desa menari bersama zaman.

Menurut Sandiasa, tari ini terinspirasi dari mahkota sakral peninggalan Dang Hyang Nirartha yang disimpan di Pura Luhur Giri Kusuma. “Kakundur bukan sekadar tari, tapi pusaka gerak yang menggetarkan bumi dengan irama cak abadi,” tegasnya.

Puncak pertunjukan ditutup dengan fragmentari “Sabda Prawara”, garapan teatrikal yang membongkar sisi gelap di balik kejayaan. Mengangkat mitologi lokal tentang ritual ngerebeg, fragmentari ini menyampaikan pesan bahwa jika masyarakat Blahkiuh abai melaksanakan ritual tersebut, akan datang masa kelam berupa grubug (bencana).

Garapan yang ditata oleh tim kreatif Dr. Darma Putra, Ida Bagus Yodhie Hariscandra, I Wayan Muliyadi, dan Ayu Ari Citta Laksmi ini bukan hanya sajian seni, tapi juga peringatan agar kearifan lokal tidak tercerabut dari akar budaya.

Melalui PKB, Sandiasa menyebutkan bahwa masyarakat Blahkiuh tengah memperkuat posisi sebagai desa budaya. “Kami ingin terus menghidupkan nilai-nilai lokal dan menyampaikan warisan budaya ini kepada generasi muda,” ujarnya.

Ia pun menyampaikan terima kasih kepada Pemkab Badung, khususnya Bupati Adi Arnawa atas dukungan dan kesempatan tampil di panggung seni terbesar Bali. “Semoga ini menjadi awal dari kiprah lebih besar generasi muda kami di dunia kesenian,” tutupnya.

Editor : Putu Agus Adegrantika