Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ini Makna Purnama Kelima dalam Lontar Sundarigama

I Putu Mardika • Jumat, 7 November 2025 | 18:12 WIB

Akademisi Institut Mpu Kuturan, Nyoman Ariyoga
Akademisi Institut Mpu Kuturan, Nyoman Ariyoga
BALIEXPRESS.ID-Purnama Kalima baru saja berlalu pada Rabu (5/11). Bagi umat Hindu, Purnama adalah saat ketika cahaya bulan mencapai kesempurnaan, dalam pandangan Hindu Bali, inilah waktu ketika kekuatan Dewa Chandra memancarkan sinar penyucian ke seluruh jagat.

Dosen Pendidikan Agama Hindu, Institut Mpu Kuturan, Nyoman Ariyoga, M.Pd mengatakan pada momen purnama, umat Hindu diajak untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, menengok ke dalam diri, dan merasakan getaran kesucian yang menyertai setiap tarikan napas agar kembali menyatu dengan sumber cahaya sejati yaitu Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Dalam lontar Dharma Prawerti disebutkan, “Purnama sampun tan hana dosa, ring angga sarira kalepasan ring mala, yening sahananing manusa wruh ring pangruwatan.” Artinya, pada hari purnama, segala dosa lenyap dari tubuh bagi mereka yang memahami makna penyucian diri.

Ajaran ini menuntun umat untuk tidak sekadar melakukan ritual, tetapi juga menyucikan pikiran, perkataan, dan perbuatan.

Kesucian sejati tidak lahir dari dupa dan bunga, melainkan dari kesadaran bahwa hidup adalah kesempatan untuk memperbaiki diri dan memberi makna bagi sesama.

“Lontar Sundarigama menambahkan bahwa pada purnama kalima, manusia hendaknya melukat di segara atau sumber air suci, karena air adalah lambang kehidupan dan pembersihan jiwa,” sebutnya.

Disebutkan, “Ring purnama kalima, sami manusa ngarastiti bhakti, ring segara, ring tirta amerta, nirmala ring atma.”

Kalimat ini menegaskan bahwa bhakti bukan sekadar persembahan, melainkan perjalanan batin menuju kejernihan. Saat seseorang melukat di sagara/laut, ia sesungguhnya sedang memohon agar gelombang pikirannya menjadi tenang, seperti air yang memantulkan cahaya bulan tanpa riak.

Sementara itu, ajaran dalam Sarasamuscaya memperdalam makna spiritualnya pada petikan sloka 88, “Sarira madyam khalu dharma sadhanam,” yang berarti tubuh ini adalah sarana utama untuk melaksanakan dharma.

Purnama Kalima menjadi momentum bagi manusia untuk menghargai tubuh sebagai wadah suci, bukan sekadar alat pemuas keinginan.

Lanjut Ariyoga, dalam suasana suci Purnama Kalima, umat diharapkan mewujudkan melalui laku brata dan semadhi untuk mengendalikan diri, upawasa sebagai latihan kesederhanaan, tirtha yatra untuk membersihkan lahir dan batin, serta dana punia dan bhakti karma sebagai wujud kasih dan pengabdian.

Semua itu menjadikan Purnama Kalima bukan sekadar upacara, melainkan ruang batin tempat unat Hindu belajar meneguhkan dharmanya, menyucikan pikiran, dan menumbuhkan kasih yang menerangi kehidupan.

Pada akhirnya, Purnama Kalima adalah waktu bagi setiap umat Hindu untuk berdialog dengan dirinya sendiri, melepas beban masa lalu, dan membuka ruang bagi cahaya kebajikan. Sasana spiritual Hindu mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak ditemukan di luar, melainkan tumbuh dari hati yang bersih dan pikiran yang penuh kasih.

“Dalam terang bulan purnama, umat diajak untuk menanam benih kedamaian di dalam diri, agar kelak cahayanya tak hanya menerangi malam, tetapi juga kehidupan di sekitarnya,” tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Lontar Sundarigama #kelima #bali #hindu #penyucian #purnama