Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Sabang Daat Desa Taro: Jejak Sakral Rsi Markandeya yang Berupa Bebaturan

I Putu Mardika • Sabtu, 2 Agustus 2025 | 23:13 WIB

Pura Sabang Daat di Desa Taro, Kecamatan Tegalalang, Gianyar
Pura Sabang Daat di Desa Taro, Kecamatan Tegalalang, Gianyar
BALIEXPRESS.ID-Desa Taro, Kecamatan Tegalalang, Gianyar, selama ini dikenal luas karena keberadaan lembu putih dan Pura Gunung Raung, yang diyakini sebagai jejak spiritual Rsi Markandeya. Namun, tak banyak yang tahu bahwa di desa ini pula berdiri sebuah pura tua dan sakral yakni Pura Sabang Daat.

Pura ini memiliki kedudukan penting dalam sejarah spiritual Bali. Diyakini sebagai tempat pertama Rsi Markandeya berhenti dan mengadakan pesamuan bersama para pengiringnya di Taro, sebelum memulai misinya menyebarkan ajaran Hindu di Pulau Dewata.

Kata ‘Sabang’ dimaknai pertemuan, sementara ‘Daat’ berarti sakral, artinya Sabang Daat diyakini sebagai tempat pertemuan sakral. Menurut sejumlah sumber, Pura Sabang Daat telah ada jauh sebelum masehi.

Berbeda dengan pura pada umumnya, Pura Sabang Daat tak memiliki bangunan palinggih. Di tengah hutan, hanya ada asagan sebentuk altar alami yang dijaga keasliannya hingga kini. Tak satu pun bangunan modern berdiri di sana.

“Secara nyata saat ini hanya terlihat batu-batu peninggalan beliau (Rsi Markandeya),” jelas Jro Mangku Puseh Desa Puakan, pemangku Pura Sabang Daat, saat ditemui di lokasi. “Namun, di sinilah beliau memperoleh inspirasi membangun Pasraman Gunung Raung.”

Pasraman tersebut kini dikenal sebagai Pura Gunung Raung, dan diyakini menjadi cikal bakal sistem pemujaan di Bali. Di pura inilah pula, sistem persembahan berupa banten pertama kali diperkenalkan oleh Rsi Markandeya.

Sebelum itu, menurut legenda, banyak pengikut Rsi Markandeya meninggal dunia akibat gangguan makhluk halus.

Setelah bermeditasi dan mendapatkan wahyu di Gunung Raung, beliau kembali ke Sabang Daat untuk mempraktikkan bentuk ritual banten sebagai bentuk perlindungan spiritual.

“Sejak saat itu, perjalanan spiritual beliau berjalan lancar tanpa gangguan,” lanjut Jro Mangku. Maka dari itulah, Sabang Daat menjadi tempat penting dalam sejarah ajaran Hindu di Bali.

Pura ini memiliki satu lingga, beberapa batu besar, serta batu-batu lain yang digunakan sebagai media pemujaan. Semuanya dibiarkan alami, tak tersentuh renovasi. “Karena bentuk yang demikian sudah ada secara gaib atau secara niskala,” tambahnya.

Luas pura ini mencapai 2 hektar, dengan bagian utama (jeroan) yang disengker menggunakan pagar hidup seluas 6 are. Di areal jeroan, terdapat lingga-yoni yang muncul dari tanah, menandai kesakralan yang sudah berlangsung ribuan tahun.

Tidak hanya warga Desa Taro yang menjadi pengempon, tetapi juga umat Hindu dari Ubud, Kintamani, dan 35 desa lainnya. Pada hari-hari besar seperti Galungan, desa-desa tersebut tangkil ke Pura Sabang Daat untuk matur piuning.

“Biasanya 35 desa pangempon tangkil di hari Raya Galungan, tapi waktu pastinya tergantung tradisi masing-masing desa,” jelas Jro Mangku.

Menariknya, seberapa besar pun upacara digelar di pura ini, tidak diperbolehkan menggunakan gamelan ataupun genta. Juga tidak boleh dipuput oleh sulinggih. Upacara hanya boleh dipuput oleh Jro Mangku setempat.

Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa Pura Sabang Daat merupakan linggih suci dari Ida Bhatara Rsi Markandeya. “Yang muput hanya pemangku saja, karena semuanya sudah ada. Tinggal nunas tirta di sini,” ujar Jro Mangku Sabang Daat.

Lingga yang menjadi pusat pemujaan tidak berdiri sendiri. Di belakang tempat persembahyangan terdapat batu besar yang diyakini sebagai tempat tapa Rsi Markandeya. Tak jauh dari situ juga ada empat batu ukuran sedang dan satu batu menyerupai sarkofagus.

Benda-benda tersebut diyakini sebagai sarana pemujaan Rsi Markandeya dan para sisyanya. Maka tak heran, hingga kini batu-batu itu tetap digunakan dalam ritual sebagai perantara komunikasi dengan para dewa dan alam semesta.

Bentuk dan pola pemujaan di Pura Sabang Daat mencerminkan pengaruh Dinamisme megalitikum. Keberadaan berbagai jenis batu menunjukkan jejak peradaban spiritual yang sangat tua, jauh sebelum agama formal terbentuk.

“Bentuk batu yang ada memperlihatkan bahwa ajaran yang diajarkan Rsi Markandeya sangat kuno. Namun dipadukan dengan jamannya, lahirlah sistem ritual seperti sekarang ini,” paparnya.

Persembahan sarana banten diyakini sebagai hasil akulturasi antara budaya Bali asli yang bersifat animisme-dinamisme dan bentuk persembahan dari Jawa. Konsep ini berkembang menjadi ritual banten yang indah dan kompleks seperti saat ini.

Kepercayaan terhadap kesakralan Pura Sabang Daat juga terlihat dari banyaknya umat yang memohon kesembuhan atau keturunan di tempat ini. Banyak yang mengaku doanya terkabul setelah nunas tirta atau tamba di pura ini.

“Sudah banyak yang membuktikan. Ada yang sakit menahun sembuh setelah nunas tirta di sini. Bahkan pasangan yang lama belum memiliki anak, akhirnya bisa hamil setelah nunas tamba di sini.” Sebutnya.

Menurutnya, proses permohonan tamba atau keturunan seringkali dimulai dari petunjuk secara niskala. Tak ada syarat khusus soal persembahan, cukup berdasarkan kemampuan dan ketulusan umat.

“Yang penting niatnya tulus, tidak ada patokan harus bawa apa. Sesuai kemampuan dan keyakinan masing-masing,” pungkasnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#gianyar #tegalalang #Pura Sabang Daat #Rsi Markandeya #Pura Gunung Raung #hindu #desa taro