BALINESE
BALIEXPRESS. ID- Fenomena bullying yang kian marak di lingkungan sosial, pendidikan, hingga dunia digital dinilai sebagai ancaman serius bagi keharmonisan hidup bermasyarakat. Bullying bahkan diibaratkan seperti bom waktu yang sewaktu-waktu dapat meledak dan menimbulkan dampak psikologis maupun sosial yang berkepanjangan.
Hal tersebut disampaikan oleh Ni Luh Sri Kusuma Dewi, S.Fil, Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Klungkung. Ia menjelaskan bahwa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bullying atau perundungan diartikan sebagai tindakan mengganggu, mengusik secara terus-menerus, dan menyusahkan orang lain. Perilaku ini, menurutnya, bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan ajaran agama.
“Bullying bukan sekadar candaan atau kritik biasa. Jika dibiarkan, dampaknya bisa sangat merusak mental, harga diri, bahkan masa depan seseorang,” tegasnya.
Dalam ajaran Hindu, pencegahan bullying telah lama diajarkan melalui berbagai kisah suci. Salah satunya adalah akhir kisah Raja Sisupala dalam Epos Mahabharata, tepatnya pada bagian Sabha Parwa. Sisupala digambarkan sebagai sosok raja yang sombong, penuh kebencian, dan gemar merendahkan orang lain, termasuk Sri Krisna yang merupakan saudaranya sendiri.
Tanpa rasa hormat dan penyesalan, Sisupala berulang kali menghina dan mempermalukan Krisna di hadapan para raja. Namun, Krisna tetap menunjukkan kesabaran hingga batas kesalahan Sisupala terlampaui. Akhirnya, cakra Sudarsana menghentikan keangkuhan Sisupala untuk selamanya.
“Kisah ini menjadi pengingat bahwa sikap merendahkan dan menyakiti orang lain, jika terus dilakukan, akan berbuah konsekuensi yang berat,” jelas Ni Luh Sri Kusuma Dewi.
Lebih lanjut, ia mengutip Kitab Sarasamuccaya sloka 152 yang menegaskan nilai luhur penghormatan terhadap kehidupan, tidak ada yang lebih berharga dari hidup. Oleh karena itu, manusia hendaknya memperlakukan orang lain sebagaimana ia memperlakukan dirinya sendiri.
Ajaran ini menekankan bahwa setiap makhluk memiliki nilai hidup yang sama dan suci. Dengan kesadaran tersebut, manusia diajak untuk menumbuhkan empati, berpikir sebelum bertindak, serta menghindari perbuatan yang menyakiti sesama.
“Jika kita benar-benar memahami bahwa hidup adalah anugerah paling berharga, maka tidak ada ruang bagi bullying. Yang ada adalah kasih, welas asih, dan dharma dalam setiap interaksi sosial,” pungkasnya.*
Editor : Putu Agus Adegrantika