Melalui karya Baligrafi, tulisan Bali dibuat dengan bentuk yang indah, warna yang menarik dan dikomposisikan dengan pertimbangan rasa keindahan sehingga merupakan karya seni yang bisa dinikmati keindahannya.
Dosen Bahasa Bali IAHN Mpu Kuturan, Made Susila Putra mengatakan Baligrafi sejatinya merupakan upaya untuk pelesatrian tulisan Bali sehingga tulisan Bali tetap terjaga dan tidak ditinggalkan oleh generasi muda kita.
Baligrafi ini dibuat untuk menggambarkan simbul Ida Sang Hyang Widhi Wasa beserta manifestasinya, dibuat sedemikian rupa sehingga memiliki nilai estetis tersendiri.
Baligrafi dalam tulisannya terkandung aksara Hindu Bali yang indah. Namun menghadirkan nuansa yang berbeda.
“Jika kaligrafi pandangan umum akan mengasosiasikan dengan unsur Islami, sementara Baligrafi terkandung menghadirkan asosiasi yang bernuansa aksara Hindu Bali,” ungkapnya.
Dikatakan Susila, Baligrafi dirangkai dalam sebuah karya seni memakai unsur-unsur aksara Bali. Termasuk berwujud rupa dengan nilai-nilai estetika Hindu, serta jnana sebagai sumber ilmu pengetahuan
“Hubungan aksara Bali dengan karya seni baligrafi adalah aksara atau skrip sebagai energi sistim simbol visual bahasa sastra rupa yang tertera pada kertas maupun media lainnya,” ujarnya.
Secara umum aksara dari segi bentuk dan fungsi, dikelompokkan atas tiga macam yaitu aksara Wijaksara, aksara Lokanatha, dan aksara Pati (Panten) Modre.
Aksara Bali yang digunakan dalam karya seni baligrafi maupun acara agama, serta visual art lainya menggunakan aksara Bali sesuai kelompok nilai fungsinya.
Lambang wijaksara berasal dari aksara Bali biasa yang mendapat perlengkapan bisah atau hulu candra.
Pemakaian wijaksara jauh lebih luas umumnya hal-hal yang lebih tinggi nilainya. Yang termasuk dalam bilangan wijaksara diantaranya Ekaksara, Dwyaksara (aksara kalih), Tryaksara, Panca Brahma dan Pancaksara, Dasaksara, dan Caturdasaksara dan Sodasaksara
Kemudian Aksara Lokanatha merupakan aksara suci yang ditulis bersusun sedemikian rupa dan mempunyai aturan membaca sendiri. Dalam Lontar AJi Brata dijelaskan Contoh aksara dasa bayu dasa prana Om A I Ka Sa Ma Ra La Wa Ya Ung.
“Dasa Bayu adalah soal nafas, hawa atau angin yang amat penting untuk memberikan hidup kita,” paparya.
Sedangkan Aksara Pati/Paten disebut juga Aksara Modre yaitu Aksara yang sulit dibaca, karena mendapat berbagai perlengkapan (pengangge, busana). Di samping itu juga yang dilambangkan dengan gambar-gambar tertentu. Cara untuk membacanya pun ada petunjuk khusus dalam Lontar Krakah modre dan Siwa Griguh.
Baligrafi berwujud aksara Bali merupakan perpaduan di antara aksara Bali, sastra dan rupa, sehingga kelihatan indah.
“Aksara Bali diolah sedemikian rupa hingga menghasilkan hasil rekaan yang indah yang sering di jumpai dalam berbagai sarana keagamaan. Aksara Bali dalam Baligrafi terdiri dari aksara wijaksara, lokanata, modre, wreastra, swalalita,” imbuhnya.
Wujud Baligrafi divisualisasikan dalam bentuk pawayangan dewa dewi atau laki dan perempuan yang membangun unsur purusa predhana atau ardhana reswari, dewata nawasanga yang diikuti dengan bentuk bentuk warna dan senjata pengidr ider.
Baligrafi juga berwujud simbol-simbol Hindu. Simbol-simbol Hindu diolah menjadi karya seni yang kreatif dengan menggunakan aksara Bali sebagai media. Simbol ini menandakan berbagai bentuk simbol sarana acara agama.
Ada pula Baligrafi berwujud binatang. Binatang dalam seni pewayangan menjadi obyek Baligrafi yang merupakan kendaraan atau tunggangan dari para dewa-dewi seperti binatang gajah, singa, angsa, sapi, naga, macan, garuda, paksi, lembu, serta binatang-binatang purba yang indah.
Baligrafi berwujud manusia-manusia purba yang sangat primitif dan karakter sangat sederhana, tampak anggun mengesankan dan berwibawa.
“Keberadaan seni baligrafi seperti wujud manusia ini sering dipergunakan dalam simbol upacara yadnya di Bali. Baligrafi berwujud pepohonan, karakter pepohonan menjadi seni baligrafi seperti pohon kelapa, papaya yang mengandung unsur rupa dan lain-lain,” katanya.
Dalam pembuatan karya seni Baligrafi memerlukan alat dan bahan. Dalam pembuatan seni Baligrafi ada beberapa jenis alat yang digunakan oleh seniman untuk berkarya seperti kuas, pensil, kertas.
Kertas untuk dilukis sebagai media, pensil untuk membuat sketsa, kuas untuk memberikan efek pewarnaan tertentu pada Baligrafi dan beberapa alat lain untuk membantu berkarya.
Dikatakan Made Susila Putra, bahan yang digunakan dalam pembuatan karya seni Baligrafi seperti Cat acrelic.
Cat ini digunakan untuk membuat kesan transparan maupun plakat. Pada pewarnaan bentuk maupun background karya, beberapa cat ramuan merek lain bisa digunakan untuk memadukan efek ekspresi kesan hidupnya sebuah karya.
Pensil warna berfungsi untuk membuat sket maupun efek kombinasi utama dengan cat. Sifat pensil warna cukup banyak mengeluarkan gradasi warna merah, biru, sampai hijau. Pensil warna cukup unik untuk seni Baligrafi.
Ini dikarenakan pensil warna digunakan sebagai water colour. Jika pensil ini setelah di coret-coret pada media kertas maupun kain yang di sapu dengan kuas basah akan menimbulkan efek menjadi cat air. Pensil warna ini digunakan untuk pemberi aksen tertentu serta alat memindahkan sketsa ke bentuk-bentuk media lain.
Susila menyebut, kertas, kain, kanvas merupakan sebuah bahan sarana media ungkap untuk membentuk seni Baligrafi. Berbagai macam kertas yang bisa digunakan. Seperti kertas Concud, buffalo, japan, manila dan lain-lain.
Kain dengan berbagai serat yang tebal, cat tidak bisa menembus batas media bawah karya. Serta kanvas juga dengan segala ukuran dengan sifat serat padat, tebal dan persegi empat untuk mengurangi serapan air, untuk memunculkan efek kepadatan warna dan lain-lain.
Pentingnya teknik dalam Baligrafi berfungsi untuk memperkaya ekspresi serta menambah nilai artistik karya. Teknik yang relevan dalam baligrafi digunakan adalah teknik transparan, plakat, dusel, arsir serta lelehan.
Baligrafi merupakan konsep rasa yang sangat indah ketika kita memandangnya. Perakitan berbagai aksara memunculkan Sang Kalangwan.
“Rasa estetis yang sangat tinggi. Jika karya Baligrafi diikuti sebuah ritual agama akan berfungsi sakral, begitu sebaliknya jika dipakai hiasan atau tidak diikuti sarana ritual akan berfungsi seni,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika