Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Sekah dalam Upacara Atma Wedana, Simbol Pelepasan Unsur Duniawi, Wujud Panca Tan Matra  

I Putu Mardika • Jumat, 8 Agustus 2025 | 03:29 WIB

Sekah yang digunakan dalam upacara Atma Wedana rangkaian upacara kematian bagi umat Hindu
Sekah yang digunakan dalam upacara Atma Wedana rangkaian upacara kematian bagi umat Hindu
BALIEXPRESS.ID-Dalam ritual atma wedana atau asti wedana sering mendengar istilah Sekah atau Nyekah. Prosesi ini diyakini sebagai simbol melepaskan unsur-unsur duniawi untuk menuju alam pitra.

Cendikiawan Hindu, Dr. Ida Bagus Gede Wiradnyana dalam Yudha Triguna Channel menjelaskan pada tradisi ngaben di Bali sekah adalah simbol atau representasi jasad orang yang telah meninggal yang difungsikan sebagai pengganti fisik jenasah dalam upacara kremasi (pembakaran jenazah)

Terutama apabila jazad aslinya sudah tidak ada, misalnya sebelumnya telah dikubur, hilang, atau karena alasan tertentu yang tidak diijinkan diaben secara langsung.

Secara umum, fungsi dan makna sekah simbol tubuh fisik. Sekah menggantikan tubuh si mati secara simbolik dalam ritual ngaben, sehingga proses penyucian dan pelepasan roh tetap bisa dilakukan sesuai ajaran agama Hindu di Bali.

Sekah juga menjadi wahana roh atau menjadi wadah peralihan di mana roh (atma) bersemayam sebelum dilepaskan menuju alam pitra (alam leluhur).

Baca Juga: Momen Pencanangan GEMAPATAS 2025, Menteri Nusron: Semua Masyarakat Wajib Pasang Patok

Sekah juga diyakini sebagai ritual transendensi, yaitu sekah bukan hanya simbol kematian, tapi juga proses pembebasan unsur duniawi (panca maha bhuta) untuk memungkinkan atma bereinkarnasi atau mencapai moksa.

"Sekah adalah lambang dari tubuh kasar yang harus dibakar, agar roh dapat terbebas dari ikatan duniawi dan mencapai alam leluhur atau moksa." Ujarnya.

Sekah juga disebut puspa pada upacara atma wedana yang artinya harus sehingga disebut juga puspa lingga yang konotasinya berbau harum, harum, dan tanpa bau.

Sekah adalah perwujudan Panca Tanmatra, yaitu lima unsur benih kehidupan antara lain sebagai berikut. Rasa, saling berhubungan dan bersifat sementara disimbolkan dengan daun beringin (don bingin).

Rupa, pengelihatan disimbolkan dengan muka sekah (prerai sekah). Sparsa, rasa dan sentuhan disimbolkan dengan badan sekah (pengawak sekah).

“Gandha, penciuman disimbolkan dengan bunga sekah. Sabda, suara disimbolkan dengan Tungkeda dan Nama” paaprnya.

Baca Juga: GEMAPATAS Akan Dicanangkan Serentak di 23 Kabupaten/Kota, Kepala Biro Humas dan Protokol: Dipimpin Langsung oleh Menteri Nusron

Ia menjelaskan, ada sejumlah bahan yang patut disiapkan dalam kaitannya dengan pembuatan sekah. Bahan-bahan itu diantaranya sebagai berikut. Bokor, lungka-lungka, rantasan (sor pangawak); Sangku; Murdha; Jemek (Mirah dibungkus dengan Kapas);

Buluh Sekah; Prerai; Daun bingin; Sok Sekah; Isi craken (anget-anget); Racadana bertuliskan dasa bayu dibungkus dengan daun dadap; Panca datu; Tungked dan Nama (dahan kayu ae baas, padang lepas dan saet mingmang).

Ada juga sarana Bangsah buah; Padang lepas; Bunga medori; Daun medori; Bunga Ratna; Bunga Sulasih; Sari Bunga Tunjung Putih; Kamen; Anteng; Kakasang; dan Canang Sari.

“Sarana Bangsah Buah ini berjumlah delapan, dan dipasang melingkar. Kemudian setelah Bangsah Buah dipasang Padang Lepas. Lanjut Bunga Medori dan seterusnya,” sebutnya.

Usai dipasang, maka dimasukkan uang kepeng 200, sebagai pengunci agar sekah bisa berdiri dengan bagus. Kemudian dimasukkkan daun beringin.

“Makanya sebelum nyekah, ada prosesi ngangget don beringin, dan digunakan pada saat itu. Untuk sekah berjenis kelamin pria, maka dilipat telungkup dan sekah berjenis kelamin Perempuan maka posisinya tengadah,” kata Wiradnyana.

Baca Juga: Bupati Adi Arnawa Tinjau TPST Desa Adat Kapal

Pembuatan sekah tak dipungkiri mengacu dari sisi estetika atau kreasi seni dengan memperhatikan sisi Sundaram. Penggunaan beragam jenis bunga sebagai upaya untuk menunjukkan sisi seni.

Proses ngajum sekah sebagai upaya memuliakan leluhur, orang tua yang dibuatkan ritual. “Sebagaimana representasi kecintaan terhadap leluhur yang dibuatkan upacara. Sehingga dibuat seseni mungkin,” tutupnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#kematian #Sekah #hindu #atma wedana