Pengempon Pura Luhur Pucak Padang Dawa, I Gede Suryawan menjelaskan pada tengah malam, sehari sebelum Budha Kliwon Pegatwakan, kesembilan tapakan Barong Nawa Sanga diturunkan dari tempat penyimpananya dan dihias sedemikian rupa.
Kemudian ditata sesuai warna dan perwujudannya serta di tempatkan kembali di Bale Pepelik Pura Luhur Pucak Padang Dawa, secara berjejer menebar kesucian.
“Tapakan Ida Bhatara Barong Nawa Sanga yang disebut juga Barong Blasblasan disungsung oleh warga masyarakat Desa Bangli di Pura Pucak Padang Dawa,” sebutnya.
Barong-barong yang berada di Pura Pucak Padang Dawa melancaran atau ngunya, sering disebut juga ngelawang yang berarti melalungan kejaba kuto.
Ngelawang berarti pergi diarak keliling desa berhari-hari, bahkan berbulan-bulan lamanya. Gerakan ini mengandung makna simbolis bahwa Tapakan Barong Nawa Sanggha melakukan penyucian alam semesta, berdasarkan perhitungan kalender Bali.
Kemudian, barong dan rangda setelah mengikuti prosesi pelaksanaan ritual Paruman Barong, kemudian warga masyarakat berserta benda-benda sakral kelengkapannya, diarak kembali menuju desa penyungsung barong masing-masing.
“Intinya terpencar-pencar di wilayah se Bali Tengah/Selatan meliputi Kabupaten, seperti Tabanan, Negara/Jembrana, Badung, Denpasar Gianyar, dan Bangli, menebar kesucian secara sekala maupun niskala,” paparnya.
Petapakan Ida Bhatara Barong Nawa Sanga di Pura Pucak Padang Dawa melancaran atau ngelawang, yang intinya mengundang tapakan barong peserta ritual paruman di daerah-daerah se Bali tengah.
Mengundang tapakan barong, dimulai dari Desa Baturiti-Tabanan menuju Desa Kapal, Mengwi-Badung, Sanur-Denpasar hingga Ubud, dan Payangan Gianyar, bahkan sampai Bangli.
Pelaksanaan melancaran Ida Bhatara Barong Nawa Sanga setidaknya dilangsungkan setahun sekali atau tergantung pada keperluan masyarakat yang mendesak. Misalnya seperti terjadi kekeringan tanah pertanian dalam waktu lama, paceklik, dan timbul bencana penyakit yang menghatui ketenteraman masyarakat.
Pelaksanaan melancaran atau melalungan, yang juga sering disebut ngunya barong, biasanya berlangsung dua minggu sampai dua bulan sebelum hari pelaksanaan upacara Paruman Barong.
Kemudian beberapa hari sebelum pelaksanaan pujawali di Pura Luhur Pucak Padang Dawa, yang jatuh pada hari Budha Kliwon Pahang, diharapkan Tapakan Barong Kedingkling sudah berada di Pura Padang Dawa, untuk menyambut kehadiran tapakan-tapakan barong peserta paruman.
Perjalanan Tapakan Barong Nawa Sanggha keliling daerah ini selain bermakna mengundang barong-barong yang memperoleh Pasupati di Pura Pucak Padang Dawa, juga menyiratkan makna penyucian lingkungan alam nyata (sekala) melalui kekuatan melancaran (bepergian) secara tidak kasat mata (niskala)
Melancaran atau ngelawang secara rinci terjadi pembagian waktu antara petapakan Ida Bhatara Barong Pura Pucak Padang Dawa, Natar Sari, dan Pucak Kembar diatur bergantian 2 tahun sekali.
Kemudian, prosesi Melelungan, terbagi menjadi dua alur perjalanan, misalnya, dimulai mengunjungi daerah-daerah Tabanan, Negara/Jembrana dan Badung serta Denpasar.
Kedua daerah-daerah sekitar Ubud Gianyar hingga Bangli. Tradisi melelungan biasanya dimulai dengan kunjungan di pura petapakan barong di desa-desa yang dilewati, dilakukan secara bergantian, dan berurutan.
"Jika di suatu tempat yang dikunjungi terjadi pelaksanaan upacara utama yadnya, maka petapakan Pura Pucak Padang Dawa, Natar Sari, dan atau Pucak Kembar, yang sedang melalungan dilaksanakan lima belas hari setelah upacara," ungkapnya.
Kemudian acara melalungan dilanjutkan setiap 6 (enam) bulan sekali secara bergantian dan berurutan, pertama mulai dari tapakan Barong Pura Pucak Padang Dawa. Enam bulan berikutnya, tapakan Barong Natar Sari, dan terakhir tapakan Barong Pucak Kembar Pacung.
Pengaturan pelaksanaan ngunya sebagai upacara ruwat bumi ini disusun dan diatur oleh panitia pengunyan yang diketuai oleh penyarikan. Pelaksanaannya disesuaikan dengan urut-urutan pura atau desa yang akan dilewati atau bisa juga berdasarkan atas jadwal yang telah direncanakan.
Pelaksanaan ruwat bumi diharapkan dapat menyucikan kembali alam semesta dari segala hadangan mara bahaya yang mengamcam ketenteraman hidup dan kehidupan umat manusia.
Ketika tapakan barong melalungan, para pengiring yang mundut, yaitu orang yang bertugas nyunggi petapakan barong adalah orang-orang yang telah disucikan lahir/batin (diwinten) atau orang yang mendapat ijin dari pemangku pura sesuai adatnya.
Akan tetapi, sering terjadi jumlah dari warga pengiring sangat terbatas, maka ketika hal itu terjadi, para pengiring berusaha secara bergantian memundut dari 9 (sembilan) tokoh petapakan Ida Bhatara Nawa Sanga dalam waktu yang relatif lama dari satu desa ke desa berikutnya.
Petapakan Ida Bhatara Barong Nawa Sanga yang menggunakan kostum lengkap adalah petapakan Sangut dan Delem. Tokoh-tokoh tapakan yang lain hanya memakai kostum dari daun praksok kering yang ditata sedemikian rupa.
Tataan daun praksok ini terlihat menyatu dengan topeng, dan hiasan kepala tapakan barong. Dengan demikian, bagi seseorang yang bertugas mudut tapakan tersebut tetap menggunakan pakaian adatnya sendiri.
"Kelengkapan petapakan, seperti senjata dibawa oleh masing-masing juru pundut petapakan itu sendiri atau bisa juga dibawa oleh sesama pengiring tapakan," tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika