Pura ini begitu megah dengan sejumlah pelinggih di areal utama mandala yang baru saja dipugar dan dipelaspas pada tahun 2024 lalu. Bangunan candi kori agung dan candi bentar pura juga menunjukkan arsitektur khas Candi di Jawa Timur.
Romo Mangku Katemon, 60 selaku pemangku di Pura Tawangalun menyebut, bantuan pembangunan pemugaran pura berasal dari seorang donatur dari Bali. Selain itu, ada juga punia dari umat Hindu di Banyuwangi “Melaspas saat Purnama Kesanga, pada Maret Tahun 2024,” katanya.
Dijelaskan Romo Katemon, Pura Tawangalun pernah diterjang gelombang Tsunami pada tahun 1994. Meski tembok penyengker hingga candi bentar hancur, namun pelinggih Padmasana di pura ini masih kokoh berdiri.
Dikatakan Romo Katemon nama Tawangalun berasal dari kata Tawang yang artinya langit, bapa, akasa. Sedangkan kata Alun berarti ombak di Bumi, yang juga melambangkan seorang ibu. Jadi kata tawang alun adalah lambang kehidupan.
Penggunaan kata Tawangalun juga erat hubungannya dengan Pangelan Tawangalun Raja Blambangan. Ia diyakini berdarah Bali-Jawa. Raja Tawangalun memerintah sejak tahun 1652-1691.
“Raja Tawangalun sampai akhinya beliau mangkat (meninggal, Red) tetap setia menganut Hindu. Ketekunan beliau dalam menjalankan Yoga Semadhi inilah diyakini mampu mensejahterakan rakyatnya,” paparnya.
Seperti pura pada umumnya, Tawangalun memiliki konsep tri mandala, yakni nista mandala, madya mandala dan utama mandala. Pada areal utama mandala terdapat sejumlah pelinggih. Seperti Pelinggih Padmasana, Pelinggih Kanjeng Ratu Roro Kidul, Pelinggih Manik Maketel dan Pelinggih Baruna.
“Pelinggih Kanjeng Ratu Roro Kidul yang berwarna serba hijau ini ada karena posisi pura berada di tepi Pantai Selatan. Kami meyakini jika Kanjeng Ratu merupakan penguasa pantai Laut Selatan Jawa,” katanya.
Di Areal ini juga terdapat bangunan yang menyerupai wantilan. Dua pohon beringin besar juga terdapat di bagian Utama Mandala ini. Pohon beringin inilah yang kian membuat suasana semakin sejuk saat melakukan persembahyangan.
Sedangkan pada areal Madya mandala terdapat Bale Kulkul dan Bale Gong. Kemudian pada areal nista mandala terdapat areal parkir kendaraan bagi pemedek. Areal parkir di pura ini juga tergolong luas dengan kondisi lahan yang cukup datar.
Kepada Bali Express (Jawa Pos Group) Romo Katemon menceritakan jika keberadaan Pura Tawangalun memiliki sejarah panjang hingga menjadi seperti sekarang ini. Kata dia, sekitar tahun 1982-1983, Umat Hindu di Kecamatan Pesanggaran sebelum memiliki pura mereka kerap melasti di Pantai Pulau Merah.
Pada tahun 1984, adalah seorang dermawan bernama Komang Utamanaya. Ia merupakan seorang camat yang berasal dari Kabupaten Jembrana. Komang utamanaya kemudian mendanapuniakan lahan seluas 12,5 are kepada Parisada untuk membangun pura Tawangalun. “Tanah inilah yang sekarang menjadi areal utama mandala Pura Tawangalun,” kenangnya.
Setelah memiliki lahan, akhirnya pada tahun 1984 secara bertahap pura inipun dibangun meskipun masih sangat sederhana. Pada saat itu, hanya ada pelinggih Padmasan dan tembok penyengker maupun candi bentar.
Sayang, sepuluh tahun berselang, tepatnya Pada 3 Juli 1994 dini hari, Pura Tawangalun luluh lantak disapu Tsunami. Pada waktu itu semua bangunan pura hancur rata dengan tanah. Namun, uniknya justru pelinggih padmasana masih berdiri kokoh meskipun diterjang Tsunami.
“Beritanya terdengar juga sampai ke Bali. Ada padmasana masih berdiri kokoh setelah diterjang Tsunami. Nah, padma yang dulu itu sekarang sudah direstorasi dengan ukuran yang lebih besar dan tinggi,” kenangnya.
Pasca diterjang Tsunami, kabar rusaknya Pura Tawangalun juga menggugah hati para donatur untuk kembali memperbaiki. Proses perbaikan dilakukan pada tahun 1995 dengan dukungan punia dari umat Hindu yang peduli akan perbaikan pura Tawangalun.
Selain diperbaiki, areal Pura Tawangalun juga kian diperluas. Punia itu dating dari seorang Notaris asal Kreneng, Bali Bernama Bagus Alit. Ia mendonasikan lahan seluas 25 are, untuk perluasan pura.“Sekarang karena terus berkembang, areal ini total pura ini mencapai setengah hektar,” imbuhnya.
Menariknya, proses pembangunan pura pasca terkena Tsunami ini juga melibatkan arsitek dari Bali. Termasuk gambar pura dan desainnya berasal dari Bali. Sedangkan bahan baku dan tukangnya bangunannya digarap dari umat Hindu di kawasan itu.
Pujawali di Pura Tawangalun dilaksanakan bertepatan pada Purnama Sasih Kenem. Saat prosesi berlangsung, umat yang ada di dua kecamatan yakni Siliragung dan Pesanggaran ngayah untuk mensukseskan jalannya pujawali. Jumlahnya mencapai 2000 Kepala keluarga.
Romo Mangku Katemon menjelaskan, sarana yang pasti ada saat pujawali adalah Banten Ambengan. Banten ini merupakan sarana khas sesajen umat Hindu di Jawa. Selain itu ada pula banten yang sarananya seperti digunakan Umat Hindu di Bali pada umumnya.
Dikatakannya, pemedek yang nangkil tidak hanya dari Kawasan dua kecamatan itu. Pemedek juga ada yang berasal dari Surabaya, Malang, Bali hingga Jakarta. Tak hanya ramai saat pujawali, Ketika prosesi melasti jelang Hari Raya Nyepi, pura ini juga menjadi tempat upacara Melasti, khususnya di Kecamatan Siliragung dan Kecamatan Pesanggaran. (dik)
Editor : I Putu Mardika